Cincin dari Kota

Ganda Pekasih
http://www.lampungpost.com/

Sudah lama Boma ingin pulang ke kampungnya di Tanjungsari, tapi cincin yang asli belum terbeli, senyum emaknya ketika menerima cincin imitasi itu masih terbayang-bayang, terpancar hangat lewat binar mata tuanya yang semakin dikelilingi keriput.

Kabar tentang cincin imitasi itu kini membuatnya selalu bertanya-tanya, menyelusup di antara hujan, terik matahari, kawat berduri, sepatu lars tentara yang berbaris baris. Apa sekarang emak sudah tahu kalau cincin itu palsu?

Emak seorang janda tua yang bekerja di ladang milik orang orang kota yang menyewakan tanah-tanah mereka untuk digarap, ditanam cabai dan kacang tanah jika musim panas, melon dan semangka bila musim hujan. Emak tinggal di rumah gubuk sederhana, sebatang kara.

Mulanya Boma terenyuh melihat seorang perempuan tua di mal membeli cincin imitasi, tapi sialnya Boma jadi berpikir ada baiknya juga membelikan cincin imitasi itu untuk emak.

Sangat indah perhiasan-perhiasan yang ditata rapi di dalam etalasi kaca itu. Hanya ini yang bisa kuberikan untuk emak, pikirnya. Maka dia belikan emak sebuah cincin berkilau seberat sepuluh gram, warnanya sama seperti emas dua puluh empat karat yang banyak dipakai ibu-ibu Madura yang tinggal di dekat markas aktivis. Maafkan aku Mak, hari ini kubeli yang imitasi dulu, cuma seratus lima puluh ribu rupiah. Nanti kalau aku sudah jadi orang pasti kubelikan yang asli.

Kini dua tahun sudah sejak dia pulang membawa cincin imitasi itu, masih terbayang senyum bangga dan bahagia wajah emak, cincin itu langsung dipakainya.

***

Emak sedang asyik menyiangi tanaman jagung, tubuhnya tenggelam di dalam jajaran tanaman itu saat membungkuk. Orang-orang biasa memanggilnya Mak Endah. Bertahun-tahun dia mengambil upahan mengerjakan ladang-ladang milik orang kota, upahnya hanya cukup untuk makan sehari. Tak bisa untuk membetulkan dinding dan atap rumah yang semakin bocor, apalagi mengembalikan sawah dan ladang ladang yang sudah lama tergadai.

Dulu, ketika suaminya masih ada, mereka masih mempunyai tanah dan ladang yang bisa ditanami sendiri sesuka hati, Boma anaknya sekolah hingga SMP di Tanjungsari sebelum melanjutkan SMA ke Jakarta ikut pamannya yang berjualan sepatu buatan Bandung.

Lalu Boma jarang pulang, bisa dihitung dengan jari kedatangannya. Mak Endah ingat ketika Boma membawa pulang izajah SMA-nya beberapa tahun lalu, hasil keringatnya membantu pamannya, lalu berturut-turut dia pulang setahun sekali, lalu katanya dia kuliah di sebuah universitas swasta dan menjadi aktivis mahasiswa yang suka berdemo, kemudian tak terasa dua tahun lebih sudah dia tak pulang lagi, terakhir dia pulang membawa cincin emas sepuluh gram dua puluh empat karat.

Jika dia ingat ketika terakhir kedatangannya, Boma pulang dengan banyak bekas luka di tubuhnya, lebam-lebam biru menghitam yang membuatnya merinding melihat bekas luka luka itu.

Tapi si emak bersyukur Boma berbakat seperti bapaknya yg dulu pernah menjadi pesuruh kepala desa yang jujur, yang suka membantu kepentingan masyarakat tanpa pamrih.

Mak Endah tak memiliki apa yang dibanggakannya kecuali cincin pemberian Boma itu, cincin itu jarang dia pakai, kecuali jika ada pengajian dua minggu sekali di masjid ujung desa seberang, atau jika diundang bantu-bantu memasak orang yang hendak hajatan.

Atap dapur itu bocor semakin merata, air hujan menggenangi tempat tidurnya, hanya cincin itu satu-satunya yang bisa memperbaiki atap itu sebelum dinding-dinding lainnya tambah keropos. Inilah saatnya, pikir Si Emak, walau berat hati.

***

Di Pasar Kecamatan emak langsung masuk ke dalam Toko Emas Mulia Indah. Si pemilik toko segera menerima cincin itu, memperhatikannya sejenak kemudian memeriksa keasliannya dengan menggosokkannya ke batu asah. Bahkan hingga beberapa kali. Lalu beberapa saat sambil menatap wajah si emak dia berkata, “Maaf, Mak, ini bukan emas, ini imitasi.”

“Imitasi?” tanya emak tersentak.

“Iya, Mak.”

Si emak tak percaya, dia segera mencari toko emas yang lain, kebetulan di situ ada kantor pegadaian, si emak masuk dan berubah pikiran ingin menggadaikan saja cincin itu, si petugas rumah gadai menyuruh si emak mengisi formulir, si emak yang ragu meminta petugas itu memeriksa cincinnya terlebih dahulu.

Si petugas dengan ramah bersedia memeriksa cincin itu dan menyuruh si emak duduk menunggu, beberapa menit kemudian si emak dipanggil.

“Maaf Mak, setelah kami periksa cincin ini palsu, Mak, imitasi….”

Si emak mencoba tersenyum dalam pias wajahnya yang malu yang kini tak bisa dipertahankannya lagi, lalu dia menjawab pendek, “Terima kasih…Mak cuma merepotkan saja….”

