Tamu Terhormat

Budi Saputra
http://www.lampungpost.com/

KAMI hanya bisa mengurut dada, menautkan geraham, dan menahan geram berkepanjangan. Kami tak bisa berbuat banyak. Kami hanya dipandang sebagai anak yang tahunya hanya sekolah dan membantu-bantu pekerjaan rumah. Sejak mereka mendapat cucu perdana dalam waktu berdekatan, wuih, maka mulailah mereka melebarkan sayap pemameran. Mereka tak henti-hentinya berpetualangan dari satu rumah ke rumah yang lain.

Terlebih saat siang dan petang hari. O, tak tanggung-tanggung, rumah orang pun akan dianggap sebagai rumah sendiri. Dengan seorang cucu sebagai senjata andalan, tak salah memang jika pada akhirnya kami menggelari mereka sebagai tamu terhormat. Tamu yang nyelonong saja masuk rumah, tamu yang banyak bahan gosip, tips permasalahan keluarga, dan hal-hal sepele lain yang menurut kami sangat-sangatlah mengganggu untuk diletuskan di rumah kami.

Kami sesungguhnya telah sampaikan pada nenek, ayah, dan ibu tentang keberadaan tamu-tamu terhormat itu. Namun, semuanya menganggap kami tak toleransi, buruk sangka, dan segala macamnya (seperti membelanya). Dan akhir-akhirnya, kami pun hanya pasrah dan melihat saja segala yang terjadi di rumah. Gelak tawa, tangis balita, dan lantai yang basah karena kencing mewarnai rumah kami hampir tiap harinya. Tak jauh beda keadaan yang terjadi di rumah-rumah sebelah. Mereka sering nongkrong dengan ibu-ibu di sana, membanding-bandingkan cucu, dan membuat makanan bersama tentunya. Pernah suatu kali terjadi peristiwa menyedihkan di kelurahan kami ini. Di saat tengah marak-maraknya gelak tawa gosip, sungguh tak disangka, seorang bayi tanpa disadari menghilang begitu saja di hadapan para peserta. Semuanya jadi terdiam dan panik. “Mana Mira, mana Mira?” Dan semuanya berhamburan mencari di seisi rumah dan di luar rumah. Namun setelah lelah mencari sekitar 20 menit, hasilnya pun nihil. Baru empat jam kemudianlah orang dari kelurahan lain menemukan bayi itu dalam keadaan tak bernyawa di kali. Ternyata, bayi itu hanyut dibawa arus kali di depan rumah. Dan One Ilen, bersyukur sekali karena bayi yang hanyut itu bukan cucunya.

***

Kami sangat merasa tak nyaman saat melihat kedatangan Uwo Upik Tea. Saya dan Madi telah sepakat melakukan aksi diam saat itu (seperti sebelum-sebelumnya). “Jika ada nanya-nanya diam saja, Madi,” begitulah siasatku seperti biasanya. Bagaimana tidak. Ya, perlu diketahui dulu di sini, bahwa teras rumah kami ukurannya lumayan besar untuk bersantai-santai. Teras tanpa dinding dan dilengkapi kursi-kursi dan meja. Dengan demikian, pantaslah kiranya rumah kami kerap dijadikan ajang kunjungan tak punya etika. Apalagi dengan seringnya nenek duduk-duduk santai di sana. Sudah jelas, bahwa neneklah kerap dijadikan tujuan utama. Uwo Upik Tea akan menyelonong saja masuk dengan cucunya. Kemudian duduk, dan ujung-ujungnya terdengar jualah cakap yang tak menyamankan telinga.

“Kapan menikahnya dia, Tek? Di mana kerja calonnya?”

“Aduh, kenyang benar makan dengan gulai ikan siang tadi.”

“Ha, si temben ini telah tahu pula lagu India, Tek. Pintar ini besok. Anak siapakah ini?”

