Kiai Kanjeng Melintasi Terowongan Budaya Barat

Muhammadun AS*
Media Indonesia, 27 Jan 2008

DARI berbagai grup musik di Indonesia, nama Kiai Kanjeng tidaklah asing. Kiai Kanjeng dianggap grup musik yang berbeda dari musik Indonesia pada umumnya. Kegiatan keliling Kiai Kanjeng merupakan bagian dari pekerjaan sosial Emha Ainun Nadjib langsung di masyarakat, terutama grassroot dan menengah bawah. Kegiatan itu multikonteks meliputi budaya, keagamaan, spiritual, social problem solving, dan pendidikan politik.

Eksplorasi musik Kiai Kanjeng hampir tidak membatasi diri pada jenis atau aliran musik. Karena secara musikal, alat Kiai Kanjeng memiliki berbagai kemungkinan. Untuk itu, pengembaraan cipta mereka sangat ragam. Dari eksplorasi musik tradisional Jawa, Sunda, Melayu, dan China, termasuk penggalian dari berbagai etnik lain seperti Madura, Mandar, dan Bugis (Kiai Kanjeng berulang kali tampil dalam Festival Gamelan Internasional) – Kiai Kanjeng juga tidak menutup diri untuk memainkan musik Barat modern, pop, blues, dan jazz (Kiai Kanjeng tampil juga dalam Festival Jak-Jazz).

Jangan lupa juga dangdut. Ketika tur ke enam kota di Mesir, Kiai Kanjeng mengkhususkan diri mengaransemen kembali lagu-lagu Si Bintang Timur Ummi Kultsum. Sebagai grup musik, Kiai Kanjeng telah melahirkan sejumlah album musik yakni Tombo Ati, Raja Diraja, Wirid Padang Bulan, Jaman Wis Akhir, Menyorong Rembulan, Perahu Nuh, Allah Merasa Heran, Cinta Sepanjang Jaman, Kepada-Mu Kekasihku, dan Maiyah Nusantara.

Tetapi, Kiai Kanjeng bukanlah kelompok musik sebagaimana biasanya kelompok musik. Terutama karena fokus utama kegiatannya bukanlah musik atau kesenian, melainkan proses dan komunikasi sosial yang komprehensif. Fenomena seperti itu tidak lazim sehingga Kiai Kanjeng hanya dikenal dari mulut ke mulut – namun relatif tidak dikenal di dalam konstelasi musik Indonesia, terutama konstelasi musik industri Indonesia. Kiai Kanjeng hadir sebagai salah satu strategi perjuangan Cak Nun dalam mendakwahkan nilai-nilai Islam dan nilai kemanusiaan. Kiai Kanjenglah yang menemani Cak Nun dalam berbagai forum, khususnya menemani acara maiyah setiap tanggal 17 setiap bulan di Kasihan. Juga, dalam acara Padhang Bulan di Jombang, Kenduri Cinta di Jakarta, dan berbagai wilayah lainnya.

Dengan ditemani Kiai Kanjeng, dalam berbagai forum pertunjukan Cak Nun selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah.

Dalam suatu maiyah di Kasihan, Cak Nun menyebut eksplorasi global Gamelan Kiai Kanjeng itu sebagai suatu bentuk sikap pascaglobalisme yang juga diterapkan di berbagai bidang kehidupan manusia dan masyarakat. Cak Nun dan Kiai Kanjeng tidak anti terhadap musik tradisional, namun tidak juga menolak musik modern dunia –tetapi tidak bersedia diperbudak oleh keduanya. Bertahan konservatif dalam budaya tradisi membuat manusia lenyap dari sejarah, tetapi menyediakan diri diseret oleh budaya globalisasi membuat manusia menjadi budak kebudayaan yang dipanglimai oleh kapitalisme industri. Melawan globalisasi tidak dengan puritanisme tradisional-lokal, tapi dengan memijakkan kaki di tanah tradisi sambil menelan tawaran globalisasi untuk diolah dengan kepribadian yang mandiri.

Bukan hanya dalam budaya musik saja Cak Nun dan Kiai Kanjeng mewujudkan sikap pascaglobalis, melainkan juga di segala bidang. Cak Nun dan Kiai Kanjeng bersentuhan terus menerus dengan berbagai segmen masyarakat dalam konteks budaya, keagamaan, teknologi, dan birokrasi – namun tidak terkooptasi oleh segmentasi itu. Bergaul terus-menerus dengan berbagai wilayah politik, namun tetap mempertahankan independensi, nasionalisme murni, dan nurani kemanusiaan sejati.

Spirit Kiai Kanjeng

Dihitung dari tahun keenam berdirinya, yakni sejak Juni 1998 hingga Desember 2005, Kiai Kanjeng telah mengunjungi lebih dari 21 provinsi, 376 kabupaten, 930 kecamatan, dan 1.300 desa di seluruh wilayah Nusantara. Tidak hanya itu, Kiai Kanjeng juga kerap kali diundang ke mancanegara, di antaranya adalah tur enam kota di Mesir, Malaysia, rangkaian ke Eropa yang meliputi Inggris, Jerman, Skotlandia, dan Italia. Maret 2006, Kiai Kanjeng kembali diundang Malaysia dan Brunei Darussalam. Akhir 2006, mereka melakukan serangkaian perjalanan ke Finlandia pada acara Amazing Asia dan Culture Forums atas undangan Union for Christian Culture.

Kesuksesan Kiai Kanjeng menembus terowongan budaya Barat dibuktikan dengan keikutsertaannya dalam festival musik kelas dunia di Mekah-nya musik kelas dunia

Konservatorio Napoli. Di Napoli itulah, pentas musik kelas wahid dunia diselenggarakan. Sudah barang tentu, nama grup musik yang ikut serta akan tercatat dalam cakrawala musik dunia yang mengharumkan nama bangsanya. Tak mengherankan kemudian kalau Kiai Kanjeng mendapatkan undangan mengalir dari berbagai negara Eropa, termasuk Kanada, Amerika Serikat, dan Australia.

Kesuksesan Kiai Kanjeng menembus budaya Barat tanpa harus kehilangan pijakan kebudayaan Nusantara merupakan catatan prestasi yang layak dicatat bangsa Indonesia. Kiai Kanjeng bisa membuat bangsa Indonesia bangga karena bisa sejajar dengan berbagai negara maju. Dengan khazanah kebudayaan Nusantara yang melimpah, Kiai Kanjeng bisa membawa Indonesia sejajar dengan Barat. Kiai Kanjeng bukan sekadar capaian sukses grup musik, lebih dari itu, Kiai Kanjeng merupakan capaian sukses sebuah kebudayaan dan peradaban Indonesia. Jejak-jejak spirit Kiai Kanjeng itulah yang selayaknya menjadi spirit generasi bangsa untuk menghadirkan Indonesia sebagai bangsa yang berkebudayaan dan dengan peradaban tinggi.

* Muhammadun AS, Pemerhati Budaya, Pengelola Perpustakaan Al-Hikmah Pati
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/01/khazanah-kiai-kanjeng-melintasi.html