Puisi-Puisi Gita Nuari

http://www.suarakarya-online.com/
SEBUAH CATATAN

setelah yang ada tiada
aku baru mulai merasakan
betapa hidup
adalah sebuah pergerakan.
seperti angin di kamarmu,
datang mendinginkan dirimu
pergi memanaskan hatimu
meski kau dapat bernyanyi
tapi untuk siapa lagu itu
lelaki yang terpuruk di ujung jalan
barangkali ia penyebab
engkau mengurung diri di antara ada dan tiada
dan kau ingin menjelma jadi sebuah legenda
bagi masa seratus tahun ke depan
untuk dicatat, dilegendakan kembali
sebagai perempuan pendongeng bagi para lelaki hidung belang
dan tanganmu yang berlumpur itu
menggambarkan sebuah peta pikiran yang kusut.
juga cincin di jarimu
yang kau bilang dari lelaki
yang nekat mengikatmu
adalah janji semu
yang mungkin akan terbakar
saat ia terkapar
di atas ranjang milik wanita lainya, mungkin
aku takkan hadir saat engkau merindukan sebuah taman
yang dapat membalut
tubuhmu dari kepungan asap
yang memerihkan mata.
tapi jalanmu telah mati
juga arah yang menuju taman itu
telah tertutup ilalang.
dan kau tak mungkin
menyibaknya dengan tanganmu
yang berlumpur itu,
yang tiba-tiba mengeras seperti batu
aku akan membiarkanmu lagi
sampai kau kembali jadi sebuah mimpi
yang kerap muncul dalam tidurku membawa ranting kering
dimana pada tangkainya
menggelantung bangkai pikiranku
yang tak sudi kau dengar sebelumnya.

Depok, 2011

MATAHARI DI JARI MANISMU

aku melihat di jari manismu
matahari melingkar
seperti akar kehidupan
yang dirindukan para pecundang.
tapi kau meninggalkan perahumu
begitu saja tanpa ikutan
atau tonggak di pantai
pelangi menyepuh rambutmu.
anak-anak mengara
kobor di jalan raya,
membentuk iring-iringan seperti burung bangau
di atas awan nan kering
seperti mencari keabadian
di antara belukar hidup
yang bergelombang
kuaminkan setiap langkah.
kota-kota yang tergerus di wilayah yang tandus
mengulum wajah-wajah letih
biarlah keringatku menjadi
lembaran surat agar langkah
tetap kembali ke rumah.

Depok, 2011

MENUAI BAYANGANMU

aku menuai bayanganmu
dari dinding pintu
sampai ujung sungai.
tak betah lagi aku
sebagai busa
yang hanya bisa menyimpan
bayangmu sekejap.
berilah aku langit sepotong
agar aku punya awan.
berilah aku laut sepotong
agar aku punya gelombang
kini aku telah jadi
tangkai di halaman rumahmu.
terayun-ayun oleh tingkah
burung-burung liar.
aku ingin tertanam di dadamu
dengan air sungai
yang terus mengalir
dari pori-porimu
maka aku akan tumbuh
selalu di tubuhmu.

Depok, 2011

SEEKOR KUPU KUPU

seekor kupu-kupu terperangkap
di dalam komputermenabraki dinding monitor.
segelas kopi menyulappagi jadi hitam,
seperti rambutmu yang engkaugeraikan ke udara.
jam 9 aku harus ke rumah sakit,katamu. menjenguk orang-orang
yang kehilangan matahari.
aku titip slang infus dan oksigen.
jiwa ini begitu pengap
oleh propaganda kepalsuan, kataku langkahmu
di teras tanpa jejak.
begitu cepat kehilangan.bayang. kehadiran sering sungsang.
kopi hitam dalam gelasmengapungkan aroma gamang.
jalan-jalan dilintasi parapelayat nasib.
mereka meneriaki mimpinya
yang terbakar semalam.
sudah dapatkah slang infus
untuk jiwaku yang ikut terjebak di dalam komputer
kehidupan yang rancu ini?

Depok, 2011