“Dodolitdodolitdolibret” Cerpen Terbaik

Penghargaan Cerpen Kompas 2011
Benny Benke
http://suaramerdeka.com

Penghargaan Cerpen Kompas 2011, Senin (27/6) malam kembali digelar di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Tahun ini, terdapat 18 cerpen masuk nominasi sebagai Cerpen Terbaik.

Cerpen-cerpen itu, sebagaimana dikatakan salah seorang dewan juri, Putur Fajar Arcana, dipilih secara ketat dari 52 cerpen yang pernah dimuat harian Kompas Edisi Minggu sepanjang 2010. Can bersama dewan juri lainnya, yaitu Myma Ratna, Frans Sartono, Kenedi Burhan, dan Efix Mulyadi akhirnya menetapkan satu dari 18 cerpen yang masuk nomisasi sebagai yang terbaik.

Dan juri menetapkan bahwa cerpen Dodolitdodolitdodolibret karya Seno Gumira Ajidarma (SGA) sebagai Cerpen Kompas Terbaik 2011. Cerpen terbaik ini, sekaligus menjadi judul ontologi Cerpen Pilihan Kompas 2010.

Sebelumnya, dua cerpen SGA juga pernah menjadi yang terbaik pada ajang yang sama, yaitu cerpen Pelajaran Mengarang (1993), dan Cinta di Atas Perahu Cantik (2007). Dodolitdodolitdolibret berkisah tentang kesejalanan sebuah doa dan perlakuan keseharian, yang memengaruhi tingkat kesufian sesorang.

Pertemuan fakta dan fiksi

Menurut B Prasetyo, salah satu anggota edisi Minggu harian Kompas mengatakan, cerpen SGA menarik karena singkat, hanya terdiri dari 40 alenia, tapi ketika dibaca banyak ditemukan lapisan makna dibaliknya. “Salah satu makna ditemukan betapa fakta dan fiksi bertemu di cerpen itu, secara kontekstual,” katanya.

Dengan demikian, imbuh dia, cerpen dapat merefleksikan dirinya sendiri, bukan pengarangnya. Selanjutnya, narasi cerpen menimbulkan kekuatannya secara khas, dan mempunyai nilainya sendiri.

Kompas edisi Minggu mulai memuat cerpen pada tahun 1969 dengan karya terjemahan cerpenis Prancis Guy de Maupassant yang diterjemahkan Arief Budiman. Sampai saat ini, masih menurut Can, setiap hari Kompas menerima sembilan sampai sepuluh cerpen, atau sekitar 3600 cerpen dalam setahun. Meski yang dapat dimuat dalam setahun sebanyak 52 cerpen. Dengan demikian, dapat dirata-rata satu cerpen yang dimuat harus mengalahkan 69 cerpen pesaingnya.

Selain memilih Cerpen Terbaik, penghargaan juga diberikan kepada para sastrawan yang berdedikasi. Di antara yang telah menerima penghargaan itu adalah Budi Darma, Danarto, Ratna Idraswari Ibrahim, Kuntowijoyo dan Gus tf Sakai. Tahun ini, penghargaan itu diberikan kepada Yanusa Nugroho, yang dianggap telah membuktikan dirinya selama puluhan tahun menekuni dunia sastra, khususnya cerpen.

Yanusa sendiri mengakui jika sejak tahun 1981 puisinya telah dimuat harian Kompas, ketika dia masih duduk di bangku SMA. “Judul puisi saya waktu itu adalah Warudoyong dan Cita-Citanya Menjadi Dokter,” katanya. Puisi itu bernarasi tentang kritik sosial betapa cita-cita hanya tinggal cita-cita belaka.

27 Juni 2011