Dari Ruang Kesunyian Menuju Pesta Makna

Denny Mizhar *

Bagaimana sebuah hasil ciptaan ada? tentu saja lewat proses kreasi dari penciptanya. Sebuah lukisan, hasil kreasi dari pelukisnya, sebuah puisi hasil kreasi dari penyairnya yang memiliki sifat personal kekhasan. Proses penciptaan tak lahir begitu saja dari kreatornya, beragam jalan yang ditempuh: dari mamasuki jenjang studi, belajar otodidak dan lain sebagainya. sebuah pilihan atas jalan proses kreasi penciptaan.

Bukan hanya jalan proses penciptaan tetapi keresahan-keresahan yang timbul dari obyek estetiknya diperlukan penyubliman atau perenungan, sehingga nantinya dapat dihasilkan karya yang bermakna. selain itu, pandangan-pandangan atas diri penciptanya juga memberikan pengaruh pada hasil ciptaannya atau gagasan yang berada dalam karya ciptanya. Proses perenungan dari objek estetika yang saya maksud adalah keberadaan dalam ruang cipta kesunyian: diri dan ide-ide serta konsep-konsep yang akan diwujudkan. Tak beda dengan sekelompok mahasiswa yang memilih jalur studi seni rupa dan membuat sebuah pameran seni rupa yang diberi judul “Umbar Wacana: Periode Sang Penemu”. Jenjang proses melalui studi di Universitas Negeri Malang, Jurusan Seni dan Desain adalah pilihan proses bagi mereka. di antaranya nama-nama perupa tersebut adalah: Widhya Gupita, Novita, Dara, Firdaus, Shelly, Asrie, Cahya H, Yuda, Tiara, Dendi Novi, Abid, Tegar, Maria, Kandoeng, Lions, Arie, Dana, Yudi, Christian A.S, Agung Prabowo, Iwan, Arin, Teguh P, Fajar MU. Mereka semua sedang “berpesta” dalam memamerkan hasil ciptaannya yang didapat dari ruang cipta sunyi. Pemeran yang digelar di IDEA CIRCUITyang berada di daerah Madyopuro Sawojajar dan berlangsung pada tanggal 24 Mei 2011 hingga 28 Mei 2011. Rumah yang didesain menjadi galeri dan tempat event kesenian sederhana dipenuhi lukisan-lukisan yang beragam. Ada yang menonjolkan pada bentuk, konsep dan goresan. Pesta makna teks rupa tersaji untuk dinikmati.

Saya mencoba menikmati dan melakukan tafsiran atas beberapa lukisan yang sekilas terpandang oleh mata. Di bagian pojok, dengan sedikit menjorok serupa etalase lukisan berjudul “Jilbab” menarikku pada sebuah fenomena kekinian soal fashion. Karya Critian A.S tersebut membuat pertanyaan jika dikaitkan dengan judul dan visual dalam lukisan, judul “Jilbab” tetapi visual lukisan seorang wanita berjilbab tetapi terlihat BH dengan hidung yang memanjang. Maka pengalaman puitik saja terbawa pada jilbab yang kini hanya menjadi aksesoris semata, bukan menjadi perlambang kesholehan atau simbol agama yang memiliki makna kesucian. Simbol agama ditonjolkan tetapi prilaku tak seperti nilai-nilai agama yang dianutnya. Secara acak saya memandang sebuh lukisan yang berjudul “Pilih Satu” karya Abid, nampak sebuah pintu dan dua buah kunci. Judul dan visual lukisan menjadi isyarat utuh, bahwa jangan salah dalam memilih kunci sebab kalau salah tak bisa dibuka pintunya, ibaratnya hidup maka kita tak bisa memilih dua jalan sekaligus tetapi memilihnya satu: benar dan salah, dan setiap pilihan yang kita buat adalah jalan kita di hari nanti. Selain dua lukisan tersebut, saya sempat memandang lama sebuah lukisan yang berjudul “Eksisitensi” karya Shelly. Lukisan yang memvisualisasikan timbangan yang berbandul laki-laki dan perempuan, tetapi anehnya kenapa timbangan tersebut tak imbang antara laki-laki dan perempuan, lebih berat laki-laki dari pada permpuan. Dalam benak saya muncul sebuah pertanyaan tentang relasi laki-laki dan perempuan, bahwa selama ini dominasi laki-laki terhadap perempuan menjadikan perempuan tak berdaya. Sehingga, walaupun masih berat laki-laki atau pilihan dunia ini tertuju pada laki-laki, perempuan tak harus selalu kalah tetapi butuh eksistensi juga. Masih banyak lagi, yang menarik untuk dilihat.

Pameran seni rupa (lukis) tersebut adalah studi mata kuliah seni lukis invensi. Tidak hanya lukisan saja yang ikut serta dalam pesta tersebut, ada diskusi, pembacaan puisi, musik pada saat pembukaan. Acara yang digelar selama lima hari sebagai ajang berlatih memamerkan karyanya semoga tidak hanya berhenti sampai pada tugas mata kuliah, tetapi keberlangsungan proses dan penciptaan adalah lebih penting. Sehingga nantinya, karya ciptaan dapat menyapa masyarakat secara luas juga memberi sumbangsih pada wacana-wacana seni lukis yang beguna bagi penikmatnya. Hingga penutupan yang meriah dengan mengandeng Pelangi Satra Malang untuk turut serta dalam pesta yang diberi nama “Geliat Kata dalam Puisi Bersama Pelangi Sastra Malang” menambah meriah penutupan yang digelar pada tanggal 28 Mei 2011. Beberapa sastrawan turut membacakan puisi-puisinya, bukan hanya puisi yang manyapa, lantunan musik balada dari kelompok musik SWARA akustik juga turut menyumbang karya lagunya, Musisi Charles, sekolompok perkusi, dan juga lainnya menambah meriah pesta penutupan pameran seni rupa tersebut. Acara pun berkahir, kembali lagi pada kesunyian, mencipta lagi dan berpesta lagi adalah harapan penciptaan. Ibarat seorang perempuan melahirkan, bersabar menunggu kurang lebih sembilan bulan untuk melahirkan sang jabang bayi. Setelah lahir ada kepuasan dan kewajiban merawat agar sang jabang bayi nantinya menjadi buah hati yang diidamkan baik keluarga ataupun masyarakatnya.

* Pegiat Pelangi Sastra Malang dan Anggota Teater Sampar Indonesia-Malang