Nasib Kesenian Tradisional

Undri
http://www.harianhaluan.com/

Coba kita sandingkan bila dua bentuk kesenian tampil dalam waktu dan tempat yang bersa­maan, organ tunggal dan randai misalnya. Sudah dapat dipas­tikan dan tidak perlu diragukan ,organ tunggallah yang paling diminati dan disaksikan oleh masyarakat. Apalagi bagi kaula muda. Berduyun-duyun hanya untuk menyaksikan dan men­dengarkan alunan musik yang dicampur dengan suara dentu­man –dentuman yang membuat hiruh suasana. Kadang-kala lirik lagu sayup-sayup terdengar karena tergilas oleh suara dentuman tersebut. Berbalik dengan gambaran itu, atraksi randai misalnya bila ditam­pilkan minim penonton, walau­pun ada itu hanya orang tua-tua saja. Tidak berhenti disitu saja, acara ditampilkan hanya disaat acara pembukaan saja-palamak sebuah acara. Bagi generasi muda, kegan­drungan­nya terhadap “budaya ala barat” tersebut tidak dapat disalahkan. Tidakkah kesenian tradisional, randai misalnya yang digelar membikin orang ngantuk. Hambar dengan kre­asi. Ini jamak terjadi dinegeri yang konon mengagung-agung­kan kesenian tradisionalnya.

Sumatera Barat dengan kekuatan adat dan budaya yang dimilikinya dengan kekuatan utama pada nagari-nagari yang memiliki kekhasan kesenian tradisional. Bahkan antara satu nagari dengan nagari lainnya memiliki kekhasan kesenian tradisional mulai dari bentuk, lirik, waktu penampilan kese­nian dan lainnya. Sebuah modal pembangunan yang maha dahsat bila dikelola dan dilestarikan dengan baik. Namun sampai sekarang ini perihal kesenian tradisional dalam segi pengelolaan dan pelestariannya masih jauh dari harapan terutama sebagai modal pembangunan Sumatera Barat kedepannya.

Kita tidak dapat menafikan selama ini, kesenian tradisional dianggap sebagai pelengkap penderita saja. Bagi pihak pemerintah daerah upaya untuk pengelolaan dan pelestarian kesenian tradisional kalah bersaing dengan program dalam bidang pariwisata. Group-group kesenian dikelola bila dibu­tuhkan untuk dikirim ke acara-acara rutin kesenian atau pengiriman delegasi ke daerah lain atau keluar negeri. Setelah itu dibiarkan saja. ibarat kera­kap di atas batu jadinya-hidup segan mati tak mau. Walaupun ada beberapa daerah yang serius memperhatin kesenian tradisional ini untuk tumbuh dan berkembang namun rasa­nya tak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat untuk memiliki dan melestarikannya.

Perihal tersebut tidak ber­henti disitu saja, begitu banyak kesenian tradisional yang ada tidak diketahui dengan baik dan dilestarikan oleh pendukung kesenian itu sendiri. Kadang kala sudah terkikis bahkan punah. Pada hal itu merupakan budaya khas yang ada pada daerah tersebut. Berbagai alasan muncul penyebab terkikis dan kepuna­hannya. Mulai dari persoalan arus global yang tak terbendung yang menelan kesenian tradisional itu sendiri sampai kepada perihal duku­ngan pendanaan yang minim bahkan tidak ada sama sekali dari pemerintah. Walaupun itu perihal klasik namun itulah faktanya dilapangan. Sebagai konsekuensi logis dari semua itu adalah kesenian yang ada akhirnya menjadi “patung” yang tak punya makna apa-apa bagi masyarakat pendukung kebu­dayaan itu sendiri. Namun ironinya, kesenian tradisional yang seharusnya berkembang di daerah kita malahan ber­kem­bang di negara tetangga. Beberapa kesenian kita mala­han hidup dan lestari di negara jiran tersebut. Sesuatu yang kontradiktif, kalau kita ber­bicara masalah pelestarian kesenian tradisional daerah. Serta sebuah keironian ketika kita ingin melestarikan budaya daerah kita sendiri.

Sungguh susah untuk men­jawab siapa dan apa yang salah selama ini. Memang kita yang salah selama ini terutama dalam mengelola dan meles­tarikan kesenian kita sendiri. Kita tidak peduli dengan kesenian kita sendiri. Bahkan merasa bangga kalau kita memakai kesenian orang lain (luar).

Bagi orang tua-tua kadang­kala tidak peduli untuk mewa­riskan dan mengajari kesenian tersebut kepada generasi muda. Bagi generasi mudapun enggan untuk mempelajarinya bahkan merasa rendah diri. Setali dua uang jadinya. Akhirnya punah jua budaya kita. Kemudian kita tidak punya data secara tertulis tentang kesenian tradisional kita sendiri. Semua perihal masalah budaya hanya berbentuk lisan-dituturkan dari mulut ke mulut. Kebiasaan kita menuturkan secara lisan atau ota lapau punya andil dalam hal ini. Jarang sekali ditemui pada nagari-nagari yang penulis kunjungi ada database secara tertulis tentang kesenian tradi­sional yang ada dinagarinya. Penuturan secara lisan itu dari yang tua-tua yang hampir pula akhir hidupnya. Itupun banyak yang lupa bila ditanyakan lebih rinci tentang kesenian yang ada di daerahnya. Coba bayangkan dan pikirkan kalau si tua tersebut sudah meninggal, kepada siapa lagi kita akan bertanya ?. Jadi nampaknya ibarat penyakit, kita ini kronis dalam segi pengelolaan ke­senian tradisional kita sendiri. Janganlah disalahkan bila tetangga kita merasa memiliki kesenian kita sendiri. Atau dengan bahasa kasarnya “men­caplok” kesenian tradisional kita sendiri. Sebab mereka yang giat-giat melestarikannya se­dangkan kita tidur pulas de­ngan kibasan budaya orang lain (luar).

Ke depan, semua elemen masyarakat harus ikutserta dalam mengelola dan meles­tarikan kesenian tradisional ini. Pemerintah haruslah giat-giatnya untuk melakukan pe­nge­lolaan dan pelestarian kesenian tradisional ini sebagai modal pembangunan daerah. Bagi orang tua-tua tidaklah merasa enggan untuk mewa­riskan dan mengajarinya perihal kesenian tradisional yang ia ketahui kepada gene­rasi muda. Begitu pula dengan generasi muda, janganlah merasa rendah diri dan enggan bila mem­pelajari kesenian kita sendiri. Bukan orang lain yang akan mempelajari dan melestarikan kesenian kita namun kita sendirilah yang sebetulnya punya andil untuk mem­pelajari dan melestari­kannya. Kemu­dian kita tidak dapat menya­lahkan siapa yang bersalah dalam perihal ini. Ini semua adalah kesalahan kita. Melaku­kan yang terbaik untuk meles­tarikan kesenian tradi­sional daerah kita kedepan­nya adalah jawabannya. Wasallam.

(Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang) 08 May 2011