Dinamika Sosial-Ritual dalam Kehidupan

Darojat Gustian Syafaat
http://www.lampungpost.com/

Kita telah berada di pertengahan bulan Rajab, dan beberapa hari ke depan umat Islam akan memperingati sebuah peristiwa yang sangat agung dan fenomenal, yaitu Isra Mikraj yang selalu dirayakan setiap tanggal 27 Rajab. Segenap kaum muslimin telah bersepakat dan menerima kebenaran dari Isra Mikraj sebagai peristiwa yang sangat besar nan agung, karena tiada seorang nabi dan rasul yang diberi kehormatan oleh Allah swt. untuk melaksanakannya, hanya Nabi Muhammad saw. sajalah yang diberikan anugerah itu.

Fenomena Isra Mikraj yang terjadi 14 abad yang lalu merupakan sebuah mukjizat beliau yang sungguh besar, sungguh ajaib, serta mengagumkan sesudah mukjizat beliau berupa kitab suci Alquran. Kejadian itu masih merupakan misteri sampai sekarang, yang belum bisa terungkap tapi kita berusaha untuk menyingkap tabir rahasia Isra Mikraj Nabi Muhammad saw.

Momentum Memakmurkan Masjid

Pada zaman nabi, musyawarah itu dilakukan di masjid. Peran dan fungsi masjid sangat vital dalam sejarah perjuangan Islam. Terbukti bahwa dalam keadaan kritis, ketika Muhammad saw. hijrah dari Mekah ke Madinah, langkah kunci yang dilakukannya adalah membangun masjid yang pertama kali, yaitu Masjid Quba. Dengan mengkaji langkah-langkah kunci pembuatan masjid pertama kali, yaitu Masjid Quba, kurang lebih 5 km dari Kota Madinah, tahulah kita bahwa fungsi masjid dalam pembangunan umat dan kebangkitannya sangat signifikan.

Isra Mikraj adalah peristiwa menerima perintah melaksanakan salat 5 waktu. Karena itu kita harus menjadikannya sebuah momentum dalam menyemarakkan dan memakmurkan masjid untuk membudayakan salat berjamaah. Apabila budaya berjamaah sudah ditegakkan, kita akan mendapatkan hikmah dan keutamaan yang terkandung di dalamnya, yaitu berupa pelipatgandaan pahala kelak di akhirat, ataupun dari sudut pandang sosial sebagai salah satu alat pembinaan dan pemersatu umat agar tercipta suasana kebersamaan, keikhlasan, dan ukhuwah islamiyah di kalangan kaum muslimin.

Dengan harapan, kegiatan ibadah berjamaah tersebut akan membudaya dalam diri kaum muslimin. Karena kebudayaan bisa diartikan sebagai aktivitas manusia dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (culture represent man’s response to his basic needs), masjid di samping menjadi pusat ibadah, seharusnyalah masjid menjadi pusat untuk berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan hidup pokok jamaah di sekitar masjid itu berada. Kebutuhan hidup pokok manusia, yang dirumuskan Organisasi Buruh Sedunia (ILO), meliputi sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja. Jadi, (diharapkan) masjid berfungsi sebagai pusat ekonomi, pusat pendidikan, dan kesehatan juga pusat untuk bisa menciptakan lapangan kerja. Masjid seharusnya menjadi pusat gerakan budaya (cultural movement) bagi masyarakat sekitarnya. Kebudayaan yang rahmatan lil alamin sebagai misi utama diutusnya Nabi Muhammad saw. di muka bumi ini. (Soeroyo; 1999:87).

Aspek Sosial-Ritual

Momentum Isra Mikraj yang beberapa hari ke depan kita peringati hendaknya dijadikan acuan untuk meningkatkan kembali ibadah salat kita. Sebagaimana di dalam Alquran Surat Al-Mukminun ayat 1 bahwa kunci kemenangan orang yang beriman adalah salat khusyuk, yaitu melakukan salat dengan penuh kesungguhan dan menghayatinya sebagai dialog dengan Allah swt. Urgensi salat sangat signifikan dalam kehidupan setiap muslim sehingga Rasulullah saw. menyebutkannya sebagai tiang agama, “Assholatu imaduddin” salat itu adalah tiang agama.

Ibadah salat dapat dikatakan sebagai tolak ukur dari seluruh nilai ibadah yang kita lakukan. Apabila salat kita benar, yakni sesuai dengan contoh Rasulullah saw, ibadah-ibadah lainnya insya Allah akan benar pula. Begitu pentingnya nilai ibadah salat sehingga Nabi saw. bersabda “Pembeda antara orang muslim dan kafir adalah salat”.

Bahwa seorang muslim yang beriman tidak akan pernah meninggalkan salat berjamaah dan dia senantiasa berusaha untuk berlaku benar dan proporsional, dengan kata lain dia selalu berusaha untuk berlaku istikamah atau berjalan di atas pedoman-pedoman lurus (shirathal mustaqim), sesuai dengan yang selalu dimintainya ketika salat, baik salat dalam arti ritual maupun salat dalam aktivitas sosial.

Tidak sedikit orang yang aktif melakukan salat secara ritual, tepat waktu dan selalu berjamaah, tetapi tidak dapat salat dalam kehidupan sosial karena hatinya culas, tidak rela kalau ada orang lain yang lebih maju, tidak rela jadi makmum, selalu merasa lebih baik daripada orang lain, tamak, gila hormat, dan sebagainya.

Sebenarnya, jika anggota masyarakat dapat melaksanakan salat dengan benar, secara ritual dan sosial, masyarakat akan aman, tenteram, dan damai. Dalam konteks inilah kita bisa mengerti kalau Khalifah Umar bin Khatthab mengatakan kepada para gubernurnya “Inna min ahammi umurikum “indie asshalah”. (Sebenarnya urusan yang paling pokok di antara urusan-urusan adalah menegakkan salat). (Mahfud; 1999:125).

Jika seorang pemimpin dapat mengarahkan warganya untuk salat dengan benar, tugas-tugasnya yang lain akan menjadi mudah diselesaikan. Sebaliknya, jika terlalu banyak orang shalat secara ritual, tapi tingkah lakunya tidak menimbulkan kesejukan secara sosial, salatnya tidak dilakukan secara benar dan berhenti pada cara ekstrinsik belaka.

Perjalanan Isra Mikraj Rasulullah saw. dan segala yang berhubungan dengannya (perintah salat) merupakan ketetapan hati bagi orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Allah swt. dan kekuasaan-Nya serta yakin pula atas segala sesuatu yang diperbuat dan dikehendaki-Nya.

Maka, Isra Mikraj yang akan diperingati setiap tanggal 27 Rajab oleh seluruh umat Islam hendaknya dijadikan momentum untuk menegakkan kembali salat 5 waktu, karena amal perbuatan yang pertama kali dihisab adalah salat. Wallahualam bisshowab wa bi murodhihi.

*) Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Syekh Yusuf Tangerang; alumnus Pondok Pesantren Al-Amien, Prenduan, Sumenep, Madura.