Beginilah Buah Khuldi Itu Jatuh

Benny Arnas
http://www.suarakarya-online.com/

Khidmatilah cerita ini seperti engkau menggunting daun pandan yang tak mampu dianyam menjadi setangkai ingatan. Bacalah cerita ini seperti engkau menyeruput kopi dalam cangkir yang tak ikut serta dibeli. Bacalah cerita ini seperti engkau melumat setiap lelaki seolah tak peduli bahwa; di taman merah lavender, Hawa juga turut serta memakan buah khuldi …. Bacalah!
***

Perempuan Pengkhianat
Kau, dengarlah. Rasa cinta dikuak dari mata. Rasa suka ditelisik dari telinga. Jika kau hendak menamatkan hasrat kepadaku, cukup kau tutup telinga. Namun bila kau tutup dua kelereng mengkilap di bawah ceruk alismu, cinta itu akan berubah menjadi kuldi nan ranum. Ia akan terus tinggal di hatimu. Dalam jarak. Dalam waktu. Dan semua tak mudah berlalu. Hingga ia dilumat oleh kekasihmu pada suatu waktu.

Kau Berprakira Semacam Ini
Sungguh menyakitkan bila mencintai seseorang yang tak mencintainya. Namun kukatakan, semoga ia tak gegas berprakira. Jauh lebih menyakitkan mencintai seseorang dan ia tak cukup berani untuk mengungkapkannya. Hingga, kau tak pernah tahu bahwa ia masih menunggumu 99 tahun bakda seorang lelaki kaupetik dari sebuah pohon terlarang di sebuah taman tanpa tiang. Hahai, kuredam tawaku yang tak sabar keluar. Ingin sekali kukatakan bahwa buah yang membuatmu tak mampu menahan libido itu adalah aku!

Tentang Rindu
Sungguh, jauh lebih baik bila aku tak kembali kepadamu. Jauh lebih baik. Namun mengapa kau tak kunjung menyerah. Kau masih bersikeras menjemputku. Dan aku pun menjauh. Ke lima penjuru. Oh, kau memang tak tahu apa-apa tentang cinta yang membara-bara. Ya, aku meninggalkanmu bukan karena aku membencimu. Aku hanya tak ingin kau mendapatkanku namun harus kehilangan buah ungu yang bernama rindu.

Pesan Singkatku
Sudah kukatakan, tak usah kaupetik buah itu lagi. Dan kau masih saja tolol. Kau kira, dengan menjeratku dalam imaji, itu akan membuatmu bebas melalaikanku? Takkah kau merasa sakit, ketika lunas memikirkanku, lalu hatimu pun remuk, meremah? Makanya aku meneleponmu kala itu. Aku tahu, hanya dengan mendengar kata “halo” dariku, bersatulah keping-keping merah marun itu.

Di Jendela Kereta
Di jendela kereta. Pohon-pohon berkelebat menyalip masa lalu. Merapuhkan perih yang bersembunyi di dahan senyap. Membiarkan harap memutik. Menjadi buah. Ranum. Tak pernah jatuh. Tak pernah gugur. Menjadi aku. Dan kau selalu tak mengacuhkannya. Kaujolorkan kepalamu dari jendela kereta. Apakah kau tak punya uang untuk membeli sebungkus biskuit untuk mengganjal perutmu? Ah, tentu karena ingatanmu tak cukup kuat untuk menghafal ayat-ayat qudsi yang Kautitipkan kepada Muhammad untuk kauimani. Dasar!

Pohon Itu
Kadang ingin kusandingkan engkau dengan kanopi pohon tempat aku kerap menyelonjorkan kaki dan menumpahkan keriuhan hati. Kadang, pohon itu menumbuhkan sepasang tangan. Tanpa meminta persetujuan, ia memelukku dari belakang. Lalu menenangkanku dengan menjatuhkan buah-buah yang dirajah sehimpun (per)ingatan. Kadang, pohon itu menjalarkan akarnya. Melilitku sebelum melemparku ke lubang di hamparan bernama kehangatan yang tak pernah lekang.

Mengalahkan Rindu
Mungkin kau memang naif walaupun kau selalu berusaha menyembunyikannya. Kau selalu bilang bahwa tak ada sesiapa yang menyambangi ulu rindumu kecuali sehelai daun binua yang kuselinapkan di sana. Padahal aku tahu benar bahwa saban hari kau memintal rindu. Menjahitnya. Memayetnya. Mengenakannya setiap kau mengingatnya, setiap kau merasa bahwa janji akan menjadi alasan untuk menghapusnya. Ah, aku tak habis pikir bagaimana gaun yang kaukenakan selalu membuatku takjub. Hanya lelaki yang pernah menyulutku memakan buah tanpa namalah yang selalu ternganga melihat piyama lusuh yang kukenakan saban senja, katamu seolah hendak mengingatkanku bahwa masa lalu sudah menutup gerbangnya sejak kita sudah bernama kau dan aku.

Sangka-sangka
Kau, yang datang dengan perahu cahaya. Kini, bagai pergi dengan biduk hubbu. Aku tahu, sauhmu adalah tanganmu yang mengibarkan samudera. Dan kau, yang memuai di lubuk hujan. Kini, bagai lenyap ditelan pelepah yang menyumpil di daun dada. Ya, aku tahu, hatimu adalah tanganku yang menghadiahi setangkai kuldi. Bukan kepadamu. Bukan kepadanya. Lalu kalian tertawa seolah mengejekku sebagai pecundang yang layak ditendang!

Dia Menjatuhkan
Cinta Kami menerakan nama-Mu pada buah-buah yang bergelantungan di antara ubun-ubun, lalu menukarnya dengan bukit yang dililit embun-embun. Kau mengembuskan cinta pada harap yang menjadi tempias, lalu menjatuhkannya seperti mengelir wajah yang pias: aku merasa terbang, padahal sayapku lunas kautebang. Lalu bagaimana akan kupetik kau, bila kini kau tak lebih hanya setangkai masa lampau?

Merumahkan Rindu
Langit-langit kamarku pun ambruk, berhamburan, di pintu hatimu. Membuat kau seolah terjebak dalam kesemrawutan teka-teki. Kautatap tiap serpihan seperti meruntuki kenangan yang pecah. Ke mana kerinduan harus dirumahkan, bila cinta tak lagi tenteram, pergi di bawa ragu yang membiru, menjelma buah yang dilumat bukan di hari Sabtu ….

Janji Bertemu
Bagaimana dapat kaubanggakan sebongkah suasa? Tidakkah kita sudah berjanji untuk menunjukkan buah cinta ketika berjumpa di siang tanpa matahari. Suasa juga bercahaya, katamu.

Tapi ini janji, balasku.
Kau pun mengirimkan air dari lembah yang berpasir matahari. Ah, mungkin kau ingin aku menyaringnya sendiri. Datanglah kepadaku dengan air itu dalam genggaman, mungkin itu kalimat keparat yang dengan semringah kauutarakan, selanjutnya, kepadanya ….

Beginilah Aku
Mengartikan yang Berkecipakan dalam Dada Satu, doaku adalah bulir-bulir hujan yang mengecambahkannya. Dua, penantianku adalah daun-daun kuldi yang menudunginya. Tiga, namun pertemuan adalah setangkai matahari yang menggelinding di atas tunas-tunasnya. Lalu, bagaimana ia dapat berbuah, bagaimana ia dilumat, bagaimana ia dapat melemparmu ke hadapanku?

Menjumpaimu
Menjumpaimu adalah menyambung dua akar khuldi dengan ikatan yang longgar. Kita bercengkerama seolah pertama kali berjumpa dengan seseorang yang dijanjikan-Nya untuk memantik gairah. Lalu ikatan itu terlepas, bersamaan dengan perpisahan yang beerselingkuh dari harapan; aku meninggalkanmu (atau kau yang mengabaikanku) dengan lambaian tangan setengah hati, hanya kenangan yang akan kita berinama, suatu hari nanti.

Tentang Sepi
Melalaikanku, sejatinya, kau sedang membobol tembok yang susah payah kubangun dari batu-batu yang berpelukan di antara kehangatan yang tipis. Memaksaku mengeluarkan rasa yang bersigumpal, seperti dengan kasar menarik perca-perca yang berdesakan dari perut boneka yang robek. Aku mati takjub karena cabik-cabik jemarimu menjelma ranting khuldi; merajamku seolah memberikan hadiah harilahir berupa boneka yang airmatanya kuasa menembus tembok maracahaya.

Kalung
Aku memang dahan pohon kemaru. Getas, kering, dan rapuh, disapu angin lembab dari tenggara. Namun begitu, cintaku mengalahkan kebabibutaan perasaan Qais kepada Laila. Bagiku, cinta sejati adalah pasrah demi kebahagiaan, demi cinta, demi yang tercinta. Maka, aku masih memenuhi undanganmu, Kekasihku! Aku salami ia. Aku peluk ia. Aku bisiki ia. Jaga istrimu baik-baik, ya, seraya memberikan kalung bermata buah kuldi. Ajaib! Ia langsung melingkarkannya di leher. Ia pun bilang takkan melepasnya hingga kelam mengundang ayam-ayam untuk berkeriapan. Hmm, di malam pertama, buah itu akan kaulumat.

Ah, maafkan aku, ya!
***

Khidmatilah cerita ini seperti engkau menggunting daun pandan yang tak mampu dianyam menjadi setangkai ingatan. Bacalah cerita ini seperti engkau menyeruput kopi dalam cangkir yang tak ikut serta dibeli. Bacalah cerita ini seperti engkau melumat setiap lelaki seolah tak peduli bahwa; di taman merah lavender, Hawa juga turut serta memakan buah khuldi … Bacalah!.

* Lubuklinggau, 2011

Catatan Redaksi 16 Juli 2011:
BENNY ARNAS lahir dan tinggal di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, 08 Mei 1983. Kumpulan cerpennya Bulan Celurit Api (2010), dan Jatuh dari Cinta (Grafindo, 2011).