Kepergian Nyatanya adalah Kepulangan

Udo Z. Karzi *
http://www.lampungpost.com/

KEPERGIAN sesungguhnya sesuatu hal yang sama dengan kepulangan. Tinggal bagaimana perspektif yang diambil. Pada titik ekstrem, orang yang tak memiliki ikatan tempat tidak pernah merasa pulang atau pergi.

PALING tidak pikiran ini menyelinap setelah membaca Kereta Pagi Menuju Den Haag, kumpulan cerpen Rilda A. Oe. Taneko (diterbitkan Pensil 324, Jakarta, September 2010). Cerpen Kereta Api Menuju Den Haag (hlm. 67-139) yang kemudian dijadikan judul kumpulan cerpen ini menceritakan bagaimana tokoh Tita harus berkali-kali mengalami peristiwa yang menyebabkan orang-orang yang tercinta harus pergi. Mulanya si aku pergi ke Kota Maastricht, Belanda, untuk melanjutkan pendidikan, walau kemudian dia menyusul ke kota yang sama. Lalu Erin, anaknya yang baru berusia lima bulan, meninggal yang disusul dengan kepergian suaminya: bercerai.

Sahabatku Rere

Besok pagi aku akan meninggalkan Maastricht menuju Den Haag. Aku tak mengharapkanmu untuk datang dan mengucapkan selamat tinggal padaku, karena itu terasa tak mungkin sekarang. Atau jika aku salah menduga dan masih ada harapan bagiku bertemu denganmu, tolong sempatkan membalas surat ini (hlm. 129).

Kisah persahabatan yang pedih. Dalam cerpen yang cukup panjang ini, pertemuan dan perpisahan atau kepergian dan kepulangan dalam arti kepergian ke luar negeri dan kepulangan ke Tanah Air, keengganan bertemu dan waktu yang tak memberi kempatan bersua, serta kepergian menghadap Ilahi yang bermakna juga berpulang ke rahmat Allah silih berganti datang dan pergi mengharu-biru.

Hampir semua cerpen karya pengarang kelahiran Tanjungkarang, Lampung, pada 1980 ini bercerita tentang kepergian dan kepulangan, baik secara harfiah maupun konotatif.

Cerpen pembuka, Manusia Antarbangsa (hlm. 1-28) berkisah tentang kerinduan-kerinduan dan hasrat untuk pulang ke Tanah Air. Cerpen Lesung Pipi Ibu jelaslah cerita yang “pulang”: Ibuku adalah ketegaran. Setiap harinya, Ibu bangun bangun jauh lebih pagi dari Bapak. Ia akan langsung menuju dapur. Di dapur itulah ia bergumul dengan bumbu, mengolah lauk, dan menyajikan makanan ternak. Tidak jarang tubuh Ibu terciprat minyak hingga lebam.

Cerpen-cerpen Anak-Kanakku, Istri Pilihan, Batu, Koran Pagi, Yang Terusir, Aku Ingin Pulang, Ibunda, dan Malaikat yang Turun Ketika Hujan pun banyak bertutur tentang kepulangan ke Tanah Air. Barangkali cerpen yang mengambil tema agak berbeda, di antaranya cerpen Perempuan di Seberang Jendela, Lapangan Tengah Kota, Koper Hitam Sang Profesor, Orang Asingnya Mr. Caldell, dan Di 55 Degree North.

Dengan ketebalan 332 halaman, memuat 16 cerpen ditambah semacam cerita penutup dari penulisnya, Rilda Taneko. Membaca buku kumpulan cerpen seharusnya cukup menjemukan, apalagi cerpen-cerpen Rilda panjang-panjang, kecuali beberapa cerpen yang pernah dimuat Lampung Post, seperti Anak-Kanakku, Batu, Koran Pagi, Lapangan Tengah Kota, Perempuan, Perempuan di Seberang Jendela, Istri Pilihan, dan Orang Asingnya Mr. Caldwell karena harus menyesuaikan halaman koran.

Meskipun demikian, membaca cerpen-cerpen Rilda terasa menyenangkan. Sebab, Rilda bertutur secara segar mengenai (sebenarnya) dirinya sendiri, Lampung Tanah Lada tempat kelahiran, orang tua, saudara-saudaranya, sahabat, dan orang-orang yang kenal, bahkan akrab di lingkungannya di luar negeri, tetapi lebih banyak cerita tentang orang-orang di Tanah Air.

Meskipun tinggal jauh dari Lampung, Rilda tetap mengingat pohon mangga di depan rumahnya, kebiasaan, tata cara, adat-istiadat, bahasa, dan budaya tanah kelahirannya. Bahasa Rilda pun sangat lancar mengalir bolak-balik: pulang-pergi, ke/dari, dalam, dan luar negeri.

Namun, yang paling terasa Kereta Pagi Menuju Den Haag tidak lain adalah mendendangkan Kembali Pulang—meminjam judul lagu grup band asal Lampung, Kangen Band. Begitulah kepergian senyatanya adalah kepulangan. Mengesankan sekaligus mengharukan!

Kalaulah ada yang sedikit mengganggu, ternyata cerpen-cerpen Rilda ini disunting—setidaknya tidak tercantum nama editornya. Soal pemakaian huruf kapital mungkin tidak terlalu fatal, tetapi cukup mengganjal bagi pembaca. Misalnya, bagaimana Rilda menulis kata ibu, bapak, tante, dan lain-lain dengan huruf kapital. Padahal, seharusnya tetap huruf kecil jika tidak di awal kalimat, bukan merupakan sapaan langsung dalam kalimat langsung, atau kata itu bersanding dengan namanya.

Hanya itu. Selebihnya, membaca Kereta Pagi Menuju Den Haag terasa asyik. Kita diajak berjalan-jalan ke belahan dunia luar sembari tetap banyak-banyak mengingat (baca: Berzikir) tentang Tanah Air, terutama tanah Sang Bumi Ruwa Jurai. Barangkali benar juga pesan ulun tuha di pekon, “Dang lupa di lapahan, ingok jama sai tinggal.” (Jangan lupa tujuan, ingat dengan yang ditinggal)—supaya tidak tersesat. Bukan begitu?

Udo Z. Karzi, tukang tulis, tinggal di Bandar Lampung.