Dialog Kamar Mandi

Jauhari Zailani
http://www.lampungpost.com/

Malam itu dia terbangun oleh berisik orang berdiskusi. Begitu dekat suara orang ngobrol, ada lalu lintas pendapat. Kesadarannya menyangkal, tak masuk akal orang ngobrol di kamar mandi. Ini jelas kamar mandi pribadi, kamar mandi yang menyatu dengan kamar tidurnya. Tidak ada yang memakai kamar mandi ini selain dia. Tentu untuk mandi dan hajat yang lain. Bukan untuk diskusi. Apalagi tengah malam. Barangkali ada tamu di rumah tetangga, pikirnya. Atau mereka sedang nonton bola. Sudahlah tak mungkin ada orang ngobrol di kamar mandi. Dia berusaha melupakan dan tidur lagi, lelap lagi.

Tapi ketika dia terbangun lagi, dia nikmati saja.

“Sudah berulang kali aku katakan kepada kalian, akulah si Air, yang paling berjasa pada dia. Sejak kecil, siapa yang menyegarkan ketika dia mandi, siapa yang membersihkan usai bertinja, bahkan sekadar mainan air, cuci kaki atau raup muka,” kata si Air dengan suara berat.

Menyusul suara lain yang serak, suara Kloset, “Apakah Tuan Air lupa ketika dia tergopoh-gopoh ke sini dan menumpahkan isi perutnya….”

Tetapi sang Air dengan garang memotong Kloset sebelum selesaikan wicara. “Sudah kau dengar, mestinya kau belajar dari kehidupan. Air adalah sumber kehidupan. Tanpa aku, tak ada kehidupan. Bisakah dia hidup tanpa air. Bahkan dalam dirinya pun air. Kau Kloset! Bayangkanlah dirimu tanpa aku, Kloset tanpa air. Huh”.

“Interupsi Bapak Air!” terdengar suara Dinding bertanya. “Apakah ruangan ini bisa disebut kamar mandi jika tanpa dinding penyekat? Jadi jelas, akulah yang memberikan rasa nyaman baginya untuk berlama-lama di sini….”

Sang Kaca ikut pula bicara, “Kalian lupakan aku. Padahal dia selalu rindu kepadaku. Tanpa kalian, dia kan datang ke sini. Melihat kerut dan seri wajah, melihat lubang gigi, menata rambut. Melalui aku, dia mengenali diri, mengagumi, dan mencaci dirinya.”

Melihat suasana dan suara bersahutan tak jelas arah, ada suara yang mengatasi semuanya. “Oke. Kalian semua memang hebat dan berjasa. Mari kita bergantian bicara. Satu bicara, yang lain mendengar. Oke? Ya ya… aku yang atur. Kesempatan pertama pada yang terhormat Tuan Air.”

Sang air langsung saja nyerocos lupa berterima kasih pada moderator. “Siapa di antara kita yang telah jelajahi seluk dan suluk dalam liku tubuhnya. Meski supersibuk, dia akan datang mengunjungi kamar mandi demi air. Dengan air, dia mengguyur tubuhnya sambil bernyanyi, bersiul, atau bersenandung. Kalian ingat itu, dia datang ke sini karena ada aku, air. Karena itu, ruang ini disebut kamar mandi. Adakah kamar mandi tanpa air, tanpa aku tak ada kamar mandi. Pendek kata, aku yang paling berjasa padanya. Kalian hanya omong kosong.”

Hening sejenak dalam ketegangan. Lalu suara moderator terdengar, “Silakan Tuan Kloset, Anda akan bicara apa. Ingat yang lain mendengar.”

Sejenak Kloset mengangkat wajah. Setelah berdehem sebentar, terdengar bicara. “Kalau Tuan Air bijak dan mau memperhatikan, dia acap begitu tergopoh-gopoh menduduki Kloset yang dina ini, lantas mengeluarkan isi perutnya. Perhatikan betapa dramatis wajahnya yang menegang dan sumringah setiap usai menghajat.”

Sang Kloset menarik napas sejenak dan melanjutkan. “Anehnya, meski telah tuntas berhajat, dia tetap saja berlama-lama bersinggasana di atas Kloset. Berkhayal. Ini yang membuatku berbeda dari kalian.”

Lama Kloset terdiam menunggu reaksi. Dan ia melanjutkan setelah dipersilakan moderator.

“Kalian pasti tahu, ketika dia membayangkan dirinya menjadi guru. Baginya, setiap diri adalah guru. Diri mestinya menjadi guru yang menghangatkan jiwa yang beku. Guru yang mencerahkan jiwa-jiwa muram. Guru yang memelihara cahaya kesucian nurani. Guru adalah guru kehidupan yang hidup dan menghidupkan jiwa-jiwa yang telah mati. Bukan sekadar guru kelas, melainkan guru kehidupan yang bisa membangun peradaban dengan perpustakaan yang menampung artefak kuno yang berserak dan langka. Perpustakaan adalah jawaban bagi suku bangsa yang gelisah-khawatirkan aksara dan bahasanya yang akan punah.”

