Puasa dan Kesadaran Hakikat Kehidupan

Nurani Soyomukti
http://www.suarakarya-online.com/

Hakikat puasa sebenarnya adalah menempa batin agar kita peka terhadap kehidupan. Selama satu bulan, aktivitas berserah diri kepada Allah diharapkan akan membawa pada kesadaran baru tentang hakikat kehidupan di dunia. Menahan rasa lapar, haus dahaga, dan menjauhkan nafsu badaniah merupakan suatu mekanisme pelatihan untuk merasakan bagaimanaa rasanya menderita dalam kekurangan ekonomi (kemiskinan), sebagaimana dialami oleh bangsa ini.

Sementara kemiskinan adalah bagian dari akibat globalisasi pasar yang juga menyebabkan homogenisasi budaya. Individu-individu yang tidak peka dan tidak kritis terhadap perkembangan kebudayaan pasar, dan tanpa membentuk eksistensi otonomnya sendiri, hanya akan menjadi korban dari budaya pasar.

Tanpa kepekaan dan kesadaran, otonomi individual hilang karena sistem kapitalisme, dengan kecenderungannya untuk membuai manusia dan masyarakat dengan hiburan dan kreativitas yang mendorong individu-individu melupakan eksistensinya, kehidupannya. Dalam hal ini individu hanya bergerak berdasarkan keinginan yang berdasarkan kemauan massa yang bercorak kapitalistik. Satu-satunya cara untuk mengembalikan otonomi dan kebebasan individu adalah dengan filsafat.

Menurut Betrand Russel, nilai filsafat sebagian bisa ditemukan dalam ketidakniscayaannya. Orang yang tidak terlatih dalam filsafat akan menjalani hidupnya di dalam tawanan berbagai prasangka yang diterimanya dari common sense, dari kepercayaan-kepercayaan atau kebiasaan-kebiasaan yang diterima begitu saja dari zaman dan bangsanya, dan dari keyakinan-keyakinan yang tumbuh liar di dalam jiwanya, tanpa pertimbangan-pertimbangan yang berasal dari rasio. Dengan demikian, tak ada lagi pertanyaan dan kemungkinan-kemungkinan lain. Sebaliknya, berfilsafat akan menyadarkan bahwa segenap hal dan peristiwa sehari-hari pada prinsipnya menimbulkan banyak pertanyaan. Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak akan pernah lengkap dan tuntas.

Kenapa filsafat? Sebab cinta sejati hanya mungkin didapat kalau orang mau berpikir tentang hakikat hidup, terutama hubungan-hubungan antara manusia, dengan alam dan Tuhan. Filsafat dan ilmu pengetahuan adalah gagasan perkembangan kehidupan manusia.

Gagasan tentang perubahan, baik evolutif maupun revolutif, dimulai dengan merenungkan dan memahami dunia. Dengan pengetahuan yang memadai kita bisa merancang dan menggagas sejarah cinta yang memungkinkan dicapainya the greatness of humanity. Sementara bekal pengetahuan yang diberikan kepada manusia adalah untuk mengembangkan pengetahuan selanjutnya, namun bukan sekadar untuk mengatasi kelangsungan hidup.

Filsafat sebagai cara berpikir yang total dan radikal, harus mempertanyakan kebenaran sedalam-dalamnya. Realitas yang ada itu sendiri harus diungkit-ungkit. Artinya, skeptisisme harus diarahkan pada kritisisme terhadap kebenaran dan logika yang selama ini dominan serta tidak mampu menjelaskan centang-perenang dan kontradiksi yang ditimbulkannya. Instrumen dan teknik-teknik guna mendapatkan kebenaran harus dirunut karena peradaban (realitas) yang dihasilkannya terkesan menuju ke arah pelembagaan serta status quo, yang akhirnya justru menindas, sebagaimana terjadi dalam kasus modernitas.

Tidak ada kebenaran sejati yang diperoleh dengan “alat” yang salah dan ‘keblinger’. Para filosof yang mengaku menemukan kebenaran tersebut juga harus dipertanyakan pekerjaannya, muatan-muatan, dan pengalaman hidupnya, sebab tidak ada pengetahuan yang bebas dari kepentingan. Filosof adalah manusia yang juga memiliki kepentingan. Kekuasaan selalu melekat pada pengetahuan dan teori-teori sosial dan manusia.

Penjajahan saat ini memang akan kelihatan naif dan buruk apabila tampil di depan mata kita secara fisik. Kolonialisasi pemikiran lebih bisa menjelaskan terjadinya penindasan dalam hubungan-hubungan antarmanusia dan masyarakat dewasa ini. Dalam konteks tersebut, kita telah menerima teori-teori yang seolah-olah mampu mengatasi realitas sosial yang kita hadapi. Sebagai suatu entitas negara-bangsa Indonesia misalnya, kita selalu terbelakang dan tergantung vis-a vis negara-negara kolonialis-kapitalis. Dulu kita mengamini diskursus developmentalism supaya kita bisa mengejar keterbelakangan itu.

Ternyata pembangunan manusia dan cintanya menjadi pahit karena hanya dapat dinikmati sebagai “madu” oleh golongan tertentu, para konglomerat dan akumulator modal. Rakyat kecil yang menerima “racun” berbaris sepanjang di permukaan bumi. Ternyata cinta harus tunduk pada diktum-diktum kepentingan kapitalis internasional.

Kita membiarkan bumi kita dilubangi dan menjadi sarang kuman-kuman kebencian. Kepahitan dipercepat oleh ulah para penyelenggara negara yang menyelewengkan kepercayaan dan amanah rakyat, bahkan bersekongkol dengan para penindas. Ironisnya, agama sebagai institusi yang dipercaya untuk menyediakan cinta, tidak mampu menurunkan landasan moral-etis teologisnya bagi kemanusiaan, tapi hanya dijadikan alat dan komprador penguasa. Agama hanya menjadi simbol-simbol tanpa makna karena nilai cintanya “diperkosa” oleh tradisi busuk kekuasaan.

Dengan demikian kita harus segera melakukan reorientasi pemikiran dan pemahaman yang kritis terhadap realitas sosial dan hubungan cinta antarsesama manusia. Selanjutnya marilah kita hargai kebenaran cinta dengan sebenar-benarnya. Ketulusan, kerelaan, kesetiaan, pengorbanan tanpa pamrih harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena selama ini klaim-klaim kebenaran hanya menghasilkan tragedi dan elegi cinta, justru atas nama agama dan negara (nasionalisme) itu sendiri.

Kita selalu berharap peradaban dunia akan tampil dengan cantik dan indah. Perkembangan dan maturitas filsafat serta nilai-nilai cinta akan selalu menemukan relevansinya dengan tingkat pencapaian budaya dan peradaban dalam masyarakat yang tinggi. Dan, memang begitulah sebenar-benarnya manusia; bahwa “bercinta” bukanlah sekadar persoalan pelampiasan kebutuhan-kebutuhan saja.***

*) Penulis adalah pendiri Yayasan Komunitas Teman Katakata (Koteka) Jakarta.