Kang Suto

Sabpri Piliang
http://www.suarakarya-online.com/

Desa di kaki gunung itu memang subur. Petaninya hidup makmur. Hampir setiap rumah petani punya televisi, kulkas dan VCD player. Padahal, beberapa desa di sekitarnya tergolong desa miskin. Akses menuju desa ini pun relatif sulit dijangkau. Maklum jalannya masih berupa tanah dan becek jika diguyur hujan turun.

Sehari-hari, warga desa (berpenghuni 1.500 jiwa itu) hidup bertani dan berkebun. Sejauh mata memandang hamparan kebun karet yang kini harganya melonjak, menghijau bagai permadani Turki yang tertata rapi. Ini adalah buah dari kepemimpinan Kepala Desa Subarjo yang tiga hari lalu meninggal dunia, setelah 15 tahun memimpin desa tersebut.

Sebelum era Subarjo, desa ini termasuk wilayah tertinggal, dan miskin, karena petaninya berada di bawah cengkeraman para tengkulak yang memeras hasil tani warga. Tengkulak membeli karet rakyat dan hasil kebun dengan harga murah, kemudian menjualnya di kota dengan harga pasaran. Berkat Subarjo yang akrab dipanggil Kang Barjo, desa itu menjadi maju dan makmur.

“Mas Broto, apa mungkin kita bisa menemukan Kades seperti Kang Barjo, ya,” kata Musilan, saat berbincang dengan Broto, petani yang dituakan di desa itu.

Broto yang duduk bersila di atas bangku reot warung Mbok Pinah di ujung desa itu, hanya bisa menarik napas panjang. “Ya, tapi siapa calonnya. Wong sampai hari ini saja masih belum melihat orang seperti Kang Barjo, tapi coba kita pikirkan malam ini, kira-kira siapa,” kata Broto sambil berlalu.

Apa yang dipikirkan Broto ternyata juga dipikirkan oleh anak-anak muda yang mulai gelisah dan khawatir desa mereka mengalami kemunduran selepas ditinggal Kades yang disayangi warga itu. “Jangan sampai desa kita nanti dipimpin maling, ya, Kang,” kata Marto, pegawai KUA, di hadapan pemuda-pemuda desa.

Desa seluas 3.500 hektar ini memang sudah melek karena hadirnya televisi yang jadi satu-satunya hiburan selepas bertani di ladang. Tidak salah bila, mereka mengikuti berita-berita televisi tentang banyaknya anggota DPR, gubernur, yang ditangkap KPK. Intinya mereka melek informasi.

Beberapa hari setelah itu, warga mulai melihat calon-calon yang akan memimpin desa Saung Wetan, desa yang secara turun-temurun telah memberi mereka kehidupan. Di Pendopo Desa tertera ada empat calon yang sudah diumumkan siap mengikuti pemilihan kades. Tidak ada syarat berat yang diberikan untuk menjadi kades. Secara tradisional, tiap calon cukup meminta tanda tangan atau mendapat dukungan 100 warga, kemudian menjadi calon sah. “Ya, Mas, ada empat calon yang sudah diverifikasi oleh Balai Desa. Kita pilih yang terbaik aja dari mereka itu,” kata Koko, pegawai Pendopo Desa.

Selepas tujuh hari kepergian Kang Barjo, pagi itu warga sudah berkumpul di Pendopo Desa. Hari itu adalah saat warga akan memilih kades. Ada empat orang calon kades yang akan dipilih secara langsung oleh 850 warga yang telah berusia diatas 17 tahun.

“Pilih sopo, Pak,” kata Sumini kepada suaminya, Dampilan. Dampilan bergumam, “nanti kita mereka.”

Sebelum acara pemilihan kades, para kontestan sudah melakukan kampanye kecil di tegalan desa, tak jauh dari pendopo. Profil keempat calon kepala desa (cakades) itu sudah dilihat warga lewat brosur-brosur cetakan yang dibagikan juru kampanye masing-masing. Ada Samino, keamanan pasar yang berusia 47 tahun, tapi hanya tamat SMP. Kemudian Ngadiman, 42, petani karet beristri dua. Sujono yang sering di panggil Pakde Jono adalah sosok yang disegani. Dia sering dipakai Kang Barjo jadi penengah kalau ada perselisihan warga. Sayangnya, Pakde Jono sudah terlalu tua, 68 tahun.

Calon ke-empat adalah Sutowidodo, mantan sekretaris partai di tingkat kabupaten yang menyatakan diri telah keluar dari partai untuk membangun desanya. Sutowidodo pulang ke desa Awung Wetan secara sengaja, setelah mendengar kades Kang Barjo wafat.