Sang Kloset berhenti sejenak dan lanjutnya, “Perpustakaan tak hanya gedung dan deretan rak buku. Tetapi menjadi pusat budaya dan peradaban. Yang menyediakan jawaban bagi diri yang gelisah, ketika penguasa memobilisasi simbol-simbol yang remeh-temeh. Tanpa sadar tindakanya mereduksi makna budaya adiluhung yang dimilikinya. Toko dan pagar, televisi, dan radio menjadi propaganda simbol, bahasa, adat, dan seni masa lalu. Mengubur impian, ide, nilai, jiwa raga masyarakatnya. Bagi rujukan kini dan mendatang dalam mengatasi lemah diri dan kuatnya kehidupan di luar dirinya. Akan arif jika jiwa-jiwa bebas dari ruda paksa. Di sana penguasa akan panen kebahagiaan warganya. Jika budaya dipelihara dan dibangun atas nama dan dari kekuasaan acap serampangan dan tak bermakna. Karena sistem kekuasaan adalah produk budaya masyarakatnya yang lentur dalam ruang dan waktu. Apalagi jika kekuasaan dipakai untuk membesarkan yang satu dan mengecilkan lian.”

Suara Kloset meski lembut, yang lain tertunduk saja. Seolah menunggu fatwa Kloset. Disusul Sang Kaca bicara pelan seolah pada diri sendiri.

“Memang manusia harus membaca. Begitulah titah Tuhan. Karena itu, perpustakaan tidak sekadar kumpulan buku, tetapi wadah pengetahuan dan memori kolektif warga masyarakatnya. Dari perpustakaanya itu, dia mengajak manusia menjadi pembaca diri setiap diri dan masyarakatnya. Menurut dia, diri dan lian adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Masyarakat adalah jalinan diri dan diri yang berinteraksi. Nilai, norma, adat, dan peradaban menjadi ada karena ada diri yang tunggal dan diri yang jamak. Masyarakat adalah kaca benggala bagi diri yang tunggal. Nah, ingat kaca….”

Sang Kaca berhenti ketika sang Kloset kembali berujar, “Penguasa yang hanya memikirkan panggung bagi kehidupan diri dan keluarganya, adalah petaka bagi diri-diri yang lain. Karena manusia menjadi lalai pada jati dirinya dan abaikan lian-lian. Karena itu ia bisa alpa pada batas dirinya. Meski sadar akan ajal, bukan untuk tawadu, tetapi untuk menyiapkan anak dan keluarganya dalam memperpanjang asa. Anehnya cerita ini muncul dari setiap episode kehidupan suatu kaum. Tetapi manusia mengabaikan hukum alam ini, dan ingin tetap berkuasa. Laku seperti ini yang membuat dunia ini tak lagi normal. Jungkir balik norma dan nilai.”

Terdengar suara batuk dan menguap. Lalu senyap.

Dia lelah menunggu lanjutan. Tapi, malam tetap sunyi. Tangannya memeluk guling. Badan bergolek ke arah istrinya yang lelap di sisinya, tanpa dosa. Hidungnya mencium bau khas sang istri. Dia pandangi istrinya yang mendengkur lirih, napasnya teratur, wajahnya teduh dan damai. Memang mulai menua, tetapi menentramkan. Malam hening. Kamar lima kali tujuh meter terasa lapang. Perabotan kamar yang padan dengan warna horden dan cat dinding, kian nyaman dengan temaram cahaya lampu tidur. Detak detik suara jarum jam dinding. Suara berdesis dari mesin pendingin kamar. Tak tik tuk bunyi tetes air bersahutan. Tetesan air di kamar mandi, gemericik air di kolam. Angin menggoyang daun, serentak ikan pun berkecipak. Melengkapi malam terdengar penjaga malam memukul tiang listrik. Lolongan anjing menambah lekatnya malam.

Dalam hening malam, suara-suara itu menjadi jelas dan bermakna. Suara buntut cicak menggebah nyamuk pun terdengar begitu gemuruh. Semua tampak jelas malam ini. Dia menikmati ritme alam malam ini, membius, dan mengusik jiwa. Ada kesadaran, kehidupan disusun dari hal-hal yang kecil, rutin, kadang terabaikan. Sunyi senyap adalah kehidupan lain dari hiruk pikuk. Terpujilah yang melengkapi diri raga dan jiwa ini sistem ngantuk dari terjaga, sistem terjaga dari tidur. Betapa lelahnya bila siang tetap siang. Betapa muramnya bila malam tetap malam, dan dia lelap dalam damai di samping istrinya.

Dia takjub pada sistem diskusi yang beradab. Ketika air bicara, yang lain diam. Ketika Kloset hendak interupsi, dimulai dengan deheman. Mendengar celoteh si Kloset, sang air yang jumawa pun diam. Sang Kloset meneruskan lagi.

