Mempertanyakan Kembali Makna Kebebasan

Ahmad Fauzi Hasbullahi
http://www.kompasiana.com/ahmadfauzihs
Judul Buku : Manusia Tanpa Batas
Penulis : Nurani Soyomukti
Penerbit : Prestasi Pustaka
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : xxiii + halaman

Tercatat dalam sejarah bahwa dalam perjalananya kebebasan muncul bersama-sama dengan membelenggunya aturan-aturan yang diciptakan oleh penguasa. Banyak filosof maupun pemikir besar dunia terobsesi untuk mewujudkan kebebasan yang merupakan cita ideal itu. Berbagai perlawananpun dilakukan untuk memperoleh kebebasan, bahkan tidak sedikit nyawa menjadi korban.

Pada era perjuangan melawan penjajah, bangsa ini telah melahirkan beberapa pejuang yang selalu mengusung isu-isu kebebasan pada jamannya, Soekarno, Hatta, Syahrir, Aidit, para politisi dan negarawan yang usianya sangat muda. Bersama-sama dengan massa rakyat dengan konsisten mereka memperjuangkan kebebasan hingga akhirnya kemerdekaan bangsa ini bisa diraih.

Itulah mengapa cita-cita ideal ini tidak hanya terdapat dalam lembaran buku para penulis, maupun syair-syair para sastrawan. Namun juga telah terkodifikasi dalam banyak Undang-undang diberbagai belahan dunia. Tidak hanya itu kebebasan telah diterjemahkan dalam kebijakan-kebijakan publik baik ekonomi, politik maupun yang lainya.

Pejuang kebebasan adalah penentang cara-cara lama yang sudah tidak relevan lagi dengan dunia yang terus berkembang. Ia mengandaikan sebuah perubahan yang revolusioner dan progresif meskipun disadari dalam mewujudkan hal ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan perjuangan yang konsisten dan sistemik. Tentu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang kritis dan memahami akan realitas social dimana dia hidup.

Kemunculanya tidak harus berangkat dari orang-orang yang selama hidupnya dimanjakan oleh “kebebasan”. Namun ia justru kerap muncul dari orang-orang yang selalu terpasung dalam tradisi dan aturan lama yang menindas. Kemudian dia meneriakkan kebebasan itu meski berbagai intimidasi dan represi menggagalkanya, namun ruh kebebasan nyatanya tidak pernah mati dan seakan selalu gentayangan hingga akhirnya menitis dalam setiap zaman dimana masih terdapat penindasan.

Buku “Manusia Tanpa Batas” yang ditulis oleh Nurani Soyomukti ini menjelaskan makna sebuah kebebesan yang sejati. Dimana menurutnya Sepanjang kita mampu memenuhi hasrat ingin tahu dan menindaklanjuti apa yang kita ketahui dengan perbuatan yang baik dan diterima sesuai akal sehat kita, tibalah kita pada kebebasan yang sejati.

Selanjutnya ia menambahkan dan menegaskan bahwa kebebasan sejati lahir dari orang yang dalam hidupnya mempunyai tujuan. Baginya Tidak ada kebebasan dalam jiwa orang yang hidupnya absurd dan tak tahu untuk apa tujuan hidupnya.

Orang model begini akan terombang-ambing oleh lingkungan dan berbagai serangan-serangan pemikiran dan cara pandang dari luar dirinya, tetapi tetap saja ia tak dapat menyerap berbagai hal yang datang untuk mengisi pikiran dan hatinya. Ia tak punya patokan, tak punya ukuran yang digunakan untuk menilai diri dan lingkungannya.

Nurani dalam buku ini juga mempertanyakan kembali dan bahkan mengkritik kebebasan ala kapitalisme, yang cenderung ekploitatif dan destruktif. Pada awal-awal bab misalnya dia mengatakan : “Dan sayangnya kebebasan sejati, kebebasan yang bermakna, atau minimal hilangnya belenggu penindasan, belumlah hadir dalam kehidupan kita.” Dia kemudian menambahkan “Kebebasan yang menghasilkan tindakan yang membuat orang lain sengsara bukanlah kebebasan, tapi destruksi”.

Sebagaimana karya-karya nurani yang lain dalam buku ini dia menggunakan teori spikologi-kritis seperti (psikoanalisa) Sigmund Freud, Erich Fromm bersama analisa sosial Karl Marx sebagai landasan teoritis-filosofis. Sehingga tidak heran jika dalam semua buku-bukunyapun seperti seperti memahami Filsafat Cinta, Pendidikan Berperspektif Globalisasi, Revolusi Bolivarian, Hugo Chavez, Dan Politik Radikal, Revolusi Sandinista: Perjuangan Tanpa Akhir Melawan Neoliberalisme dan buku lainya, nama-nama mereka selalu hadir dan kata-katanya selalu menghiasi.

Ditengah maraknya orang mengekpresikan kebebasanya. Baik melalui tulisan opini, artikel dan sebagainya dimedia massa maupun elektronik Buku ini menjadi penting untuk dibaca lebih-lebih untuk melengkapi daftar pustaka buku-buku kiri yang penulis melihat masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan novel-novel yang kebanyakan justru terjemahan.

Bagi para aktivis terutama mahasiswa yang tetap konsisten dengan perlawanan untuk terus memperjuangkan kebebasan, HAM dan Demokrasi di negri ini wajib membaca buku yang sangat kritis ini. Penasaran, buktikan sendiri.