“Saya akan membangun desa kalau terpilih. Jadi pilihlah saya. Desa ini pasti makmur di tangan saya,” kata Sutowidodo, calon yang paling berpengalaman dibanding calon lainnya. Dia pernah memimpin kampanye di desa ini saat pemilihan presiden tahun 2009 lalu.

Selama tujuh tahun dia menghilang dari desa untuk merantau ke kota kabupaten yang kemudian menjadi pengurus partai di sana. Sutowidodo yang ingin dipanggil Kang Suto kalau nanti terpilih, sebelum jadi pengurus partai adalah petani biasa. Tujuh tahun menghilang dari desa, Suto telah jadi sosok yang cukup kaya. Dulu dia hanya punya motor honda butut tahun 95, kini sudah menyetir mobil Kijang Innova terbaru.

“Besok, saya berharap, seluruh warga bisa mengikuti pemilihan di Pendopo desa. Pilihlah saya, karena saya akan membuat desa ini makmur, gemah ripah loh jinawi,” kata Sutowidodo.

Hari itu, pagi-pagi sekali: Samino, Ngadiman, Sujono, dan Sutowidodo telah berada di Pendopo desa untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan dipilih warga menggantikan kang Barjo.

Ada empat bilik di depan pendopo yang akan dipakai untuk menentukan masa depan desa itu. Warga yang telah berusia 17 tahun ke atas pun telah berkerumun di sekitar pendopo. “Wah, aku lihat Kang Suto akan terpilih hari ini. Aku menjagokan Kang Suto, karena dia pandai pidato,” kata Rebo, pemilik tiga ekor kerbau yang biasa menyewakan kerbaunya untuk membajak sawah.

“Kalau aku akan pilih Pak Samino. Dia berpengalaman di bidang keamanan,” celoteh Dulalim, penarik becak yang biasa membawa warga ke pasar desa.

Sedangkan dua calon lagi, Pakde Jono atau Sujono dan Ngadiman tidak banyak diminati. Pasalnya, Sujono sudah terlalu tua untuk mengendalikan desa yang semakin makmur dan berkembang itu. Sedangkan Ngadiman, tidak disukai para ibu-ibu. Dia dianggap telah melecehkan kaum wanita karena beristri dua. “Ojo pilih Ngadiman, engko suami kita ikut-ikutan beristri dua,” kata Partini kepada istri bendahara desa, Tukidem.

Satu per satu warga desa memasuki bilik suara. Selepas memilih, warga yang sudah menggunakan hak pilihnya tidak lantas meninggalkan pendopo. Mereka harap-harap cemas menunggu pengumuman siapa yang akan terpilih memimpin 5 tahun ke depan.

Tepat pukul 12.00, Sekretaris Desa era Kang Barjo, Sanwani, tampil ke depan memulai penghitungan suara. “Bapak-bapak, ibu-ibu, para pemuda, kini kita akan menghitung suara. Mari kita saksikan siapa yang akan menjadi pemimpin kita,” kata Sanwani.

Sanwani yang didampingi ketua Karang Taruna, Tukijan, mulai mengeluarkan kertas suara yang sebelumnya telah dihitung. Daya tarik dan penampilan Kang Suto serta suara baritonnya yang kerap membuat ibu-ibu serta pemuda terkesima. Kang Suto akhirnya terpilih menjadi Kepala Desa, setelah mengungguli Samino dengan skor 450 berbanding 250 suara. Sisanya yang 150 suara dibagi antara Ngadiman dan Sujono atau Pakde Jono.

Gegap gempita warga dan tabuhan gendang, bahkan pukulan bedug saling bersahut-sahutan, membuat desa di kaki gunung itu serasa berada di tengah kota ramai. Warga yang berharap banyak pada kepemimpinan Kang Suto, semakin yakin kalau desa ini tidak akan mengalami kemunduran meski telah ditinggalkan kades kharismatis, Kang Barjo. Tokh, sekarang ada Kang Suto, gumam warga.

“Terima kasih, kepada seluruh warga, baik yang telah memilih saya, maupun yang memilih calon lain. Sekarang mari kita bangun desa Sawung Wetan agar bisa lebih makmur. Lupakan perbedaan pendapat, sekarang saya akan merangkul seluruh warga untuk mencapai hidup makmur. Jangan lupa, panggil saya cukup dengan Kang Suto,” kata Kang Suto berapi-api.