“Tahukah kalian, dalam lamunannya, dia menginginkan mobil buku sebagai ujung tombak perpustakaannya. Dengan mobil buku, dia berkeliling melayani anak-anak dari SD ke SD, dari SMP ke SMP, dari RT ke RT, dari gang ke gang, dari kampung ke kampung. Cukup sepuluh armada bagi kehidupan, yang menampung, melayani, dan memfasilitasi gairah manusia membaca kehidupan. Kehidupan dari arah angin, sumber, hari, dan masa yang berbeda. Perpustakaan kehidupan yang aktif, menerangi, dan mencerahkan warga kota.

Dari perpustakaanya dia mengajak manusia bercerita. Setiap diri ilmuwan sejati. Ilmu tak harus lahir dari menara gading, bisa juga atau semestinya lahir dari menara air yang menghisap air dari bumi, dan menampungnya di menara air, lantas mengalirkanya bagi kehidupan sang bumi dan yang ada diatasnya. Di samping itu, menulis dan berkarya bisa dipastikan untuk kebanggaan dan kebahagiaan dirinya. Untuk menularkanya kepada murid-murid kehidupan. Karena setiap diri adalah guru dan sekaligus murid.”

Sang Kloset pun menutup ceritanya dengan menggebu, “Dalam benaknya, perpustakaan adalah peradaban dan sumber peradaban bagi masyarakatnya di masa lalu, kini, dan mendatang. Jangan lupakan itu. Di sana manusia pamerkan jiwa dan pembangkit jiwa-jiwa yang kering dan layu membeku. Betapa pun cerdasnya dan bahagianya, hanya bisa lamunkan hadirnya perpustakaan yang prestisius di kota ini, dan dia melamunkanya hanya di Kloset. Karena Kloset tak pernah mencibir.”

Dari tempat tidurnya, dia mendengar suara-suara mendesah, suara-suara merendah. Tak ada makian, tak ada yang mangaku paling hebat dan paling berjasa bagi hidup dan kehidupan. Entah suara siapa yang menyeruak dari kamar mandi, “Janganlah salahkan aku, dirimu dan diri yang lain. Gagal memahami kehidupan mestinya musibah. Memang dunia ini hanya pentas, ritual bagi kehidupan manusia. Kita adalah sisi-sisi dari koin-koin kehidupan sekaligus menjadi ikon kehidupan. Keduanya saling mengisi dan melengkapi. Tidak ada Aku, tanpa Daku. Kita seperti ikan dan air. Kamar mandi adalah air, kloset, dinding, dan kaca benggala. Bukankah memahami diri berarti memahami lain? Dengan menyelamatkan diri aku dan daku, selamat puisi dunia. Dunia kecil, dunia mikro-mikro menjadi makro. Dunia kita, kehidupan kita.”

Lalu, malam ini, dia harus tidur. Matanya terpejam. Zikirnya mengiringi desis napas sang istri. Bibir mengiringi hati berzikir tak terhitung, dan memang tak dihitung. Ingat kehidupan dan kematian adalah zikir. Sadar bangun dan tidur tidak otomatis adalah zikir kehidupan. Menghitung nikmat yang terbawa ke mana pun dirinya berada. Bisakah manusia menghitung, bisakah membalas. Untung tak harus menghitung, untung tak harus membalas.

Tapi berapa orang yang menghitung nikmatnya tidur. Tapi, malam ini Dia belum tidur juga. Nyeri dada memaksanya miringkan badannya membelakangi istrinya. Malam ini, kalau istrinya masih terjaga pasti akan menggamitnya, mulutnya seraya mengeluarkan rengekan dan omelan. Tetapi malam ini, dia terlelap tanpa mendengar omelan kekasihnya.

Pagi ini dia bangun lunglai. Lelah mendengarkan diskusi kamar mandi yang menggoncangkan jiwa. Suara yang bersahutan itu memang berlainan, tapi dari kerongkongan yang sama. Seperti menceritakan lain, sesungguhnya menelanjangi dirinya sendiri. Bukan dialog tapi monolog. Tapi tunggu dulu. Dalam picing dan pejam mata bangun pagi, dia teringat setiap di depan cermin dan berceloteh, “Wahai kau yang di balik cermin. Kau memang pecundang. Dasar manusia cengeng. Penggerutu pula. Hehhhh, sebel! Baru bisa begitu, sudah merasa berjasa. Dasar!”

Suara braakk membawanya ke kamar mandi. Setengah pejam mata, ia melangkah. Kaca retak membentuk rumah serangga. Ditelusurinya satu demi satu ruas kaca, dirangkainya keping demi keping, membentuk wajah yang tak asing baginya. Wajah yang setiap hari dilihatnya di cermin. Ya, itulah wajahnya, wajah yang retak.

Bandung, akhir April 2011