Melepaskan Manusia dari Bayang-Bayang “Agama”

Fawaidurrahman

Seperti tak pernah ada titik temu, konflik dan upaya perebutan tampuk kekuasaan atas nama agama selalu bergulir di tengah hingar-bingar pergulatan pemikiran dan politik. Agama yang dipahami sebagai sebuah dogma-otoritatif selalu menimbulkan perebutan truth claim antar agama yang satu dengan yang lain. Sejarah membuktikan, perbedaan agama selalu menjadi alasan dalam melakukan perluasan kekuasaan yang berujung pada pertumpahan darah. Penaklukkan romawi, perang salip, atau perang yang lainnya sudah menjadi sejarah kelam dilema kemanusiaan dan semangat toleransi dalam keberagamaan. Belum lagi konflik internal masing-masing agama yang juga berujung kepada pertumpahan darah atau paling tidak terjadi dehumanisasi terhadap pihak tertentu karena berbeda keyakinan.

Sejarah selalu menjadi cermin bagi masa-masa sesudahnya dan sejarah tidak akan pernah pupus oleh waktu. Seolah sudah menjadi hukum alam. Kekerasan atas nama agama sampai sekarang pun menjadi tak terelakkan. Saat ini, umat beragama tengah berhadapan dengan dilema yang sangat paradoksal. Di satu sisi, ada kecenderungan yang sanagat serius ditunjukkan oleh sebagian kalangan dalam rangka mengerdilkan prinsip-prinsip keagamaannya. Sedangkan di sisi lain, masih banyak para warga beragama yang menganut paham skolastisisme klasik yang acap positivistik. Semua kasus dimasukkan dalam kerangka pemikiran hitam-putih, benar-salah, dan sebagainya. Umat beragama pada akhirnya bermental fatalistik, fanatik, dan pasif.

Ziauddin Sardar, futorolog Islam kenamaan asal Pakistan yang dibesarkan di Inggris pernah mengatakan bahwa situasi internal umat beragama yang sangat memprihatinkan ini sebenarnya disebabkan oleh krisis yang lebih dalam dan mengakar, yaitu krisis epistemologis dengan memudarnya kesadaran umat beragama untuk memahami ajaran-ajaran normatif agamanya secara kontekstual (Muhammad al-Fayyadl, “Menjemput Islam Masa Depan,” kata pengantar dalam kumpulan esai Ziauddin Sardar, Islam, Postmodernism, and Other Futures: A Ziauddin Sardar Reader, terjemah: R. Cecep Lukman Yasin & Helmi Mustafa, Jakarta: Serambi, 2005, hlm. 7).

Statemen Sardar ini ternyata mendapat tempat di kalangan umat bergama di dunia pada umumnya, dan Indonesia pada khususnya. Karena mentalitas pasif ini pula, umat beragama tertentu cenderung lebih suka menyalahkan “pihak lain”—yang dalam hal ini selalu diidentikkan aliran sesat—sebagai biang keladi dari segala bentuk keterpurukan. Tak heran, jika Sardar sampai mengatakan dalam sebuah artikel-nya “teis has become its enemy” (The Observer, 21 Oktober 2001), bahwa umat beragama saat ini tengah mengidap penyakit a deep state of denial: penyangkalan bahwa semua umat beragama bertanggungjawab atas segala hal yang kini mereka alami.

Kondisi di atas mencerminkan bahwa kesediaan menerima perbedaan keyakinan dengan sikap arif dan bijak masih belum tertanam dalam jiwa umat beragama. Mereka masih menggunakan jalur-jalur kekerasan untuk menolak suatu ajaran agaman tertentu yang dianggap berbeda dengan yang mereka anut. Mareka tidak mampu malakukan afiliasi dengan the others dan tidak bisa bersikap toleran dan pluralis.

Pertanyaan yang muncul kemudian, masihkah agama dibutuhkan jika kekerasan atas nama agama selalu mencuat di permukaan seolah sudah menjadi kodrat alam? Rumit kiranya memecahkan masalah ini. Yang pasti, kesalahan terbesar dalam sejarah kehidupan manusia dari dulu sampai sekarang adalah disebabkan adanya agama. Sebab, dalam agama diajarkan hidup sederhana, sesederhana mungkin sehingga ada sebuah statemen yang menyatakan bahwa mayoritas ahli surga adalah dari orang miskin.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan kenapa sebuah negara yang mayoritas penduduknya taat beragama menyandang predikat negara miskin. Mereka lebih terlena hidup dengan kemiskinan. Sebab, yang ada dalam pikiran mereka hanyalah surga, pahala dan hal-hal yang bersifat fatalistik. Padahal, mereka masih belum tahu apakah benar surga atau pahala itu berwujud ada. Tidak salah jika Karl Marx menyebut agama sebagai candu masyarakat. Tempat pelarian para pecundang dan berpikiran kerdil.

Kemudian, adanya jargon “agama paling benar” dalam ideologi semua agama merupakan pemicu fanatisme dalam beragama yang sejurus kemudian mengakibatkan perebutan otoritas truth claim yang berujung kepada konflik antar agama. Ironisnya, konflik tersebut disebut sebagai jihad dalam membela agama masing-masing agar mendapat cinta dan kasih sayang Tuhannya dan hidup sejahtera. Namun, bagaimana akan mendapatkan kehidupan sejahtera, cinta, dan kasih sayang jika tangan-tangan mereka masih acap kali melakukan dehumanisasi dan pertumpahan darah.

Menurut hemat penulis, tidak penting memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan agama, akidah, ideologi, atau hal-hal yang bernuansa fatalistik. Yang menjadi urgen untuk dipikirkan dan diaplikasikan dalam keseharian adalah sejauh mana dapat hidup damai-sejahtera tanpa melihat pelbagai macam perbedaan yang sudah menjadi fitrah manusia. Sebab, meminjam Istilah Russell, lebih baik menjalin kasih sayang antar manusia dari pada kesia-siaan mencari Tuhan.

26 March 2011
Sumber: http://www.kompasiana.com/www.fawaid.kompasiana.com