Dibuai Mimpi, Berbuah Gaya

Ramadhan Batubara
http://www.hariansumutpos.com/

Berbicara soal keluarga seperti tak ada habisnya. Seperti debu di kursi, meski sudah dibersihkan, tetap saja akan menempel lagi. Ya, dia terus hadir tanpa permisi dan tanpa diminta.

Memang begitulah, kehidupan berkeluarga, meski sudah dikatakan menjadi satu oleh penghulu, tetap saja terdiri dari dua kepala kan? Dua kepala ini pun ternyata dilatarbelakangi oleh sekian banyak kepala lainnya; baik dari pihak orangtua, saudara sekakek, dan sebagainya. Bisa bayangkan bagaimana untuk memenej itu semua?

Ah, sudahlah, keluarga tetap saja keluarga meski apa yang terjadi. Pun ketika belum lama ini istri saya membawa kabar yang membuat dahi saya berkerut. Dia katakan dia baru saja mendaftar untuk bergabung dengan tetangga dalam program jula-jula. Fiuh!

“Nanti kan Bang, kalau kita narik, kita bisa beli kulkas dua pintu,” katanya dengan semangat.Terus terang saya habis kata begitu mendengar kalimatnya tadi. Entahlah, seumur hidup saya memang kurang setuju dengan jula-jula, arisan, atau apapun istilahnya. Pasalnya, saya merasa hal itu tak lebih sekadar mimpi.

Istilahnya, uang belum di tangan, tapi pikiran sudah melayang. Kasarnya, uang belum juga dapat, tapi rencana untuk membeli sekian barang langsung didengungkan. Akhirnya, hari-hari pun terbuai mimpi. Ujung-ujungnya, mereka yang bermain jula-jula lebih berani mengutang. Ya, bukankah dia punya uang yang sedang berputar. Dengan mengatakan akan narik jula-jula dua bulan lagi, sang pemberi utang kan langsung percaya.

Dan, pikiran saya ini langsung terbukti. Selang seminggu, istri saya memberikan kalimat yang membuat saya melotot.”Begini Bang, kan dua bulan lagi kita narik jula-jula. Nah, kita ngutang ke Mak Diur dulu ya. Ada kulkas dua pintu yang murah di toko sana…,” begitu katanya.

Bah! Saya jadi teringat cerita usang, tentang dua orang yang sedang mengkhayal mendapatkan uang banyak. Mereka pun membagi dua uang tersebut. Orang pertama langsung membeli ladang sedangkan orang kedua membeli kambing. Eh, setelah itu dua orang itu marah berkelahi. Orang pertama menuduh kambing orang kedua telah merusak ladangnya. Akh, bukankah uang, ladang, dan kambing itu masih sebatas khayalan?
“Bang, nanti kalau sudah narik, langsung kita bayar utang ke Mak Diur. Boleh ya, Bang,” sambung istri saya lagi.

Sudahlah, terlalu repot kalau mengikuti kemauan istri. Langsung saja saya katakan untuk membatalkan pikirannya itu sebelum menjadi kronis. Dia pergi ke kamar, bersungut. Saya tak peduli. Ini soal prinsip.

Setelah kepergiannya itu saya berpikir, ada apa dengan jula-jula. Maksud saya, bukan masalah setuju atau tidak setuju, tapi lebih mengarah pada efeknya. Bagaimana mungkin istri saya yang pintar itu bisa gelap mata dengan uang yang belum juga diterimanya?

Seperti janji, ya, seperti janji. Coba bayangkan ketika seorang bocah dijanjikan akan dibelikan permen oleh orangtuanya. Nah, sang bocah akan pamer pada rekan-rekannya. Dia katakan kalau sebentar lagi akan dibelikan permen oleh orangtuanya. Dan, dia pun membusungkan dada. Bangga. Kenyataannya, permen itu belum juga terpegang. Ah, kasihan.

Tapi, bukankah istri saya bukan diberi janji muluk, tapi janji pasti karena sejatinya itu uang dia sendiri? Benar juga, tapi yakinkah uang itu akan utuh? Beberapa hari yang lalu seorang kawan dengan muka malas mendatangi saya.

Dia ingin meminjam uang untuk bayar kontrakan. Pengakuannya, uang itu sebenarnya sudah ada. Dia narik jula-jula. Sayangnya, jatah dia itu harus dipindah dulu dan digantikan bulan depan. Pasalnya, ada peserta jula-jula yang lain sedang kemalangan. Fiuh!

Kasus istri saya ini mirip juga dengan janji perusahaan kepada pegawainya. Seorang pegawai tentunya akan sangat berharap pada bonus yang dijanjikan pimpinan. Tentunya sang pegawai percaya dengan janji itu. Ayolah, ini pimpinan yang bicara; orang yang memang patut dipercayai. Tapi, haruskah sang pegawai membusungkan dada ketika dana itu belum juga diterima? Kalau tidak diterima juga bagaimana, apakah tidak berpengaruh pada kinerja?
Kembali ke soal jula-jula, yang akan diterima istri saya dua bulan ke depan. “Ya, sudah kalau tak boleh, tapi bulanannya Abang yang bayar!” teriak istri saya dari kamar.

Waduh, ini rumus dari mana? Bukankah dia ikut jula-jula tanpa permisi, kenapa pembayarannya malah didiskusikan. Sumpah, ini adalah sesuatu yang lucu. Pertanyaan saya lontarkan langsung padanya. Saya katakan, kalau saya izinkan dia mengutang untuk membeli kulkas, apakah iuran jula-jula saya juga yang bayar?

Dia tidak menjawab. Dia keluar kamar sambil tersenyum. “Jadi boleh aku ngutang ke Mak Diur?” godanya. Langsung saja saya masuk kamar, bersungut. Entahlah, jika seperti ini terus gaya hidup berkeluarga, bukankah lebih baik saya tidur. Ya, semoga saja saya bermimpi dan menjadi orang kaya yang tak harus terlena dengan mimpi, janji, dan tentu saja jula-jula agar bisa bergaya. Payah! (*)

27 Mei 2011