Nada Puisi

Alex R. Nainggolan
http://www.suarakarya-online.com/

“Puisi datang pertama kali kepada kita lewat nadanya…”
Demikianlah Goenawan Mohammad menulis sebuah esai tentang sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo. Puisi seperti menemukan artinya sendiri tanpa dituntun sekalipun. Ia barangkali mirip susunan nada musik yang nyentrik. Ia seperti orang buta yang mendengar susunan bunyinya sendiri.

Bunyi mistis yang magis. Magis yang terus mendebarkan rasa keingintahuan paling jauh, untuk menemukan makna terdalam dari sebuah kata. Tak mengherankan acapkali berdengung di kepala, meninggalkan semacam jejak untuk memberi penafsiran selanjutnya. Ia menyisakan jejaknya sendiri yang kerap terangkai antara satu kata dengan lainnya.

Maka kita mendapati puisi-puisi yang (semacam) memiliki nada tersendiri. Ia merupa alunan lagu, yang sebentar, berdenting lalu menjemput sebaris hening. Rangkaian diksi seperti berbunyi dengan sendiri. Ia mengoyak segala yang dianggal kecil dan remeh. Merebutnya, membukakan ruang yang baru.

Bahkan tak jarang melompat dari satu kekosongan ke kekosongan lain. Setelah itu memang ada tema-tema kehidupan yang masuk. Berkisah tentang pengalaman penyair atau sekadar pemantauannya terhadap sekeliling. Tidak tertutup kemungkinan pula bila sebuh puisi disusun secara sistematis dari guguran bunyi yang telah tersusun dengan harminis. Maka menikmati puisi sesungguhnya pula menikmati kata-kata itu sendiri.

Puisi mulanya adalah bunyi. Gaung kata, yang mengandung pengertian itu sendiri, demikian Sutardji Calzoum Bachri berucap. Tak bisa dikoyak, tak akan bisa dirubah. Ia tak bisa dipaksa untuk menciptakan pengertian-pengertian yang lain. Ialah pengertian itu sendiir: sebuah kata. Yang ada hanyalah tinggal kita menikmati skaligus meresapi apa yang dikandungnya.

Seperti menikmati sebuah musik, kita akan melayang dalam sebuah simponi yang tak terganti. Pun baik atau buruknya tergantung cita rasa. Engkau bisa bilang jenis musik dangdut, blues, atau rock adalah yang terbaik. Tetapi di satu sisi, orang lain lebih menikmati punk, jazz, atau pop.

Akhirnya selera pula yang berbicara. Meskipun puisi itu memang baik, setiap orang pasti akan mengakuinya, terlepas ia suka jenis musik yang berbeda.

Rangkaian diksi yang tersusun lebih mengisyaratkan hal tersebut. Ia akan terus beranjak, menempuh cara pembacaan masing-masing dan meninggalkan jejak di benak si-pembacanya. Bila Acep Zam-Zam Noor menyebut ukurannya adalah bulu kuduk, agaknya ia benar. Kekayaan kata yang ada dalam puisi bisa sekejap lebur dan lulur hinggap di mata batin. Tentunya, sebagaimana yang diharapkan dari kerja sastra itu memberikan sedikit pencerahan bagi pembacanya. Ia bisa merangkum dan meramu sekaligus setiap bentangan peristiwa yang dipenuhi luka. Ia bisa asik bersembunyi di dalam kamar, tanpa mesti bersedih. Ia bisa terus berdetak seirama dengan degup jantung. Dan nada-nada yang dibentuknya seakan meremas semua cabikan duka juga bisa juga semacam gumam yang berdoa.

Beragam nada itu terus menggema, bahkan setelah puisi selesai ditulis. Ia akan mengembara melewati jejak kata-katanya sendiri. Ia seperti melayang dan menelusup ke setiap gaung kesadaran. Dan dalam pembacaan sajak yang panjang, kita seperti menikmati hamburan bunyi itu. Seakan-akan membentuk alunan nadanya sendiri yang terasa merdu, menguliti seisi kepala. Ia seperti mengguncangkan setiap kesadaran dan bertahan di dalam kepala. Meskipun puisi tersebut dibaca dengan perlahan, ia tetap saja menyisakan nadanya sendiri semacam sebuah hentakan yang terus saja menguntit, lalu membangunkan kesadaran dari dalam diri.

