Dua Fiksi Anggraini Antemas: Etnografi Budaya dan Kritik Sosial

Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Mungkin kita telah mengenal siapa Anggraini Antemas? Mungkin antara lain melalui Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan (Saefuddin, dkk., 2008: 28-29). Anggraini adalah nama pena dari Yusni Antemas, sastrawan Kalsel kelahiran Amuntai (22/4/1922). Selama menjadi sastrawan dan wartawan sejak 1940, 25 judul bukunya berhasil diterbitkan. Buku-buku itu mengenai sejarah daerah, folklor, dan cerita anak-anak. 12 judul di antaranya diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Jakarta. Ensiklopedia itu tidak menyebutkan karyanya yang berupa karya sastra, baik dalam entri namanya maupun entri lain yang berawalan “T” dan “M” untuk dua karyanya yang saya temukan di Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Kedua karya itu adalah Tunas-tunas Mekar Pagi (1981), dengan nomor register 1478/84, dan Mendulang Intan di Cempaka (1981), dengan nomor register 1454/84.

Karya-karyanya yang lain rupanya juga tersimpan di Perpustakaan Nasional Australia, seperti karyanya yang berjudul Mutiara Nusantara, seri 1, yang diterbitkan Mega Sapura, Amuntai pada 1986 (Bib ID 259958); Si Pujung yang Menambat Barito (1980), Bib ID 2883237, terbitan Depdikbud Jakarta; Kahancuran di Baruh Kelayar (1980), Bib ID 1387792, juga terbitan Depdikbud Jakarta; dan Bara dan Nyala di Banua Lima (Negara-Alabio-Sungai Banar-Amuntai-Kelua), Bib ID 1592126. Di perpustakaan ini karya tahun 1974 ini terbitan Banjarmasin tentang sejarah Kalimantan.

Karya-karyanya juga tersimpan di Perpustakaan Universitas Yale antara lain: Orang-orang Terkemuka dalam Sedjarah Kalimantan, dari Mulawarman sampai H. Hasbullah Jasin (1971), Call Number: DS646.3 A57; Si Puyung yang Menambat Barito (1980), Call Number: GR323 A56; Mendulang Intan di Cempaka (1981), Call Number: PL5139 A559 M4; dan Tunas-tunas Mekar Pagi (1981), Call Number: PL5139 A559 T8.

Tulisan ini tentang dua karyanya, yaitu Mendulang Intan di Cempaka dan Tunas-tunas Mekar Pagi. Dalam kedua buku ini tak ada keterangan tentang siapa Anggraini Antemas dan tak ada keterangan bahwa buku ini termasuk dalam genre apa secara spesifik. Yang pasti ini prosa fiksi yang mengisahkan salah satu aspek kebudayaan masyarakat Banjar. Meskipun kedua karyanya ini ditulis dalam bahasa Indonesia, secara tidak langsung, pengantar dalam kedua buku ini mengkategorikan karyanya sebagai karya sastra lama dan sastra daerah.

Fiksi Tunas-tunas Mekar Pagi karya Anggraini Antemas diterbitkan oleh Departeman Pendidikan dan Kebudayaan (Jakarta, 1981). Buku ini tipis (12 bab, 67 halaman, 14,5 x 21 cm). Mendulang Intan di Cempaka lebih tebal (78 halaman), dengan jumlah bab yang lebih sedikit (10 bab), diterbitkan oleh penerbit yang sama dalam ukuran dan tahun yang sama.

Mendulang Intan di Cempaka

Fiksi Mendulang Intan di Cempaka menceritakan kehidupan keluarga Pak Kasim, petani miskin di Hulu Sungai Tengah, yang sebelumnya pernah bekerja jadi pencari intan di Lahung dan Sungai Gula di Kalimantan Tengah. Ia dan keluarganya ingin kembali jadi penggali intan di Martapura. Semula ia enggan, tapi karena desakan istrinya, ia memutuskan diri untuk menurutinya.

Cerita ini merinci mitos-mitos, fakta-fakta budaya, data sejarah, dan pamali-pamali yang terkait dengan penggalian intan. Bahkan ada cerita perkelahian dan perampokan. Dalam cerita ini, tokoh yang jadi perampok adalah Haji Udin.

Lewat cerita tentang intan, Antemas mencoba melakukan refleksi tentang rendahnya sumber daya manusia saat itu dalam hal penambangan intan. Ada dialog antara tradisi dan modernitas yang direpresentasikan melalui sikap Tuhalus, pemilik warung di sekitar pendulangan, dan sikap Salman, anak Pak Kasim.