“Tidak apa apa, Mak…”

Si emak berbalik, langkahnya gontai. Si Emak teringat Boma, pandangannya berkaca-kaca. Dia tidak marah pada Boma, dia malah bertambah kangen dengan anak semata wayangnya itu. Kalau Boma pulang nanti dia ingin sekali memeluknya erat, anak yang dia lahirkan di saat usianya sudah empat puluh tahun.

***

Di sebuah mal Boma sangat gembira memperhatikan cincin cincin emas di dalam etalase. Tapi yang ini bukan barang imitasi. Boma lalu membeli cincin dan kalung emas itu untuk si emak lalu berangkat ke Tanjungsari walau besok dia harus memimpin demo besar. Jabatan sebagai ketua aktivis baru saja didapatnya seminggu yang lalu, dua puluh juta rupiah cash ada di kantongnya hari ini untuk seratus orang yang harus dibayarkan segera sebagai jaminan ikut demo besok pagi.

Dalam demo besok Boma membela seorang pejabat yang akan diperiksa di kantor KPK, begitu perjanjiannya, tapi kini Boma sudah lelah, dia akan berhenti membela para pejabat pejabat brengsek itu. Pejabat itu merampok uang negara tak tanggung-tanggung, mereka lupa diri, serakah, dan tidak memikirkan kepentingan rakyat, dan kini apa salahnya aku merampok sebagian kecil saja dari mereka.

Dulu dia tak tahu untuk apa berdemo kecuali demi sesuap nasi menyambung hidup. Siapa yang membayarnya maka dia akan turun ke jalan. Ketuanya selalu bilang: “Kita berjuang untuk rakyat dan hati nurani.”

Hari ini dengan segala risiko Boma memilih mundur sebelum kabur ke Malaysia, dan demi cincin imitasi yang dulu dia beli yang ternyata tak pernah berhenti meneror batinnya, dia akan menggantikannya dengan yang asli.

Emak tak boleh menuduhku cuma seorang penipu, seorang pejuang rakyat tak boleh dituduh tak bersih apalagi oleh orang yang telah melahirkannya dengan susah payah. Dengan mantab Boma keluar dari mal itu lalu menelepon sopir mobil sewaannya yang menunggu di luar. Sejauh ini semua rencananya berjalan lancar.

Tak lama kemudian mobil datang, Boma cepat naik dan langsung menyuruh supirnya tancap gas. Boma tak sabar ingin segera berjumpa dengan emak dan mencium tangannya yang bercincin mas asli sepuluh gram berkadar dua puluh empat karat yang nanti akan dipakaikannya sendiri ke tangan emak lalu memohon maaf tentang cincin imitasi yang dulu dia berikan. Tapi Boma harus lolos lebih dulu dari kota ini karena anak buahnya sudah tahu soal pembayaran uang demo ini kemarin, dan mereka tak kenal rasa takut, bahkan rela mati jika tahu ternyata aku melarikannya sementara mereka sudah mengumpulkan kawan-kawan.

***

Nyaris senja menyungkup Tanjungsari menjelang si emak mengakhiri pekerjaannya ketika sebuah mobil diiringi seorang pengojek sepeda motor berhenti di tepi jalan, jantung Mak Endah berdebar-debar ketika seorang lelaki turun dari mobil mendekatinya dengan terburu-buru.

“Benar ini Mak Endah?” tanya lelaki yang membawa mobil itu.

Mak Endah mengangguk. Lelaki itu lalu mendekati pengojek sepeda motor, memberikannya uang lalu menyuruhnya pergi. Setelah pengojek pergi menjauh, lelaki itu kembali mendekati Mak Endah.

“Mak, ini ada titipan dari anak emak, Boma, mohon diterima. Tadi pagi dia bersama dengan saya, tapi di tengah jalan kami dihadang anak buahnya, terjadi perkelahian, dan Boma….”

“Kenapa Boma?”

“Ah, tidak apa-apa, Mak!”

“Cepat katakan!”

“Tidak apa apa, Mak. Ayo ambil ini, ini tugas saya untuk mengantarkannya kepada Emak, dan saya harus segera kembali ke Jakarta secepatnya!”

Si emak menerima titipan itu dengan perasaan tak menentu, lalu lelaki itu berlari cepat ke mobilnya dan tancap gas.

Mak Endah termangu-mangu dan serbaheran memandang kepergian mobil itu hingga lenyap di turunan bukit-bukit, tapi jantungnya berdebar tak keruan, lalu dia penasaran membuka bungkusan kertas plastik di tangannya, tampak kotak perhiasan yang cantik, segera dia buka kotak itu.

Mak Endah tercengang melihat cincin dan sebuah kalung bercahaya sangat indah di dalamnya, matanya nyaris tak berkedip, tapi mengingat cincin imitasi yang tak laku itu seketika hatinya pun patah tak percaya. Boma…, Boma…, ucapnya lirih. Permainan apa pula yang sedang jalankan anakku?

Baginya hanya ada satu pertanyaan mengganjal, di mana Boma? Dan apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia gagal pulang?

Sesungguhnya Mak Endah lebih bahagia melihat Boma pulang daripada mendapatkan cincin dan kalung yang membuatnya nanti akan kembali dibuat malu. Mak Endah lalu memasukkan benda-benda itu ke lubang tanaman bersama biji-biji jagung terakhir yang masih tersisa di tangannya. Kemudian ditimbunnya pelan-pelan dengan tanah galian lubang itu seperti lubang-lubang lainnya.

Angin yang bisu seperti biasa bertiup bersama gontai lelah kaki Mak Endah pulang ke gubuknya, dalam siraman cahaya senja yang merah merona berwarna rindu, dia hanya ingin Boma pulang, pulang tanpa lebam-lebam biru apalagi luka pada tubuhnya seperti dulu, cuma itu…

Lampost 12 Juni 2011