Mungkin ada benarnya juga, jika kerja sastra adalah sebuah proses yang berkesinambungan. Suatu upaya yang tak kenal lelah, katakanlah untuk membangun jiwa dalam manusia itu sendiri. Memberi semacam pintu untuk dimasuki. Dan sayapun terkenang pada sejumlah sajak yang membicarakan sajak itu sendiri. Semacam yang ditulis Joko Pinurbo dalam “Pelajaran Puisi”, ia menyebut begini: “Puisi itu hutan rimba,” ia memulai pelajaran. “Kalian mau jadi anak rimba?”. dengan memasuki puisi, yang bagi Pinurbo adalah hutan rimba kita juga dihadapkan dengan beragam peristiwa yang mesti diresapi, didengar layaknya sebuah lagu. Ia semacam usaha untuk membuka rangkaian nada-nada yang ada, menemukan jenis musik yang diingini. Setiap jalinan kata yang sarat makna itu akan terus menggema.

Mengendap, menelusup saat dibaca. Dengan topangan kata-kata yang terikat, seperti menciptakan sebuah simfoni. Semacam ingin membumbung tinggi, menyelinap ke setiap benak dan mengembara. Mungkin, pembaca sendiri juga yang akan turut mengembara, mengikuti perjalanann kata-kata itu sendiri. Dan puisi seperti menghentak unsur keterjagaan, menyingkap semua gelombang sunyi yang terpancar dari helai-helai diksi.

Seorang penyair agaknya memiliki cara sendiri untuk menuliskan sajaknya. Barangkali apa yang diniatkan merupakan sebuah alur pemikiran yang diolah dari batin bawah sadarnya. Maka sajak-sajak yang lahir merupakan potret tersendiri dari perjalanan hidupnya, atau katakanlah sebagai catatan pribadi. Jika memang ia bertemu dengan luka kehidupan, sajak-sajak yang ditulisnya akan berkisah banyak. Luka yang mengendap seperti memberi bisikan tersendiri, luka juga yang membuat seorang Chairil Anwar mencipta “Aku”-nya. Gaung luka yang akan terus menggema, sampai jauh.

Maka bunyi itupun seperti menjerit, menyingkap gaung sunyi yang tertahan di sana. Ia melingkupi setiap diksi yang ada, membuka auranya tersendiri. Untuk itu, tak heran pula jika banyak puisi yang digubah jadi lagu. Sebab pemetaan bunyi dalam puisi begitu tertib, ia seperti melengkapi setiap celah yang tersembunyi. Dan berdenting menjemput segala hening. Dengan jejak rekam kata yang saling bersinttaksis, ia bisa menjelma obat bagi kesunyian atau kesedihan itu sendiri.

Artinya, puisi memang sebuah lagu. Lagu tentang gembira maupun sedih. Lagu yang berhubungan dengan karsa atau alam bawah sadar. Bagi pembaca atau pencipta (penyair)-nya. Ia semacam denting yang terus berdengung, hingga sebuah puisi habis dibaca. Membuka auran bunyi yang lainnya. Ia seperti menghidupkan segenap peristiwa yang mungkin ditulis dengan perasaan gamang yang amat sangat, dengan penuh gairah, atau jiwa yang sedang gelisah. Dengan demikian, secara lugas puisi berupaya merengkus semua auran bunyi yang ada. Dari sebuah decak, katakanlah mungkin ia bisa merentas ke segala situasi. Semacam ingin memberi kabar pada dunia. Mudah-mudahan pula ia akan menjelma dalam keabadian yang akan berteriak, bahkan hingga seribu tahun lagi (meminjam ungkapan Chairil Anwar) ***

SuaraKarya25 Juni 2011