Si Loak

Budi P Hatees
http://suaramerdeka.com/

KAU dipanggil si Loak dan itu artinya sangat bodoh. Keluargamu, terutama ayahmu, memanggilmu seperti itu. Kalau panggilan itu sudah diteriakkan ayahmu, kau -dalam keadaan apa pun dan sedang melakukan apa pun- mendadak pucat dan tergopoh-gopoh menghampiri ayahmu. Kau begitu ketakutan.

Aku akan menghampirimu dan bertanya ada apa.

Kau tidak menggubrisku dan terus berlari.

Besoknya, kau tak akan ada di sekolah. Tak akan ada di mana-mana. Kau akan menghilang.

Pada saat kau tak ada, mereka -anak-anak yang selalu mengejek bekas sumbing bibirku yang sudah dijahit- akan menghampiriku.

Kalau kau ada, mereka tidak akan berani mendekatiku. Bahkan, untuk menatapku saja tidak berani. Mereka tahu saat kau tidak ada, saat yang mereka tunggu-tunggu. Mereka kemudian mengejekku, mengejek sumbingku, mengejek caraku berbicara. Aku merasa sangat ketakutan. Aku seperti berada di dalam sebuah lobang yang penuh ular berbisa. Mereka juga mengatakan tak akan ada orang yang suka padaku, karena tidak ada seorang pun yang mengerti ucapanku yang sengau. Mereka juga mengatakan bahwa kau pun tidak suka padaku, makanya kau menghilang.

Aku takut omongan mereka tentang dirimu benar. Aku takut kau tak menyukaiku. Aku takut kau menghilang karena tidak suka padaku. Aku takut banyak hal. Aku takut sendirian. Aku pun mencarimu. Tapi aku tak pernah bisa menemukanmu. Ke rumahmu, aku sangat takut. Aku takut pada ayahmu. Semua orang takut pada ayahmu. Ia, ah, aku tak akan menjelek-jelekkan ayahmu. Kau tahu maksudku, karena kau pun sangat takut pada ayahmu. Rasa takut yang membuatmu pucat seketika setiap kali mendengar ayahmu meneriakkan namamu. Teriakkan yang begitu melengking, lebih nyaring dari suara apa pun.

Mula-mula aku kira kau takut hanya pada suara ayahmu. Tapi, belakangan baru aku tahu, ternyata kau takut pada kebiasaan ayahmu melampiaskan semua amarahnya kepadamu. Aku baru tahu setelah pada suatu hari, tanpa sengaja saat kehilangan dirimu, aku menemukanmu di bawah pohon beringin di pinggir sungai. Kau duduk mencangkung pada salah satu akar pohon itu, menatap kosong ke permukaan air sungai yang berwarna cokelat. Kau sangat kaget ketika aku muncul. Saat itulah aku lihat darah kering di sudut bibirmu dan matamu lembab berwarna hitam kebiru-biruan.

“Apa yang terjadi padamu? Apa kau dipukuli anak-anak itu. Siapa yang melakukan semua ini?” Aku menyerbumu dengan sekian banyak pertanyaan. Aku khawatir sekali. Aku pegang tanganmu dan aku perhatikan seluruh tubuhmu untuk memastikan apakah kau mengalami luka lain di bagian lain.

“Sudahlah. Aku baik-baik saja,” katamu, lalu bangkit dan berdiri pada akar pohon.

“Tinggalkan aku di sini!”
“Siapa yang melakukan semua ini?” Aku tidak peduli kau mengusirku.

Kau marah, lalu membentakku, “Pergi kataku!” Suaramu begitu kencang. Aku ketakutan sekali. Aku mundur lalu berlari pulang. Sepanjang perjalanan ke rumah aku menjadi yakin omongan anak-anak itu bahwa kau tidak menyukaiku lagi. Aku ketakutan. Aku takut karena kehilangan teman. Aku tidak punya siapa pun selain kau.

