Mimpi James

Dwi Rejeki
http://www.suarakarya-online.com/

Ruangan berukuran tiga setengah kali lima meter itu nampak sepi dan dingin. Dari bagian atas, menetes tiga butiran bening air. Malam ini, hujan memang turun sedikit deras. Tidak seperti malam-malam kemarin, hujan deras tapi hanya sebentar, malam ini hujan deras cukup lama, lebih dari dua jam.

James, anak manusia penghuni kamar itu yang biasa kupanggil Mas James, nampak mengigil. Padahal dinginnya malam ini tak seperti di tempat lahirnya dulu. Dia kini terbiasa dengan udara panas Jakarta.

Di kamar kontrakannya yang terletak di daerah padat penghuni di kawasan Petogogan, Blok A, Fatmawati, Jakarta Selatan itu, tampak berserakan koran-koran terbitan kemarin.

Belum lagi baju-baju bekas pakai bergelantungan di belakang pintu masuk ke kamarnya. Tiga butiran bening air, yang jatuh persis menimpa kasur tidurnya, serta merta menghancurkan mimpi Mas James tentang Jakarta, malam itu. Kasurnya basah.

Dari sisi lemari, diambilnya sebuah tikar anyaman dari plastik. Di bentangkan tikar itu di lantai yang kering, lalu Mas James mencoba tidur kembali.

Irama tetes hujan yang menimbulkan bunyi tes tes tes di atas baskom kecil, membuat Mas James terlena lagi. Dalam beberapa menit kemudian, Mas James pun menerima mimpi yang lain tentang Jakarta.

***

“Mas Jammmmmmmmmmmes…… ”
Sebuah suara agar memelas, hadir secara tiba-tiba, ke tengah kamar kontrakan itu.
James terperangah. Dia merasa pernah akrab dengan suara tersebut di telinganya.

“Selamat malam Mas Jamessss,” suara itu kembali bergema, dari dinding kamar sebelah kiri. James memperhatikan kamar itu, tetapi dinding itu hanya remang remang.
Suara itu membuat dia sedikit bergidik. James bukan pria penakut. Dia coba bertanya, “Siapa kamu?”
“Ah, kamu, Mas James. Aku sangat mengenalimu, kini tak lagi mengenaliku?”
“Ya rasanya pernah mengenali jenis suaramu. Tapi kamu siapa?”

“Aha… siapa lagi kalau bukan sobat kentalmu dulu. Hanya kawan sekampung yang tak kenal James. Dan hanya kawan kotamu yang tak kenal Mas James atau Mas Ja’im.”

“Hei…. aku mohon kamu tidak sebut lagi nama itu. Kamu Kasimo? Tono? Bagong? Tatang? Atau… atau kau si Pelit anak Pak Sarman?”
Amboi, sudah sedemikian buruknya kau di sini, Ja’im?”

Suara dari dinding kiri yang remang, membuat James semakin penasaran. Suara itu pernah akrab di gendang telinganya. Tapi dia lupa, siapa pemilik. Suara itu memanggilnya dengan Ja’im. Berarti dia kawan sewaktu kecil.

“Sobat, jangan banyak memberikan penasaran. Jamahlah tombol di dekatmu. Maka lampu akan menerangi kamar ini. Dan dengan begitu aku bisa mengenali siapa kamu. Lalu kita ngobrol dengan tenang. Ya, biar kujamu kau, tamuku…”
Terima kasih, sobat. Aku terbiasa dalam remang. Tak usahlah repot-repot menjamuku. Aku hanya sebentar kok.”
“Tapi, kamu tamuku, bukan? Sebagai tuan rumah yang baik, tak sepatutnya membiarkan tamu berdiri dalam remang.”

“Hahahahaha… kamu jadi pintar basa-basi. Tetapi kamu juga begitu munafik. Kamar kecilmu ini, tak lebih seperti jalan pikiranmu yang sempit. Di sini tak ada kursi untuk tamu, di mana aku kau persilakan duduk? Bukankah kursi satu-satunya di kamarmu ini, sarat oleh kasur setengah basah itu?”
“Ya, ya, maafkan aku. Tapi bukankah kita dapat duduk bersama di atas tikar ini? Mari kawan, duduklah.”
Suara itu tetap diam di keremangan.
“Baiklah, kalau begitu, sebut namamu sobat.”

