Kemalangan yang Puitis

Budiawan Dwi Santoso
http://www.lampungpost.com/

Suatu ketika manusia diciptakan oleh Tuhan dan diturunkan ke bumi ini. Segala anugerah dan kenikmatan pun telah diberikan padanya walaupun si manusia itu pernah berbuat dosa. Kenikmatan itu ternyata bukan hanya kenikmatan kesehatan, kenikmatan sumber daya alam yang telah tersedia, atau penciptaan sesosok makhluk yang sempurna saja. Namun, ada salah satu kenikmatan terbesar yang diberikan dan dikhususkan untuk manusia. Nikmat itu adalah kemampuannya dalam berbahasa. Kenikmatan inilah yang pernah disampaikan Utsman Muhammad Najali dalam buku yang berjudul Jiwa Manusia dalam Sorotan Alquran (2001).

Kenikmatan itu yang seharusnya kita syukuri, kita rawat, dan kita kembangkan. Lalu, bagaimana kita mensyukuri, merawat, dan mengembangkannya? Apakah kita harus terus-menerus berdoa? Ataukah kita harus mempergunakan bahasa yang kita miliki dengan baik, benar, dan sopan?

Apabila kita merujuk dari pandangan teologis kita, bahwa suatu kenikmatan yang diberikan oleh Tuhan itu bukan hanya dengan cara berdoa, tapi juga harus diimplementasikan secara mencerah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan maksud pencerahan-pencerahan ini akan menyebar dan merasuk ke dalam sanubari manusia.

Adalah kisah penciptaan Alquran dalam kalangan umat Islam. Dalam penciptaan tersebut, sang misioner, yakni Muhammad saw. selalu mensyukuri, merawat, dan mengembangkan bahasa yang diberikan Tuhan dengan bahasa-bahasa yang metaforis dan kadang puitis. Beberapa bahasa yang pernah ia ungkapkan adalah dunia dan akhirat itu ibarat dua istri. Jika kau mau menyenangkan yang satu, yang lain akan marah kepadamu.” Lalu, contoh lain: “Tinggalkan hal yang masih meragukan bagimu menuju hal yang tidak meragukan bagimu.”

Bahasa-bahasa itu mungkin seperti nada peringatan atau perintah. Namun, sang misioner tidak membahasakan secara kasar atau lugu. Ini dimotori agar kenikmatan bahasa yang diberikan oleh Tuhannya bisa mencerahkan dan dinikmati bagi si pendengar atau si pembaca. Jalan inilah yang juga memberikan dan menyadarkan pada kita bahwa dalam berbahasa, sebaiknya juga bermakna. Kebermaknaan inilah yang akan membentuk peradaban budaya manusia yang maju sekaligus pembeda yang fundamental dengan ciptaan Allah lainnya.

Kesedihan Bahasa Sastrawan

Kisah bahasa dari peradaban Islam itu mungkin yang menjadikan jalan bagi para manusia yang menyadari kenikmatan dari Tuhan (baca: para sastrawan) untuk terus mensyukuri dengan merawat, menumbuhkan, dan mengembangbiakkan bahasa Tuhan (bahasa metaforis) di dalam kehidupan ini.

Dalam proses pengembangbiakkan bahasa dari sastrawan, tak jarang lahir bahasa-bahasa yang baru, tak stagnan, indah, metaforis, dan puitis. Secara humanistik, ini yang menjadikan manusia sebagai makhluk kreatif dan memiliki kebebasan. Mereka mengungkapkan segala peristiwa (senang, gembira, susah, sedih, dan derita) dalam hidup ini dengan bahasa yang etis dan mencerahkan.

Namun, dari hal-hal yang etis dan penuh metafora dari para sastrawan, ternyata mereka menangkap fenomena di dunia ini dengan bahasa yang menyedihkan. Hal ini seperti diungkapkan oleh Arif Bagus Prasetyo (2009) bahwa bahasa yang mereka ungkapkan “hampir semuanya bernada muram”. Apakah ini menandakan bahwa hidup di negeri ini sebenarnya hidup dalam penderitaan?

“Setiap malam adalah luka perih di ulu hati. Selalu kubayangkan/ia muncul dari sebalik langkah sepi di halaman, meletakkan jemari/hangatnya di bibirku yang terkatup gugup.” Inilah pengakuan Frans Nadjira terhadap kehidupan yang penuh penderitaan dalam puisinya yang berjudul Panggilan Kata-kata (2008). Keresahan dan penderitaan yang dialami si ‘aku’ ini lebih terasa mendalam dengan balutan bahasa yang puitis.

Jejak kepiluan tersebut ternyata juga dialami oleh sastrawan-sastrawan dunia, seperti Ibn Hazm al Andalusi (pujangga besar dari kalangan muslim di Spanyol), Farid ud- Din Attar, maupun Gao Xing Jian dari China (peraih nobel sastra). Mereka mengungkapkan kesedihan, penderitaan, sekaligus kemarahannya pada seseorang bahkan Sang Pencipta tidak menggunakan bahasa yang terlalu lugu, sarkastik, maupun bahasa yang formal.

Sebab, mereka tahu bahwa bahasa-bahasa yang bersifat sarkastik akan menambah keterpurukan dirinya sendiri, orang lain, bahkan pada masyarakatnya. Dan, justru dengan bahasa yang metaforis, puitis, dan luhur inilah yang menandakan bahwa mereka tetap menikmati, mencintai, dan bersyukur pada hidup, khususnya pada Tuhan Yang Maha Esa. Maka, tak salah bila Ook Nugroho, dalam sajak berjudul Kepada Sajakku (2008), ia menyatakan bahwa ‘tugas kita, tugas kata…’ (berbahasa metaforis dan puitis), yang kesemuanya itu mengindikasikan “tugas pencinta”.

*) Pengelola Komunitas Tanda Tanya