Huhh…, itulah di antara sekian banyak yang kami dengar. Sudahlah tak pernah baca salam, ia juga dengan bebasnya mengajak nenek berkelakar ke mana-mana tanpa memikirkan keadaan rumah sebelum naik seenaknya: sedang ada bertengkarkah, sedang buka auratkah, sedang ada tamu ayahkah, sedang ada urusan keluargakah, sedang ingin tak diganggukah, ia tak akan memperhatikan. Yang penting ia dapat menghibur cucunya itu dan menyebarkan info-info terbaru tentunya.

“Heh, gak ngomong-ngomong makan ya? Apa masakan ibu kau?” Uwo Upik Tea tiba-tiba saja nyelonong ke ruang makan dengan cucunya. Jelas saja saya diam dan cuek. Sungguh tak menyenangkan. Apalagi ia dengan entengnya mengambil gelas untuk minum dan mencocor sedikit kerupuk yang terletak di depan saya. Lebih tak menyenangkan lagi, ia juga melirik-lirik ke kamar kami saat tengah melangkah dari ruang makan.

Ya, selalu begitu. Maka sabarlah. Saya sabar dan Madi sabar. Sungguh tidak sampai di situ saja tingkah nyelonongnya Uwo Upik Tea. Seperti saat Madi tengah menonton sendirian di ruang tengah. Eh, tak tahunya saat hanya sebentar Madi pergi ke WC, Uwo Upiak Tea ternyata telah berada saja di ruang tengah menonton televisi dengan cucu dan ibunya cucu. Membuat kami hanya geleng-geleng kepala saat membahasnya beberapa jam kemudian.

***

“Cuci piring lagi, Rita! Jangan biarkan menumpuk.” Ibu menyuruh saya mencuci piring. Oh, saya mau tak mau harus mengerjakan suruhan ibu. Namun yang membuat saya sedikit tak senang tentu dengan piring sisa makannya Uwo Upik Tea dan cucunya. Ceritanya begini, saat itu ibu membuat bubur ketan. Nah, kebetulanlah Uwo Upik Tea menyelonong masuk ke rumah. Kali ini bukan lewat pintu depan, melainkan dari pintu belakang (ke dapur).

“Ndeh, masak bubur ibu kita ya. Hari lembap begini memang enak makan bubur. Bagilah kami sedikit tu!”

“Aman, dimakan bersama-sama nanti,” balas ibu.

Oh, itu cerita nyelonong kesekian kalinya. Tak terhitung oleh saya dan Madi. Saya tak habis pikir, kenapa ada ya orang yang bertingkah seperti itu. Seenaknya masuk rumah orang yang alasannya barangkali untuk ngerumpi atau santai-santai. Tidak saja satu orang seperti itu, tapi banyak. Yang tua-tua, anak-anak, dan remaja pun mengikuti apa yang diperbuat yang tua-tua. Kalau tak ngerumpi di rumah sendiri atau rumah orang, maka mereka melakukannya di lepau-lepau.

Lihatlah saat petang harinya. Hampir masing-masing rumah mengirimkan wakilnya duduk-duduk di lepau atau di beranda rumahnya yang terletak di tepi jalan raya. Dengan rambutnya tergerai habis mandi, bau yang harum bukan main, juga tak ketinggalan pakaian minim yang tergantung hanya beberapa senti dari kemaluannya, mereka itu seolah-olah unjuk gigi pada khalayak. Cuaahh…, kami tentu jijik sekali melihatnya. Lelaki yang lewat dengan berbagai kendaraan begitu sering meliriknya dan barangkali mengkhayal panjang tentang keindahan tubuhnya. Oh, di manakah rasa malu itu? Kami tak habis pikir. Kami telah berkali-kali mengalaminya, yaitu tentang ibu-ibu dan anak gadisnya yang berpakaian minim itu seenaknya ngerumpi dengan orang tua kami. Sampai-sampai kami pun berpikir bahwa keluarga kami dianggap enteng saja dengan orang-orang sekitar. Mungkin karena tak ada wibawa oleh nenek, ibu, dan ayah, maka begitulah akibatnya. Orang-orang menjadi seenaknya saja berbuat. Nyelonong dengan pakaian minim, mengambil tanpa izin buah-buah jambu di perkarangan rumah kami (mungkin dengan dalih tetangga), dan sering mencandai nenek, ibu, dan ayah dengan ocehan yang menurut kami sungguh perkataan sia-sia. Anak-anak mereka pun begitu, mudah saja mencandai orang tua kami. Dan parahnya, orang tua kami juga melayaninya.

