Potret dan Imajinasi Kekuasaan

Bandung Mawardi
http://www.lampungpost.com/

Alkisah, sebuah kisah di suatu zaman saat politik menggelitik dan seorang penguasa mendefinisikan diri. Kebermaknaan kekuasaan, eksistensi diri, dan penghormatan simbolis masih ada. Semua diperantarai oleh potret. Representasi diri, tanda kehadiran. Potret memang bercerita, memiliki tuah kekuasaan. Orang merasai itu kala 1950-an dan 1960-an di sebuah negeri Indonesia.

SEORANG polisi menemui Presiden, memberi laporan ganjil. Ia menjelaskan kabar baik tentang situasi politik, rakyat, dan martabat penguasa. Laporan diawali kalimat-kalimat impresif: “Rakyat sangat menghargai Bapak. Mereka mencintai Bapak. Dan terutama rakyat jelata. Saya mengetahui karena saya baru menyaksikan sendiri suatu keadaan yang menunjukkan penghargaan terhadap Bapak.” Jeda, sela percakapan. Napas diembuskan, tanggapan Presiden dinantikan dalam tampilan wajah dan bahasa. Polisi itu telah menunaikan sejenis penghormatan. Kalimat-kalimat seolah memenuhi kodrat hamba memuliakan tuan, birokratis. Ungkapan “saya baru menyaksikan sendiri” adalah kunci ada kebenaran dalam laporan. Si pelapor adalah “mata peristiwa”. Kesaksian penting dalam menjamin lakon kekuasaan dan kondisi psikologis-batiniah seorang penguasa.

Bukti rakyat mencintai Presiden? Si polisi melaporkan, inspeksi rutin ke sebuah kompleks pelacuran membuat aparat terperangah. Pada sebuah pemeriksaan ditemukan pemandangan mengejutkan, fakta. “Mereka (polisi) menyaksikan potret Bapak, Pak. Digantungkan di dinding,” kata si polisi. Kebenaran informasi ini membuat si polisi gugup, ada gemetar atas nama kekuasaan. Presiden terpancing meminta penjelasan komplet. Si polisi menyanggupi meskipun gugup: “Di tiap kamar, Pak. Di tiap kamar terdapat, sudah barang tentu, sebuah tempat tidur. Dekat tiap ranjang ada meja dan tepat di atas meja itu, di situlah gambar Bapak digantungkan.”

Gugup menantikan perintah dan tanggapan Presiden. Sosok penguasa itu, Sukarno, menerima laporan dengan tenang dan mungkin takjub. Rakyat masih mencintai, menghormati, dan memuliakan si penguasa. Si polisi justru salah tingkah, merasa keberadaan potret-potret Presiden di kamar-kamar di sebuah kompleks pelacuran adalah ketidakwajaran, aneh. Si polisi memberi usulan dan minta perintah: “Apakah akan kami pindah gambar Bapak dari dinding-dinding itu?” Perintah jadi alasan pengabdian untuk hamba. Makna perintah adalah ukuran taat, setia, profesionalitas, dan nama baik.

“Tidak. Biarkanlah aku di sana. Biarkan mataku yang tua dan letih itu memandangnya,” Sukarno menjawab lantang. Kharisma adalah jawab atas operasionalisasi kekuasaan, kebermaknaan penguasa, dan relasi intim manusiawi. Pelacur menghormati Presiden dengan cara menggantung poster di kamar. Sosok Sukarno hadir, dirasai sebagai bentuk pengakraban rakyat. Bimbang dan gugup polisi itu kehilangan alasan. Potret penguasa justru menemukan makna di sebuah kompleks pelacuran, antusiasme membaca kekuasaan dan bentuk serapan atas kharisma penguasa. Sukarno menerima laporan itu takzim, cerita menakjubkan untuk kondisi labil kekuasaan masa itu.