“Hahahahaha… tak perlu itu. Tak guna mengingat-ingat kembali nama yang tercatat sejarah. Apalagi dalam HP-mu, namaku nggak ada kan?”
Dinding remang gemuruh tawa. James bergidik. Dia juga membenci suara itu.
“Kau kenal kerbau?” suara itu kembali bertanya.
“Maksudmu apa?”

“Yah, kerbau. Kerbau yang suka dihalau, dicocok hidungnya, dibebani bajak. Kerbau yang menggaruk tanah sawah bapakmu.Kerbau yang membawamu ke kota ini.”

James beringsut, mengambil bantal, dan mendekapnya. Perkataan kerbau, mengingatkan James pada peristiwa beberapa tahun silam. Bapaknya menjual dua ekor kerbau yang terbesar dan gemuk. Hasil penjualan itu, dikirim ke kota untuk sekolah James. Pamannya yang baru beranak satu waktu itu, bersedia menjaga dan merawatnya.
“Apa maksudmu dengan kerbau-kerbau itu?”
“Aha, Ja’im. Akulah yang dulu membantu bapakmu menjualkan kerbau-kerbau itu ke pasar.”

James jadi ingat. Suara itu pasti milik Tarno, si pitak tiga yang tinggal bersamanya dulu. Tarno anak yatim piatu. Orangtuanya menganggap Tarno seperti anak sendiri. Tarno hadir di tengah-tengah keluarga mereka, membuat dia tak kesepian lagi. Tarno bukan hanya teman bermain saat itu, bahkan menjadi pembela kalau terjadi perkelahian. Tetapi kenapa suara itu amat berbeda, jadi demikian berwibawa.

“Ja’im, kerbau yang tersisa tiga ekor di kandang bapakmu, kini tak lagi dapat kau jumpai, seandainya kau pulang nanti…”

James terperanjat. Itu berarti ‘kejayaannya’ segera berakhir. Tidak lagi bergelar cukong. Tidak lagi berani melirik gadis manis, untuk diajak kencan malam Minggu.

Mukanya yang merah, kini mulai memucat. Bagaimana tidak, kerbau tak ada, berarti sawah tak berfungsi. Atau barangkali sawah pun tak lagi dimiliki bapaknya. Cilaka.
“Jadi…” suara James gemetar.
“Aha… anak cengeng, anak bodoh. Begitu sempitnya ruang pikirmu.”

“Gila. Berani benar dia memakiku.”pikir James dalam hati. Tak seorang pun kawan-kawannya berani berkata sekasar itu. Mas James sangat dihormati. Maklum dia seorang cukong, maka selalu patut didekati.

“Tentu saja tiga ekor kerbau itu sudah tak layak dimiliki untuk menggarap sawah. Tiga ekor kerbau itu dihadiahkan bapakmu kepada tiga kawan termiskinnya di kampung kita. Dan tiga kerbau itu, telah mewariskan keturunan yang cakap. Mereka benar-benar bapak dan ibu kerbau yang bijaksana. Merelakan keturunannya membantu bapakmu mengalah tanah sawah,” suara itu menghardik. James menarik nafas, lega. Hampir saja dia rasakan, usaha rintisannya mendekati Diani, harus segera dihentikan. Tapi untung saja, hal itu masih hampir.
“Berapa ekor kini kerbau bapakku?”

“Pemuda kerbau. Jangan tanya itu. Aku datang diutus bapakmu untuk menyampaikan berita gembira. Dengarkanlah dengan baik, sebelum aku beranjak dari kamar ini.” “Cepat, katakanlah. Mari duduk, sobat.”

“Ayahmu kini memiliki traktor penggarap tanah sawah. Kerbau-kerbau tak pantas lagi diajak membalikkan tanah sawah milik bapakmu yan gkian luas. Lereng barat, sampai bukit timur, itulah harta bapakmu. Dan ini berarti, bapakmulah orang satu-satunya yang menjadi petani traktor di kampung kita. Dan, kabar gembira itu, ialah bapakmu kini sangat terpandang, Mas Jamessss.”

James memekik. Ingin rasanya dia memeluk pemilik suara itu. Tetapi si pemilik suara, mengisyaratkan jangan bergerak. James menurut saja. Berita itu amat penting. Untuk itulah dia lebih baik menuruti kehendak si pemilik suara, agar dilanjutkannya berita gembira itu.
“Tarno, ini berita bapakku bertambah maju.” James tak sabaran.