Setiba di rumah, aku menangis meraung-raung. Ayah dan ibuku kaget, meskipun aku biasa pulang sambil menangis. Tapi, kebiasaan itu berhenti setelah kita sering bersama. Ibu langsung mendatangiku ke kamar. Dengan lembut ibu bertanya apa yang menimpaku. Aku tidak menjawab, tetap menangis. Ibuku membujuk, “Kenapa, Sayang, mereka menjahatimu lagi ya?” Suara Ibu berhenti, mungkin, menunggu jawabanku. Tapi aku hanya menangis, “Memang Borkat tak membela kau ya?” Ibu menyebut namamu. Aku tetap menangis.

Seharusnya aku bilang soal dirimu. Tapi aku hanya menangis. Aku terlalu ketakutan kehilangan dirimu. Dan, inilah kesalahanku yang paling fatal. Saat ibu berusaha menenangkanku, ternyata kau sedang di halaman rumah.

Entahlah, mungkin, kau merasa kasihan padaku setelah membentakku. Kau tahu aku sangat ketakutan kehilangan dirimu. Makanya, kau berusaha mengejarku untuk meminta maaf. Namun, begitu Ibu mendengar suaramu, Ibu langsung keluar untuk menemuimu. Aku masih menangis dan ketakutan kehilangan dirimu.

Ketika Ibu kembali lagi menghapiriku, Ibu bilang bahwa ia baru saja memarahimu dan menyuruhmu agar tidak menemuiku lagi. “Ibu tidak suka anak itu. Seharusnya Borkat menjagamu, tetapi ia malah ikut-ikutan menyakitimu. Ibu mengusirnya dan melarangnya menemuimu kapan pun.“

Aku bangkit dari tempat tidur dan berlari keluar untuk mengejarmu. Tapi kau tidak ada. Aku kembali meraung sambil masuk rumah. Aku tidak peduli teguran Ibu dan terus ke kamar. Aku mengunci diri di dalamnya.

Sejak itu, aku tak pernah lagi bertemu dirimu. Mereka, yang selalu mengejekku, mengatakan kau pergi karena tidak suka padaku.
Pergi jauh, jauh sekali….

***

KAU dipanggil si Loak dan itu artinya sangat bodoh. Aku tak tahu kenapa. Meskipun aku ingin tahu kenapa. Aku juga ingin tahu banyak hal tentang dirimu, karena kau mengingatkanku pada kawanku pada masa lalu. Ia juga dipanggil si Loak, terutama oleh keluarganya, meskipun ia tidak seperti namanya. Aku yakin kau pun tak seperti namamu.

Ketika kali pertama bertemu, saat kali pertama memasuki ruang kuliah, aku sudah mencurigai bahwa aku mengenalmu. Sepintas dari kejauhan, aku menangkap sosokmu, dan segera ingatanku kembali kepada kawanku pada masa lalu. Sekitar belasan tahun lalu. Dan saat kita berpapasan di pintu ruang kuliah, aku tersenyum padamu. Tapi kau tidak menggubris, bahkan tidak menganggap aku ada di hadapanmu.

Karena itu, aku menjadi paham bahwa kau bukan orang yang aku kenal. Kalian berdua hanya mirip. Hal seperti itu bisa saja terjadi.
Dua orang, yang tak ada hubungan apa pun antara satu dengan lainnya, memiliki kemiripan.

Beberapa menit kemudian, setelah mengambil tempat duduk, aku dengar seseorang berteriak: “Hei, Loak!“ Aku melihat kau mengangkat kepala. Orang yang berteriak itu tergelak. Kau menatapnya. Aku pernah melihat cara menatap seperti itu. Tatapan orang marah, tatapan kawanku pada masa lalu. Hanya menatap. Tapi, itu bukan akhir, karena setelah itu kawanku akan mencegat siapa pun yang memangilnya seperti itu di luar sekolah. Kalau kawanku mampu menghadapinya, ia akan menghajarnya dan tak memberi ampun. Kalau tidak mampu, ia akan melakukan apa saja untuk melampiaskan dendamnya. Dulu, kawanku itu, merubuhkan menghancurkan etalase sebuah toko kelontongnya hanya karena anak pemilik toko mengeroyoknya. Seluruh etalase itu hancur, dan kawanku itu melangkah meninggalkan toko dengan santai. Pemilik toko tak berani mengejar, karena mereka tahu siapa kawanku itu; anak seseorang yang sangat ditakuti.

