In memoriam, Ratna Indraswari Ibrahim

Yesi Devisa*

Ketika masih duduk di bangku sekolah, baik sekolah dasar hingga sekolah menengah, belum saya temukan nama pengarang asal malang tersebut. Saya baru diperkenalkan dengan tulisannya ketika Saya duduk di bangku kuliah. Tepatnya pada semester 4. Saya bertanya pada teman, apa mereka pernah membaca karya Ratna Indraswari sebelumnya? Jawaban mereka senada dengan Saya. Belum. Seiring berjalannya waktu hingga saat ini, baru saya sadari bahwa betapa pengarang yang begitu gigih menyuarakan kaumnya itu masih tidak dikenali oleh generasi muda.

Ratna Indraswari Ibrahim. Sebuah nama yang telah menjadi simbol, monumen nyata tentang perjuangan melalui cerita-cerita rekaan. Perempuan sempurna (setidaknya di mata Saya dan teman-teman), yang secara tidak langsung telah menjadi seorang guru serta motivator bagi generasi penulis setelahnya. Feminisme begitu hidup dalam setiap tulisannya. Perjuangan begitu kuat dalam setiap kata-kata yang digunakannya. Saya kira tidak ada lagi yang mampu saya tuliskan untuk menggambarkan kesempurnaan perempuan tersebut.

Tidak terasa, sudah lebih dari sebulan kita ditinggal olehnya. Mutiara dari Malang yang wafat pada tanggal 28 Maret kemarin terlalu banyak menyisakan kenangan. Terlebih pada setiap keluarga dan sahabat yang seringkali berikatan dengan beliau di berbagai kesempatan, di berbagai bentuk media, di berbagai suasana yang dibagi dalam kebersamaan. Rasa rindu teraduk dengan kehilangan pada sosok Mbak Ratna yang dirasakan tiap sahabat, pada akhirnya membuncah. Berwujud dalam satu kemasan yang diberi nama “In Memoriam Ratna Indraswari Ibrahim”. Acara yang dikemas begitu sederhana itu diselenggarakan tepat pada tanggal kelahiran Mbak Ratna kemarin malam, Minggu, 24 April 2011.

Dalam acara tak berkonsep itu, semua berjalan mengalir dan hanya membicarakan tentang Ratna Indraswari Ibrahim, karya dan kehidupannya. Mulai dari cerita para sahabat tentang kenangan mereka dengan Mbak Ratna dulu semasa beliau masih hidup, pembacaan puisi untuk Mbak Ratna, pembacaan karya-karya Mbak Ratna, persembahan lagu-lagu untuk Mbak Ratna, dan yang paling unik adalah persembahan sebuah komposisi “Pecinan” yang proses kelahirannya terinspirasi oleh novel Mbak Ratna yang Berjudul “Pecinan Kota Malang”. Komposisi yang dibuat oleh seorang sahabat bernama Mas Sugik tersebut terselesaikan 3 hari sebelum Mbak Ratna meninggal dunia. Melalui biola, suasana dapat terbungkus dalam kesunyian, mengenang utuh sosok Ratna Indraswari Ibrahim.

Suasana penuh emosional ditebar pada tiap-tiap persembahan dari para sahabat. Ada tangis haru karena rindu dan kehilangan, ada tawa ketika mengingat masa bahagia, ada marah karena merasa masih berhutang janji dan budi pada Beliau, serta perasaan yang lainnya. Semua tumpah ruah di rumah Alm. Ratna Indraswari Ibrahim. Semua larut.

Dari segala cerita, tidak terdengar cerita tentang kecacatan sikap hidup beliau. Mungkin ada yang dulunya tersakiti, namun sekarang rasa marah ataupun sakit hati itu sudah luluh karena kebaikan yang ditebar beliau lebih banyak daripada kejelekan. Akhirnya, hanya doa yang senantiasa kami iringkan untukmu, Mbak. Semoga Tuhan memberikan tempat terindah untukmu di sisi-Nya. Lewat seorang teman pula, motto hidupmu akan dikenang; Jujur Itu Mudah. Selamat jalan, Mbak Ratna. Selamat jalan, Mutiara.

*) Pegiat Pelangi Sastra Malang