“Ya, bahkan bapakmu memiliki puluhan tenaga pekerja baru. Mereka membantu bapakmu mulai dari penggilingan padi dengan menggunakan mesin, sampai penyalur beras ke kota-kota besar, termasuk di Jakarta ini ada beberapa orang yang menjadi agen beras bapakmu. Jadi, benar sekali kalau kamu menilai bapakmu sekarang mengalami banyak sekali kemajuannya. Soalnya,beras yang disalurkan terkenal kualitasnya terbaik di kampung kita. Tidak heran, jika agen beras bapakmu di Jakarta ada yang sekali order beras mencapai 25 ton sekali kirim.”

“Bukan main. Bapakku semakin melesat saja. Hebat sekali bapakku. Dari petani sawah yang mengandalkan tenaga kerbau, kini menjadi penyalur beras berkualitas bagus. Hebat, hebat…” James berteriak kegirangan.
“Benar. Itulah kabar yang ingin kusampaikan kepadamu Mas Jamessss.”
“Terima kasih sobat. Terima kasih.”

“Aku tak lama di sini, Ja’im. Bapakmu mengharuskan aku segera pulang ke kampung. O ya, bapakmu minta, kalau pulang jangan lupa membawa cerita yang bagus tentang perkembangan kuliahmu, tentang apa yang kau lakukan di sini, di Jakarta ini, termasuk tentang kamarmu yang sumpek ini, kamarmu yang atapnya bocor-bocor ini, sehingga di malam yang hujan dan dingin ini kamu mesti tidur di lantai beralaskan tikar plastik karena kasusmu bawah kena tetesan air hujan.”

“Apa iya, semua aku harus ceritakan, termasuk tentang kamar kontrakanku ini? Apa tidak berlebihan?” tanya James. “Ya aku kira semua diceritakan saja kepada bapakmu,supaya jelas. Aku juga sudah mampir ke pamanmu. Dan dia cerita banyak tentang dirimu Mas James. Pasti aku akan ceritakan ke bapakmu apa yang sudah aku denger dari pamanmu.”
James jadi bingung. “Cilaka benar kamu Tarno.” begitu kata hatinya.

“Cepat Mas Ja’im. Waktuku tinggal sedikit. Aku harus tiba pagi ini dengen kereta malam yang terakhir dari stasiun Beos, Jakarta Kota. Cepat Ja’im, hujan sudah mulai reda. Apa yang kau lakukan di Jakarta ini? Apa Mas Ja’im?” suara itu mendesak.
James hanya diam. Bingung dan merenung.
“Apa yang kamu lakukan di Jakarta ini James?” bentak suara itu lagi.

James makin kebingungan. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Lama dia berpikir, tiba-tiba dia bergumam, “Aku… aku … tak tahu…”

James sebenarnya khawatir. Jika dia menuturkan tentang apa yang telah dilakukannya selama ini di Jakarta, hanya akan membuat bapaknya sedih, lalu sakit dan menyesali dirinya untuk selama-lamanya. James selalu dikirimi uang bulanan untuk biaya kuliah dan hidup di Jakarta. Padahal sejak dua tahun lalu James sudah menjadi penganggur, bahkan dicari-cari polisi karena terindikasi kasus penipuan.

***

James tersadar dari tidurnya. Dia bangkit,lantas duduk. Hari sudah agak terang, tetapi dingin sekali.
“Apa yang kulakukan?”
Itulah kalimat yang pertama keluar dari mulutnya ketika dia menghampiri jendela kamarnya.
James masih nampak bingung. Tak ada yang bisa diucapkannya sebagai jawaban.
“Aku tak tahu …” desisnya lemah.

Untuk menghindari kebingungannya, dia menjemput sebatang rokok kretek, yang menggeletak tak jauh dari tikar tidurnya. Disulutnya rokok itu, dan diisapnya kuat-kuat.
Tiba-tiba matanya bersinar-sinar. Nampaknya dia sudah mendapatkan sebuah jawaban atas mimpinya semalam.

James berdiri, lalu berteriak sekeras kerasnya hingga membuat tetangga kamar kontrakannya kaget. “Bapak, aku Ja’im, anakmu. Setiap hari menghisap rokok, mematikan puntungnya ke dalam asbak. Lalu menghisap sebatang rokok lain, kalau sudah kepingin.”

Di luar hujan memang tak lagi turun. Tapi matahari belum juga menampakkan diri. Hari memang masih terlalu pagi. Beberapa tetangga kamar kontrakan yang merasa terganggu saat mendengar teriakan keras James tadi menilai, James telah hilang ingatan. Dia mungkin gila, gara-gara mimpi semalam. ***

* Purworejo 2009