Aku yakin kau juga akan melakukan hal serupa. Caramu menatap orang itu sangat aku kenal. Tatapan yang penuh dendam. Aku bisa menduga, sepulang kuliah, kau pasti akan mencegat orang itu. Dan, betul, kau memang mencegatnya di gerbang kampus. Begitu melihatnya, kau tarik kerah bajunya dan kau pukuli tanpa memberi kesempatan kepada orang itu untuk melawan. Kau baru berhenti ketika orang itu terkapar berlumuran darah.

Saat itulah, ketika kau pergi dengan santai dan terlihat sangat tenang, aku memanggil namamu. Kau tidak menoleh. Aku pikir karena kau tidak mendengar, lalu kupercepat langkahku untuk menjejeri langkahmu di koridor jalan raya. “Kau pasti Borkat,” tebakku.

“Siapa Borkat?!” nada suaramu tinggi.
“Ah, maaf. Aku salah orang,” kataku.

Kau pun diam sambil menatap ke ujung jalan. Kau sedang menunggu bus. Aku memerhatikanmu begitu seksama. Sungguh, kau mirip dengan kawanku. Kawan yang tak pernah kujumpai lagi sejak belasan tahun lalu, sejak orangtuaku memutuskan meninggalkan kampung itu dan pindah ke Kota Medan ini. Aku sangat kehilangan. Sejak itu pula, aku tahu, aku membutuhkanmu. Karena itulah, aku merasa harus dekat denganmu. Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi.

“Mau pulang ya?“ tanyaku, berusaha mengajakmu bicara.
“Apa itu penting?“ “Ketus sekali.“
“Apa itu penting.“
“Aku hanya ingin berteman.“
“Apa itu penting?“ Aku putuskan diam.

Tapi, sejak itu, entah bagaimana awalnya kita pun menjadi dekat. Di ruang kuliah kita sering duduk berdekatan. Meskipun tak bertegur sapa, tapi aku senang.

Dan ternyata, kau memang banyak persamaan dengan kawanku itu, bukan hanya soal nama panggilan itu. Kau pendiam dan, ini yang terpenting, kau sangat cerdas. Kau menguasai perkuliahan, acap berdebat dengan dosen. Tapi, ada satu hal yang sangat membedakanmu dari kawanku. Kau acap kulihat memegang kepalamu seperti menderita sesuatu. Tak jarang kau tiba-tiba mengeluh kesakitan. Kau tak pernah terlihat sehat. Tiap sebentar kau mengeluh sakit kepala. Secara mendadak, kau sering diserang oleh rasa sakit pada kepalamu. Kau mengibaratkan serangan itu seperti seribu jarum yang ditembakkan sekaligus ke dalam otakmu, lalu jarum-jarum itu masuk ke urat-urat darahmu, kemudian menusuki sel-sel otakmu.

Awalnya aku sangat takut ketika kali pertama melihatmu diserang oleh rasa sakit itu. Kita sedang di dalam kelas mengikuti perkuliahan. Ketika dosen yang bertubuh kecil dan terlihat tenggelam dalam stelan safari warna coklat susu yang dikenakannya itu menuliskan sesuatu di whiteboard, seluruh mahasiswa mendengarkan dengan seksama sehingga suasana kelas jadi hening. Pada saat itulah, kau yang duduk di sampingku tiba-tiba mengeluh oleh rasa sakit pada kepalamu, kemudian seluruh isi kelas riuh karena kau terjatuh dari kursimu.

Kau pingsan seketika. Aku rasa seluruh tubuhku pucat. Aku terkesiap. Aku baru tersentak setelah dosen mendekat dan memerintahkan mahasiswa lainnya untuk membaringkanmu di atas meja. Kuliah hari itu jadi kacau. Seluruh mahasiswa mengerubuki. Dosen marah-marah dan menyuruh para mahasiswa keluar. Aku diminta menunggu di dalam ruangan. Setelah tinggal aku, dosen, dan kau yang masih tergeletak, dosen itu berusaha melepas bajumu dan mengendurkan ikat pinggangmu. Aku melihat dosen sangat khawatir. Wajahnya pucat pias. Kau sendiri belum menunjukkan akan sadar. Aku bilang pada dosen agar membawamu ke rumah sakit. Dosen keluar kelas memanggil beberapa siswa. Kau pun digotong ke rumah sakit. Sejak kejadian itu, kita jadi akrab.

