Sastrawan Gelandangan

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

TERMIN sastrawan/penulis gelandangan dalam tulisan ini dilansir Linda Sarmili lihat, “Mencermati Halaman Sastra di Media Massa”, Suara Karya 23 April, hal ikonisasi membuat saya termangu. Apa memang ada termin semacam itu? Atau itu hanya ungkapan berlarat-larat gaya Melayu yang di satu sisi mendhaifkan diri sendiri, serta (sekaligus) paradoksal mengunggulkan si sastrawan mapan. Sebuah kontras, sekaligus konfrontasi, yang dipicu oleh semangat equalitas dari yang sama-sama suka makan nasi. Lantas apa memang ada keistimewaan yang harus digarisbawahi media massa?

Jawaban Linda Sarmili atas pertanyaan itu (sepertinya) sakralisasi yang dilengkapi dengan penempelakan halus, penghinaan tersirat dengan teks gugatan lewat retorika yang berbunyi: apa bukunya laku dijual, apa tulisannya itu kuasa membuat peningkatan oplah koran, dan apa kritikus merayakan buku dan tulisan lepasnya dengan oda kualitas. Dan di atas semua itu, Linda Sarmili masih percaya kalau nyawa koran itu penjualan eceran, dan bukan pelanggan versi cetak dan versi digital berbayar, serta iklan versi cetak dan iklan digital dalam tautan situs internet koran bersangkutan. Sebuah fakta kalau satu usaha pers selalu dibagi atas divisi redaksional dan divisi menajemen yang memuja eksplorasi dan eksploitasi ekonomi.

Di titik ini kualitas sebuah tulisan adalah kualitas tulisan itu sendiri, tidak ada kaitan apa-apa dengan level penulis gelandangan, penulis kontrak, penulis mapan, ataupun ronin (penulis lepas yang mengembara dari satu media cetak ke media cetak lain, agar setiap minggu ada tulisan dimuat dan jadi jaminan biaya hidup). Dengan kata lain, kreativitas akan membuat setiap karya berbeda, dan produktivitas memacu si sastrawan melakukan sebuah laku ketat quality control dan manajemen distribusi tulisan di Barat ketika kerja menulis telah jadi industri literasi tambahan itu diambil alih oleh editor serta publication agent. Kita masih melakukan semua pekerjaan itu, jadi tak heran kalau kita sering tidak punya kesadaran potensi literasi diri dan apa kebutuhan pasar (industri) literasi.

Tapi inti persolannya nyaris sama, ada resiko publikasi yang memaksa si sastrawan dan penulis membuat produk tulisan yang didistribusikan dan tak memusat di satu media massa cetak saja dan kehadiran yang terlalu sering membuat si penulisan gelandangan lain curiga dan suudhan dengan asumsi sangat tengik. Sekaligus kemapanan itu terkadang jadi kutukan: tulisan segera diperiksa redaktur dan seterusnya dimuat atau ditolak. Karena kualitas adalah kualitas bahkan sastrawan mapan terkadang bersilebihan dituntut untuk menciptakan tulisan yang tidak sekedar standar dan di atas yang mediocre. Jadi menjadi sastrawan/penulis mapan itu tak berkeuntungan semanis yang dibayangkan kalau hanya gitu-gitu doang ya bermakna kreativitas dan wawasannya sudah menthok. “Cuma seorang sastrawan di museum,” kata Budi Darma, “bekas sastrawan,” kata Iwan Simatupang.

Untuk kasus koran lokal Bogor yang merupakan anak perusahaan Jawa Pos Group, saya rasanya harus membuat catatan khusus. Radar Bogor itu, seperti koran-koran anak perusahaan Jawa Pos lainnya, merupakan suplemen daerah koran Jawa Pos sering menyebut dirinya Indo Pos, dan karenanya secara redaksional amat tergantung dari koran induk. Koran daerah itu boleh menerima iklan, dan memang iklan itu sasaran kehadirannya, tapi hanya bersihak mencari serta menerbitkan berita daerah lebih besar untuk daerah itu saja. Karena itu nyaris tidak punya rubrik opini dan sastra serta redaktur opini dan budaya mandiri, sehingga semua berita nasional, internasional, tajuk, opini, dan tulisan sastra menginduk ke koran pust. Normal menghemat.

Memang ada Radar yang mandiri, otonom, dan membuat kebijaksanaan opini serta sastra tersendiri tapi tergantung kesehatan dari koran bersangkutan. Ada level stamina finansial dan potensi penggalangan iklan tertentu, yang tak sama dari setiap daerah dan sering koran-koran daerah itu hanya suplemen KRGlembaran KRG daerah yang sangat tergantung dan menggantungkan diri kepada pasokan koran induk. Jadi meski kita memaksakan diri mengirim aneka tulisan fiksi, non-fiksi, dan opini, suplemen daerah serta si redaktur berita daerah tak terikat kewajiban untuk membaca dan memperhatikan “proposal” itu semuanya dipasok koran induk. Hemat bahkan dengan upah karyawan pers yang ada di level upah minimal. Kalaupun ia mau menerima itu kesantunan Melayu yang tidak bisa tegas mengatakan A untuk a. Terlebih kesehatan ekonomi serta ketahanan finansial mayoritas dari si koran-koran suplemen daerah di daerah itu bahkan berada di dalam kondisi “si kerakap di atas batu, hidup segan matipun tidak”. Dan memahami ihwal itu sejak awal merupakan sebuah kepekaan publikasi dan sekaligus kecerdasan managemen finansial dari distribusi tulisan meski tidak semua penulis memprioritaskan hal itu. Koran suplemen daerah itu hanya hadir untuk menampung berita daerah dan sekaligus teramat leluasa untuk bertindak eksploratif dan eksploitatif menggaruk semua potensi iklan daerah atau iklan yang dikhususkan untuk di daerah tersebut.

Dan memahami itu bermakna bijaksana mengembalikan keberadaan sastra di media massa itu sebagai sastra yang dikemas untuk memancing pembaca, demi memahami apa kualifikasi ekonomi dan intelektual pembaca, dan karenanya bisa cerdas merancang iklan yang pas untuk hari Sabtu dan Minggu dengan patokan segmen pembaca tetapnya. Itu hakekat dari sastra di media massa hari sastra yang menumpang hidup di media massa, yang dikelola oleh kesadaran neo liberalisme sang kapitalistik tulen. Kualitas atau tidak berkualitas tidak penting, yang pokok itu bagaimana produk itu dikemas dan manipulasi pemasaran dilakukan sehingga selera pasar terbentuk.

Dan bila tak bisa menciptakan produk yang meledak, ya menciptakan mitos media massa sehingga iklan menjadi sangat berkepentingan untuk ikut numpang beken. Persis seperti ledakan lips sync chaiyya Shah Rukh Khan yang bernyanyi secara lips sync ala Briptu Norman Camaru, yang melulu eksploitasi popularitas sesaat karena popularitas itu bisa diciptakan. Dan celakanya tidak ada popularitas sesaat yang instan manipulatif dalam sastra. Meski sastrawan satu buku, tujuh cerpen, delapan esei, dan tiga belas puisi amat banyak. Memang!***

30 April 2011