Penyair, Kembalilah ke Akarmu

Triyanto Triwikromo, Langgeng Widodo
http://www.suaramerdeka.com/

”SETIAP seniman pasti memiliki akar,” kata Goenawan Mohamad, sesaat sebelum Diskusi dan Pembacaan Puisi 18 Penyair Jawa Tengah, di Teater Arena, Taman Budaya Surakarta, yang berlangsung 27-28 Desember, berakhir.

Budayawan gaek tersebut menyatakan premis indah itu bukan untuk penyair, tetapi untuk para penari. Dia juga tak mengatakan di Teater Arena, tetapi di kantin sederhana. ”Akar itu tak mungkin kalian hilangkan. Jadi, jangan terlalu asyik ke mana-mana. Kalau Anda penari, ya tengoklah tarimu. Jangan terlalu melibatkan ke hal-hal jauh yang berada di luar dirimu.”

Sayang sekali, para penyair (Jawa Tengah) tak mendengarkan nasihat itu. Karena itu, hanya sedikit penyair yang kembali memperhatikan akar atau ”tabiat kata”. Hanya sedikit penyair yang benar-benar bergaul dengan kata-kata. Mereka kebanyakan hanya bergaul dengan seolah-olah kata, sehingga yang muncul ke permukaan hanya seolah-olah puisi.

Simpulan semacam itu perlu dilontarkan karena pada saat diskusi berlangsung, forum justru mempertanyakan hal-hal yang berada di luar puisi. Ada yang membahas, mengapa para kurator tak melibatkan perempuan penyair. Ada yang mempersoalkan, mengapa mereka (Mukti Sutarman Espe, Haryono Soekiran, Roso Titie Sarkoro, Nurhidayat Poso, Triyanto Triwikromo, dan Yant Mujiyanto) tak berani memunculkan penyair-penyair baru.

”Kurator telah gagal!” kata penyair dari Yogyakarta, Bambang Widyatmoko.

”Tidak ada kurator yang gagal. Semua sudah sesuai order! Saya justru menemukan dua penyair baru,” bantah Yant Mujianto.

”Kurator tak peduli pada perempuan,” ujar penyair Al Badursyikin.

”Sampean yang sok peduli, tetapi melecehkan perempuan. Kalau memang tak ada, apa kita harus menyeret tubuh perempuan ke ruangan ini dan mendadani dia dengan baju kepenyairan. Itu lebih biadab,” teriak salah seorang kurator.

”Kita perlu menumbuhkan sastra lokal,” usul Mukti.

”Sastra lokal? Untuk apa? Bagaimana mungkin menumbuhkan sastra semacam itu pada zaman yang kian mengglobal ini,” sanggah Nurhidayat.

Tabiat Kata

Ya, ya, akhirnya forum nyaris tak menyentuh keajaiban nada, keindahan diksi, atau kemisteriusan makna sajak-sajak Jumari Hs, Hidayat Jasn, Rohadi Noor, Badruddin Emce, Teguh Trianton, Faisal Kamandobat, Suroto S Toto, ML Budi Agung, Dulrokhim, Apito Lahire, Al Badurasyikin, M Enthieh Mudakir, Timur Sinar Suprabana, Handry TM, Heru Mugiarso, Wijang Wharek Almauti, Giyato, dan Gunawan Tri Atmojo.

Sajak-sajak mereka memang menggema di Teater Arena yang malam itu diskenografi sebagai sebuah hutan lambang. Namun, sajak-sajak itu menguap begitu saja karena tak dibicarakan di dalam diskusi resmi atau dipercakapkan di warung-warung. Inilah akar persoalan kepenyairan kita. Para penyair bergaul dengan kata, tetapi tak mengenal tabiat kata. Meminjam ungkapan penyair Afrizal Malna, acara akhirnya hanya menjadi ”forum penyair tanpa puisi”.

Tentu tak semua penyair tidak mengerti perilaku atau tingkah kata. Ada juga yang lebih mengerti ketimbang para kuratornya. Malah, hampir semua kurator menyatakan, penyair Faisal Kamandobat benar-benar mengerti tulang sumsum kata. ”Karena itu puisi-puisinya indah. Benar-benar puisi,” kata Sosiawan Leak dalam sebuah percakapan di warung.

Apakah acara itu jadi tak memiliki arti sama sekali? Tentu saja ada. Pertunjukan Sound of Poems oleh Mac Baehaqi dan kawan-kawan, misalnya, kian menunjukkan kepada publik betapa musikalisasi puisi bisa memosisikan sajak ke titik agung. Ia bahkan sangat mungkin diorkestrakan. Pembacaan Timur yang riuh dan Wijang yang sunyi, atau Apito Lahire yang lucu, juga bisa menunjukkan betapa puisi tak hanya layak menghuni laci. Lebih dari itu, pendokumentasian dan penerbitan puisi 18 Penyair Jawa Tengah; Proses Kreatif dan Karyanya oleh Wijang dan kawan-kawan, telah menjadikan para penyair memiliki monumen. Meskipun hanya monumen puisi. Meskipun hanya monumen yang sunyi.

31 Desember 2005