Kata Salman, “…mengapa tahyul begini hanya ada di negeri kita, Pak? Sedang di negeri India, di Persia, Afrika, dan lain-lain, tahyul itu tidak ada. Tahukah Bapak, bahwa di Kimberley, Afrika Selatan, ada tambang intan yang didirikan sejak tahun 1870. Hasil intannya luar biasa. Mutunya lebih tinggi. Harganya pun lebih mahal dari intan kita di Martapura ini. Di sana itu, menggali intan tidak disertai tahyul.”

Cuplikan ini menunjukkan beberapa hal, yaitu: sebagian besar masyarakat Banjar percaya pada tahayul yang terkait dengan pendulangan intan. Akan tetapi ada juga yang tidak percaya, dan lebih percaya pada kerja. Cerita Antemas, mencoba untuk tidak meneruskan mitos itu. Baginya, intan dapat diperoleh dengan terus mendulang, dengan kerja keras, bukan dengan kerja tahayul, dan tanpa putus asa.

Tapi tentu kita sebagai pembaca cerita itu saat ini, dalam ruang waktu yang berbeda, bisa mengambil jarak dengan oposisi biner atau sikap sakral dan sekuler. Tahayul itu juga bisa kita lihat sebagai kearifan lokal masyarakat Banjar dalam mengungkapkan rasa terima kasih kepada alam sebagai representasi Tuhan.

Ketiadaan teknologi yang memadai menunjukkan betapa lemahnya pengelolaan pendulangan oleh pihak yang berwenang sehingga belum mampu menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat kabupaten Banjar atau orang Banjar yang ada di Kalimantan Selatan.

Yang menarik dari cerita ini adalah protagonisnya yang cendekia meskipun miskin (Salman) dan antagonisnya yang Haji tetapi maling (Haji Udin). Fiksi ini seperti berpretensi mengingatkan pembacanya terhadap bahaya formalisme agama yang berbasis kapitalisme. Di samping itu, ada ajakan untuk optimis dan jujur di balik alegori-alegori cerita yang disuguhkan dengan bahasa yang sederhana.

Ada yang aneh bagi saya kalau anak-anak Pak Kasim memanggilnya dengan sebutan Bapak, bukan Abah. Tampaknya fiksi ini dicengkeram oleh hegemoni “bapakisme dan ibuisme” Orde Baru, yang tidak memberikan kenyamanan bagi penulis untuk menggunakan sebutan Abah atau Mama. Atau mungkin keluarga Pak Kasim bukan representasi orang Banjar, meskipun dia dari Amuntai? Suasana maskulin prosa fiksi ini begitu kental. Meskipun ada sisipan kisah Galuh Ma-Intan versus Galuh Ma-Inai untuk menceritakan mitos-mitos di sekitar pendulangan intan.

Tunas-tunas Mekar Pagi

Tunas-tunas Mekar Pagi mengisahkan budi pekerti baik tiga bersaudara, Ahmad, Komar, dan Hanafi. Mereka dari keluarga miskin di Banjarmasin yang oleh ayah dan ibunya serta gurunya selalu mendapatkan nasihat untuk menjadi pribadi yang sabar, penolong, dan pemaaf.

Dalam kisah ini, ada sekelumit gambaran stereotipikal terhadap orang Cina yang direpresentasikan melalui tokoh Babah Ta Kong. Tokoh Cina ditampilkan dengan logat yang lain. Logatnya dijadikan marka bahwa dia seakan bukan bagian dari kita atau sebagai sang lain. Cuplikannya antara lain begini (Antemas, 1981: 51):

“Saya tilak tahu… Yang yual ke sini anak-anak… itu yang kulus-kulus…lambutnya keliting-keliting.” ujar Babah Ta Kong dengan logat Cina-nya….

Apakah memang demikian kenyataan kebahasaan orang Cina di Banjarmasin pada tahun 1980-an? Saya kenal beberapa orang Cina di Banjarmasin yang berbahasa Banjar dan Indonesia dengan baik. Gambaran ini bertolak belakang dengan kenyataan pedagang Cina yang ada di pelbagai tempat di Indonesia. Kemampuan adaptasi bahasa mereka biasanya sangat bagus. Meskipun sastra adalah dunia yang serba mungkin dan orang Cina yang ada dalam teks adalah orang Cina dalam tanda petik yang unik, tentu pilihan tidak lepas dari prasangka stereotipikal sebagai alat untuk memunculkan humor rasial yang sebenarnya bisa tidak lucu sama sekali.

Kedua buku fiksi ini tetap bisa dijadikan bahan pendidikan karakter di sekolah-sekolah. Keduanya mengajak manusia untuk menjadi pribadi yang jujur, sabar, tekun, peduli, pemaaf, dan pemikir. Setting kemiskinan yang dipilihnya pada masa lalu masih relevan dengan kemiskinan kontemporer yang memerlukan sikap kepribadian yang sama.

Pondok Cina, Depok, 4.4.2011