“Berapa anaknya?” Seorang anak perempuan sepuluh tahun bertanya seenaknya pada ayah.

“Dua orang.” Ayah dengan santainya menjawab, ayah tak memperhatikan etika bertanya anak tetangga itu. Sebuah bukti, bahwa saat yang tua-tua membahas tentang pembicaraan mereka, maka yang kecil pun dengan mudahnya menyalin, dan pertumbuhan otaknya tentang dunia orang dewasa begitu cepat berkembang.

***

Kami tentu tak biarkan penganggap-entengan ini berlarut-larut. Ditambah sejak banyaknya ruko berdiri di sekitar rumah kami, membuat kami menjadi tak nyaman dengan keadaan yang demikian. Musik-musik keras yang berdebam dari dalam ruko yang dikontrakkan membuat konsentrasi kami belajar banyak terganggu. “Orang apalah ini. Apa masih punya otak?” Kami sering mengeluh demikian. Ya, ternyata banyak sekali tamu terhormat di kelurahan kami ini. Tidak saja tetangga dekat, pengontrak ruko pun berbuat seenaknya: membunyikan musik keras-keras hingga rumah-rumah di sekelilingnya pun seperti mendengar musik acara pesta yang sangat glamor.

“Ibu, kami tidak terima Uwo Upik Tea seenaknya saja masuk-masuk rumah. Dia tak ada etika dan seolah menganggap rumah orang-orang sini adalah miliknya juga.” Suatu hari kami protes pada ibu yang di saat itu juga ada nenek yang mendengar—protes yang tentunya telah berkali-kali. Namun, ibu dan nenek hanya menganggap enteng pernyataan kami. Seolah tak ada yang patut dipermasalahkan. Tidak saja tentang Uwo Upik Tea dengan cucunya, Tek Ros pun juga seperti itu. Mereka ini memang sering menggendong cucunya dan membawa sana-sini. Mereka berdua kadang juga pernah nyelonong ke rumah kami. Tak peduli azan berkumandang. Yang jelas, sesama partai tua akan berkumpul saat itu. Menceritakan cucu, anak, tanggal orang menikah, dan lain sebagainya.

Ya, dengan pemandangan demikian, ingin kami menghardik sekeras-kerasnya dan menumpahkan amarah kami. Tapi kami tak sanggup. Kami hanyalah si anak yang dianggap tak layak mencampuri urusan orang dewasa. Sehingga, hanyalah kekecewaan kami yang kian bertumpuk, dan hanya pernah sekali lurus menyemprot karena saking geramnya. Kejadiannya tak lain dan tak bukan yaitu di teras rumah kami.

“Heh, di mana Rustam? Ada Rustam?” Seorang lelaki yang berusia sangat jauh di bawah usia ayah, bertanya sesaat sampai di rumah kami. Ia tampaknya mencari ayah.

Mendapat perlakuan demikian, tentu saja kami yang saat itu tengah belajar hanya cuek saja. Wajahnya yang sangar sambil mengisap rokok, membuat kami tak simpati padanya. Lagi pula ia bertanya tak sopan.

“Woi tuli. Kalian dengar gak?” Astaga, ia menghardik kami. Ia mungkin kesal setelah lama menunggu jawaban kami.

“Woi tamu terhormat. Bisa gak sopan kepada kami?” Kami serempak menyemprotnya. Kami sama sekali tak takut jika ia menyakiti kami.

Mendengar ucapan demikian, ternyata lelaki itu tak bertindak seperti yang kami pikirkan, yaitu menyakiti dan memaki kami dengan nada keras. Ia hanya diam. Dan sesaat kemudian berlalu sambil mengucapkan nada kekecewaan seperti berbisik.

Huhh…, kami jengkel dan geram sekali dibuatnya. Memang dasar orang-orang tak punya etika!

Padang, 2011