Sejak itu aku tahu ada sesuatu yang bersarang di otakmu. Kata dokter, ia semacam tumor, tetapi tidak terlalu membahayakan. Aku tak tahu bagaimana dokter bisa menyimpulkan “tidak terlalu membahayakan“. Kau sendiri tidak terlalu peduli dengan perkataan dokter.

Bagimu, kau baik-baik saja. Meskipun kau tidak pernah membantah ada sesuatu yang bersarang di kepalamu.

“Ia sudah ada di kepalaku sejak aku kecil. Sekali-sekali ia memberitahuku bahwa ia masih setia di dalam kepalaku,“ katamu.

Aku tak mengerti kenapa ada orang seperti dirimu, sama sekali tidak memiliki rasa khawatir atas penyakit yang menimpamu. Meskipun begitu, kau selalu saja mengeluh bila sakit kepala itu mulai menyerangmu. Kau memintaku menjaga agar saat pingsang kepalamu tidak membentur benda keras. Aku pun jadi waspada. Begitu kau mengeluh sakit kepala, aku langsung bersiap-siap.

Tapi tidak setiap saat serangan di kepalamu itu membuatmu pingsan. Kau akan tersenyum jika bisa mengatasi serangan itu tanpa pingsan. “Kau kawan yang baik,“ katamu.

Itulah kali pertama kau memujiku. Pujian itu juga menjadi pujian terakhir yang kauberikan.
Beberapa hari kemudian, kau kembali diserang oleh rasa sakit yang hebat pada kepalamu, teramat hebat. Aku tak ada di sampingmu. Serangan itu datang saat kau di dalam bus. Kau tak bisa mengendalikan diri dan terjatuh. Sebelum menyentuh lantai bus, kepalamu membentur bangku. Besok harinya, sebuah kertas yang ditempel di papan pengumuman kampus, menyebut bahwa kau telah meninggal karena serangan tumor otak. Dan aku tak pernah lagi bertemu denganmu. Aku kembali kehilangan dirimu.

***

“ORANG memanggilku si Loak,“ katamu setelah minta izin duduk di bangku kosong di depanku saat sedang menikmati menu di sebuah restoran di bilangan Jakarta Pusat. “Itu artinya sangat bodoh, tapi itu hanya nama. Sesungguhnya semua orang tahu kalau aku cerdas.“

Aku diam saja, hanya menatapmu. Nama itu, tentu, segera membawa ingatanku ke masa lalu.
Si Loak, ah, apakah semua laki-laki bernama sama? Ataukah Kalian memang orang yang sama. Aku yakin tidak. Secara fisik, kau lebih gemuk. Begitu percaya diri, menyunggingkan senyum sambil duduk di hadapanku. Beda betul dengan Si Loak sebelumnya. Mereka tidak perduli apa yang terjadi di lingkungannya, pendiam, dan pemurung. Sedang kau, terlihat begitu riang.

“Sejak kau masuk ke restoran ini, aku sudah curiga pernah mengenalmu,“ katamu.

Kau diam sambil menatapku seolah-olah ingin memastikan dugaanmu tentang diriku tidak keliru. “Tidak salah lagi, kau pasti Berlian,“ tebakmu. Kau menyebut namaku. Aku tersentak. Sungguh, ini mengejutkan. Aku tak pernah mengenalmu, kecuali nama yang kauperkenalkan. Aku menatapmu dalam-dalam. “Kau tahu namaku?“ tanyaku.

Kau pun tertawa. Satu hal yang tak pernah dilakukan si Loak yang pernah aku kenal.