Hari itu selepas pengumuman yang memenangkan dirinya sebagai kades, Kang Suto kembali ke rumahnya karena hari sudah menjelang Maghrib. Kang Suto harus beristirahat, karena besok dia harus memulai kerjanya di kantor desa, sekaligus mengumpulkan staf, Sekdes, Bendahara Desa, Keamanan Desa.

Di pundak Kang Suto-lah, terpilin harapan 1.500 warga desa Sawung Wetan. Di tangannyalah, kemakmuran yang selama ini dinikmati oleh warga saat Kang Barjo memimpin, menjadi tanggung jawabnya. Dan, Kang Suto telah berhasil meyakinkan warga bahwa dialah pemimpin masa depan yang akan memajukan desa ini. Pokoknya Kang Suto telah jadi idola warga, sekalipun warga tidak tahu perilaku Kang Suto selama tujuh tahun meninggalkan desa menimba ilmu jadi pengurus partai di kota kabupaten.

“Apa iya, Kang Suto akan sebaik Kang Barjo. Kalau lihat cara bicaranya yang santun, dia memang pemimpin yang bagus. Tapi apa itu aslinya atau. Akh aku bingung,” kata Barijo, warga yang dalam pemilihan kades itu mencontreng Samino.

Pagi itu, setelah mandi dan sarapan di rumahnya, Kang Suto bergegas berangkat ke Balai Desa, di mana dia akan memulai rapat pertama dengan para pengurus desa yang sudah ada selama ini. Kedatangan Kang Suto disambut antusias para pegawai dan seluruh Muspika. “Selamat datang, Pak, sudah lama kami menunggu pemimpin baru di sini,” kata Sanwani, Sekretaris Desa.

Mulailah Kang Suto memimpin acara dalam rapat pengurus desa. Kang Suto bercerita panjang lebar bagaimana strateginya untuk lima tahun ke depan. Para pengurus desa dan staf desa, kagum melihat bicara Kang Suto dan yakin desa Sawung Wetan akan lebih maju lagi dibandingkan era Kang Barjo.

Sedang asyiknya Kang Suto pidato, tiba-tiba pintu ruangan rapat diketuk. “Maaf, Pak, ada 4 polisi dari Kota Kabupaten di depan ingin bertemu dengan Bapak,” kata Sutinem, sekretaris Kang Suto. “Ada apa mereka mau ketemu saya,” kata Kang Suto. Wajahnya tampak pucat.

Kang Suto juga tampak panik, tapi dia berupaya tenang di depan pengurus desa. Tanpa diduga, keempat polisi itu menerobos masuk ke ruangan rapat Kang Suto dengan jajarannya. “Selamat pagi, Pak Sutowidodo. Kami harap Bapak ikut ke kantor polisi di Kabupaten sekarang juga. Ini surat panggilan untuk Bapak,” kata seorang polisi dengan nada sopan tapi tegas.

“Maaf, ada apa, Pak. Apa urusannya, kok saya harus ke kantor polisi? Apalagi saya sekarang adalah kepala desa,” kata Kang Suto berupaya menggertak.

Kang Suto tetap berupaya untuk tidak mengikuti perintah 4 polisi itu. “Ini surat perintah membawa Bapak ke kantor polisi, sekaligus perintah penahanan. Jadi Bapak jangan membantah,” Kang Suto tak dapat lagi menolak karena polisi itu mulai nampak tegas.

Kang Suto dengan langkah gontai, akhirnya masuk ke dalam mobil polisi. Sampai sore hingga malam Kang Suto tidak kembali ke desa Sawung Wetan. Esok harinya, Kang Suto tetap tidak muncul di Balai Desa. Bahkan hingga memasuki hari ke-10, Kang Suto tetap tidak menampakan hidungnya. “Piye, Mas. Ada apa dengan kades kita,”.

Esoknya sekdes Sanwani dengan tergopoh-gopoh membawa koran terbitan pagi. “Iki, baca Mas. Mantan pengurus partai Sutowidodo terlibat pemerasan terhadap pengusaha. Dia korupsi dana partai,” kata Sanwani. “Wah kita tertipu, Mas. Penampilan Kang Suto yang menakjubkan, ternyata hanya kamuflase. Ternyata dia maling juga seperti yang kita takutkan,” kata Sanwani.

“Apes, Mas. Kita kehilangan kades. Tapi syukur, baru sehari memimpin desa, belangnya terbongkar. Bayangkan kalau desa ini lima tahun di pimpin Kang Suto, jadi apa kita?” kata Tukijan.
Dasar Kang Suto!***