Kita mendapati percakapan itu dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (1996) susunan Cindy Adams. Sukarno memang keramat tapi menceritakan diri tanpa sungkan. Buku itu bertaburan cerita-cerita mengejutkan. Ada mitos kekuasaan, ada puja perempuan, petualangan intelektual, selebrasi imajinasi, dan pengabdian politik. Sepenggal cerita potret Presiden di kompleks pelacuran dan kesan Sukarno adalah suguhan atas percik permenungan manusiawi dalam bingkai kekuasan.

Sukarno turut mengonstruksi Indonesia, memimpin, dan menanggung popularitas. Masa-masa terang itu pelan-pelan redup dalam lakon politik saat ada sekian resistensi dan desakralisasi atas sosok penguasa dan kekuasaan (Orde Lama). Sukarno mengakui cerita itu terjadi di masa sulit, rawan, dan gamang. “Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja mirip dewa,” ujar Sukarno. Sosok ini memang kontroversial. Potret jadi nukilan dari biografi diri dan representasi nasib kekuasaan.

Mochtar Lubis pun mencatatkan ihwal potret dan Sukarno dalam sebuah cerpen satire, Potret (1982). Alkisah, Pak Darmo berusia 60 tahun, menekuni pekerjaan sebagai pedagang poster. Dagangan poster Sukarno, Mao Tse Tung, dan Aidit mendatangkan rezeki untuk menghidupi keluarga. Pak Darmo mafhum, rakyat gandrung pada Sukarno, presiden kharismatis. Mereka mau membeli dan memasang poster itu di dinding-dinding rumah, bukti representatif kehadiran sosok dan kekuasaan dalam intimitas keluarga. Rakyat memerlukan potret, memerlukan sesuatu untuk diimajinasikan dan dikisahkan.

Potret mengalirkan rezeki, potret Sukarno membuat seorang pedagang sanggup menafkahi keluarga. Laris dan digandrungi rakyat. Potret Sukarno mirip medium untuk identifikasi nasionalisme, fanatisme, patriotisme, dan heroisme. Keberadaan potret Sukarno di rumah-rumah rakyat menandai kekuasaan meresapi dalam takjub visual dan imajinasi-naratif. Potret turut menyebarkan dan menguatkan makna-makna kekuasaan. Masa itu, 1960-an, Sukarno tampil dalam keberlimpahan potret. Melihat potret Sukarno, melihat kekuasaan dan menikmati narasi besar sejarah Indonesia.

Rezim politik berganti, Orde Lama telah tamat dan Orde Baru ingin tegak. Pedagang poster tak sadar. Dagangan tak laku, tak ada rezeki. Rakyat tak mau membeli lagi potret-potret Sukarno. Pak Darmo tak curiga atas situasi tak menguntungkan, tak ada tanya. Ia cuma mengerti susah mendapat rezeki. Tuah Sukarno seolah musnah. Rakyat mulai mencari potret-potret Soeharto.

Pak Darmo tak mengerti. Di jalan-jalan, di kampung-kampung, ia tetap menjajakan potret-potret Sukarno kendati tak laku. Ulah ini membuat sekelompok orang marah dan menghina. Pak Darmo pun menjadi korban dari fanatisme politik. Cerita potret Sukarno adalah cerita getir di permulaan rezim Orde Baru.

Sekarang, kita mengenangkan Sukarno dan Soeharto melalui potret. Kita membaca sejarah kekuasaan, pasang surut politik, saat memandangi potret dan menautkan dengan pelbagai referensi politik, ekonomi, sosial, dan kultural. Potret mengisahkan manusia, zaman, dan arus kekuasaan. Potret dua penguasa itu perlahan bersaing untuk mendekam di lubuk rakyat. Usai keruntuhan Orde Baru, potret-potret Sukarno melimpah sebagai simbol pandangan politik dan fanatisme.

Potret Soeharto berkurang, mendekam dalam ingatan tanpa tatapan mata. Potret-potret Soeharto jarang digantungkan di dinding rumah rakyat. Potret Sukarno masih berkisah karena situasi politik memungkinkan ada selebrasi imajinasi historis-politis. Potret-potret itu bisa mengadakan dan menghilangkan narasi kekuasaan. Begitu.

Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo