Laut

Alex R. Nainggolan
http://www.balipost.co.id/

BAGINYA, laut adalah sebuah pemandangan yang tak berujung. Terkadang, begitu luas, ia merasa lega memandangnya. Terlebih lagi di sebuah perjalanan, jarak yang terapung di dalam kapal. Ia akan keluar dari geladak, berdiri di tepi besi sambil memandang laut dari kejauhan. Perjalanan antara dua pulau, jarak yang panjang. Ini kali, sebuah pelabuhan mungkin akan terasa agak lama, sebab ia bersama perempuan, terlalu asik memandang laut.

Malam hari. Peluit kapal berbunyi. Beranjak, tali dilepas, kuli-kuli panggul dermaga dengan badan kekar sudah berlalu. Dingin. Angin berputar-putar. Memainkan cuaca. Memainkan perasaan. Ia masih mendekap tubuh perempuan itu. Seperti tak ingin lagi berpisah. Ia tahu. Ia mengerti. Ia hanya mengantarkannya ke sebuah batas, besok ia akan kembali. Mungkin, perempuan itu akan kembali, setelah beberapa hari, ia merasa lega.

Laut. Malam hari. Jangkar kapal sudah lima menit lalu dinaikkan. Kapal berlayar, membelah asin laut, menelusuri kegelapan yang terus berkecipak. Hujan turun. Semakin deras. Semakindingin. Ia mendekap tubuh perempuan. Ada kehangatan yang tumbuh di situ, yang tak ingin dilepaskan. Tak ingin ditinggalkan.

Di laut, barangkali sebuah perjalanan akan panjang. Hanya gelap yang kelihatan. Di batas malam. Mengapung. Terkadang hanya samar lampion cahaya. Sayang tak ada bintang. Sebenarnya, ia sudah sebegitu lama merindukan keadaan ini, berlayar ke lautan, bersama perempuan, menatap laut dalam-dalam. Beranjak dari satu pelabuhan ke lainnya. Hujan turun menderas, menebarkan dingin yang wingit. Menyulap setiap rahasia yang mengambang. Tiba-tiba ia menyadari, besok ia akan kehilangan kekasihnya. Ia akan berpisah, meski hanya beberapa hari saja. Apa yang akan dilakukannya? Akankah ia melanjutkan mengetik naskah novel yang selalu direncanakannya sekian lama, namun tak kunjung usai? Novel yang selalu bergerak mundur, tak pernah selesai. Tiba-tiba ia merasa begitu takut kehilangan kekasihnya, bagaimana jika perempuan itu tak lagi kembali? Tak akan datang padanya? Bukankah dunia ini dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak beruang dan bisa kapan saja terjadi?

Laut. Makin gelap. Ia dan perempuan itu menysuuri geladak. Orang-orang sayu, menahan kantuk. Menahan perjalanan yang terasa akan panjang. Orang-orang yang tak pernah diketahui asal-usulnya. Mengendapkan suntuk dan bosan yang terus mengembang, bersama dengan gemuruh laut. Pikirannya mendadak tumbang, di tumpukkan kardus, tas-tas, kopi yang tak kunjung dihirup, asap rokok. Asap rokok? Entah, sudah berapa kali perempuan itu mengingatkannya agar segera berhenti dari asap candu itu. Namun ia selalu ngeyel, meski terkadang diam-diam diakui pula kebenarannya. Merokok, barangkali akan memperpendek usia. Menggerogoti paru-parunya sekian lama. Hingga berlubang…

Laut. Malam hari. Dingin. Asing. Hujan turun di laut. Ia merasa sendu dan rawan. Ia merapatkan tubuh dan mendekap lagi perempuan itu. Mencoba mengambangkan gundah itu ke tengah laut. Tak ada percakapan. Hening. Dingin. Angin yang bising. Memukul tubuhnya. Menembus setiap pakaian yang dikenakan. Masih terasa kehangatan tubuh perempuan itu.

***

IA mengajak perempuan itu untuk masuk ke ruangan kapal. Penuh. Sesak. Mengapa masih banyak orang yang naik kapal penyeberangan ini, padahal musim lebaran juga liburan sudah lama berlalu?

Laut. Tengah malam. Bisu. Hanya gemerisik suara televisi yang kehilangan sinyal. Gambar rintik-rintik, seperti gerimis. Mengapa tak ada seorang pun yang mematikan, padahal suaranya terasa begitu mengganggu? Tengah malam. Jarum-jarum jam meluncur cepat. Menguliti dirinya. Ia melihat ke sebelah, perempuan itu sudah tidur. Wajahnya begitu manis. Bundar.

Tengah malam. Tanpa percakapan. Perjalanan masih jauh, masih di tengah laut. Ia masih merasakan benturan ombak yang menggoyangkan badan kapal. Ia ingin menikmati keheningan ini, di antara orang-orang yang lelap. Ia ingin sekali melihat mimpi orang-orang itu, barangkali alangkah mengasikkan bila bisa ikut larut di dalamnya. mimpi yang tak pernah kelihatan. Seperti laut malam ini. Gelap dan kelabu. Membuat dirinya tak habis-habisnya berpikir: mengapa orang senantiasa disuguhi impian-impian yang tak pernah lengkap dan abadi?

Laut pun makin bergejolak. Asin. Seperti sebuah kehidupan yang teramat panjang, membuat dirinya tak pernah tuntas menghabiskan episode. Bagai sebua jalan yang teramat panjang, tak pernah terlihat ujungnya. Laut pun seakna memar, gelap yang berbayang, berjuta kenangan membekas bagai cabikan perih yang makin terasa. Pedih di dadanya. Ia seakan kehilangan sesuatu yang amat berharga.

***

BAGINYA, bagi lelaki itu yang sedang termenung di sudut kapal. Laut seperti berarti. Laut menandakan sebuah pertalian yang jauh. Dapat menyingkap semua tubir jenjang dirinya, menggali setiap kenangan, masa lalu, juga sebuah kegagalan. Ia akan terbiasa memandang laut itu. Ia tahu laut telah lama menyimpan gundah-gulana, sebagaimana hatinya. Ia mengerti hanya laut yang tahu akan setiap sulur perasaannya yang lama koyak. Ia akan membereskan segalanya. Seperti ingin membersihkan semuanya lebih lama. Mengusap kenangan-kenangan lalu.

Tiba-tiba, ia memaki semuanya. Ia memaki sebuah negara yang tiba-tiba menjelma jadi naga api. Membakari rumah penduduknya, di mana musim-musim tak pernah selesai, bilangan tahun yang merambah, orang-orang yang gemar dibodohi, menyebabkan dirinya pikun dan hampir lupa diri. Kemarin, ia membaca sebuah berita, tentang anak kecil, seorang perempuan tentunya, diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri. Ia tak habis pikir, mengapa orang tua bisa sebegitu tega melakukan suatu hal yang nista.

Kemudian, ia mengingat-ingat setiap peristiwa. Betapa ia telah kehilangan semuanya, segala yang pernah dipelihara, segala yang pernah ditanam, di sebuah tanah yang senantiasa beraroma kebencian. Di sini, di tengah laut, di tengah selah, pada sehasta jarak ntara dua pulau yang ditempuh dalam satu depa perjalanan, ia merasa lumpuh. Begitu lumpuh. Batinnya terbakar, emosinya menddak pecah-pecah. Di tengah laut, tengah malam seperti ini, di saat orang-orang terlelap, hanya sesekali kru kapal menawarkan bantal pengganjal kepala: pada siapa yang mesti mengadu?

Perempuan di sebelahnya bergerak, barangkali sebentar lagi akan terjaga. Sedang perjalanan belum tuntas dan penuh, belum sepenuhnya tercapai. Apa yang membuat sebuah jarak terasa begitu jauh? Waktu ataukah daya tempuh? Terkadang, ia sendiri merasa begitu lelah menghitung waktu, melihat setiap denyut, aus jam yang bergerak, matahari yang cepat melayang menjadi pagi—kemudian tenggelam, menjadi sebuah malam yang begitu kelam. Terkadang, ia merasa mengapa begitu cepat melalui hari-hari penuh cekam, seperti ada yang untuh di tebing dirinya dan kelak akan menimbunnya perlahan-lahan. Ia ingin waktu mengadu padanya, berdiskusi sebentar, kemudian mengajak bercakap-cakap. Pokoknya, ia ingin sekali waktu berhenti. Ia tak ingin menyaksikan, mengapa ia menjelma jadi dewasa. Ia tak ingin melihat ada jakun di pangkal lehernya. Ia begitu gundah bila mengetahui, bila dirinya semalam tadi, telah mimpi basah. Ia tak ingin dicekoki dengan hrpan-harapan yang telah begitu usang. Ia ingin bebas, terbang, menerawang bagai kekupuan. Begitu ringan, menikmati kedinginan udara. Hingga dirasakan laut begitu bergemuruh, melepaskan bebannya ke seluruh dinding kapal. Begitu sunyi.

Hening-hening-hening. Irama waktu. Tak selalu berdenting. Bahkan, ketika ia mencoba menahan napasnya yang terasa begitu parau.

26 Juni 2011 | BP