“Kau tidak mengenaliku lagi, Berlian?“
“Mungkin kau salah orang,“ kataku. “Kebetulan saja nama kami sama.“
“Tidak. Aku tak pernah keliru. Kau…“
“Maaf, bekas jahitan di atas bibirmu itu, itu yang mengingatkanku padamu.“

Aku terkejut. Ia menangkap bekas itu meskipun orang lain tidak lagi melihat bekas jahitan operasi sumbingku.
Selepas aku kuliah, aku bekerja di sebuah perusahaan internasional yang bergerak di bidang telekomunikasi. Aku menjabat sebagai manajer komunikasi dan public relation. Pekerjaan itu memaksaku mengubah penampilan fisik, mengoperasi ulang bekas jahitan di bawah hidungku, dan memperbaiki caraku berbicara. Semua orang bilang aku lebih cantik, dewasa, dan sangat terpelajar.

“Kau tak bisa menutupinya dariku,“ katamu.
“Bagaimana kau bisa tahu.“
“Karena aku mengenalimu.“
“Aku tak mengenalimu sampai kau sebutkan namamu.“
“Kau mengenalku dengan nama si Loak, kau juga tahu namaku Borkat. Hanya kawan-kawan pada masa lalu yang memanggilku si Loak.“

Aku kaget. Jadi, sungguh, kau betul kawanku pada masa lalu. Tapi aku tidak percaya. Kau terlihat berbeda, jauh betul dari sosok si Loak yang aku kenal. Kau seolah bisa membaca pikiranku, lalu bercerita tentang anak-anak yang mengejek sumbingku. Kau bercerita semuanya. Kau bilang, mereka sering menanyaiku. “Mereka tinggal di Jakarta ini juga. Kami sering bertemu,“ katamu.

“Mereka?“ Mendadak semua kenangan itu muncul. Ceritamu betulbetul meyakinkan, karena hanya si Loak yang tahu cerita itu.
“Jadi, kau benar-benar Borkat?“ “Y a, kenapa?Apa aku berubah?“ Aku mengangguk. “Sangat berubah.Apa yang terjadi padamu?“ “Setiap orang harus berubah. Kau juga berubah.“

Aku tersenyum. Kau kembali tergelak. Kita pun cepat akrab. Kau mengungkit kenangan masa kecil. Berkali-kali kita tertawa bersama. Tapi, ketika aku bertanya bagaimana keluargamu, mendadak kau murung. “Kasihan ibuku,“ katamu, “Ia harus kehilangan aku.“

“Apa maksudmu?“
“Sejak ibumu mengusirku dari rumahmu, aku meninggalkan kampung. Kaulah satu-satunya orang yang dekat denganku. Orangtuaku sama sekali tidak menyukaiku, apalagi ayahku. Bagi mereka aku hanya anak bodoh yang menyusahkan. Semula aku kira karena memang aku bodoh, tapi belakangan aku tahu karena mereka memang tidak menginginkan kehadiranku. Mereka tidak menginginkanku lahir, dan kelahiranku membuat hubungan kasih di antara mereka jadi renggang.“

“Apa maksudmu?“
“Ibuku mengandung aku sebelum menikah. Karena ibuku hamil, mereka dipaksa menikah. Selama pernikahan itu, mereka menjadi paham kalau mereka memang tidak cocok menjadi suami istri. Setelah aku lahir, mereka mengabaikanku dan mengurus urusan masing-masing. Kau tahu, ayahku seorang bajingan, sama seperti ibuku. Tiap hari mereka melampiaskan kemarahan masing-masing dengan cara memukulku. Aku tak tahan dan memutuskan meninggalkan mereka.“

“Kenapa kau tidak pernah memberitahu soal ini?“ “Itu masa lalu. Aku sudah melupakan mereka.“
“Melupakan orang tuamu.“
“Bukan. Mereka tidak pantas jadi orangtua.“ Mendadak kau emosi, menatap tajam padaku.
“Mereka tak pantas jadi orangtua.“

Tiba-tiba kau tergelak. Suaramu begitu kencang. Orang-orang yang sedang menikmati menu restoran, menatap ke arah kita. Kau tidak peduli. Lalu kau diam seketika seolah-olah kau tidak pernah tertawa. Kemudian menantap tajam padaku.
“Kau tahu,“ katamu seperti menyuruhku menebak apa yang akan kau ceritakan. Aku menggeleng.

“Aku membunuh mereka.“

Mendadak aku pucat. Aku sandarkan punggungku ke kursi. Kembali kau tergelak.

Suara Merdeka: 26 Maret 2011