Rumah Masa lalu

Sungging Raga
http://www.lampungpost.com/

KIAN renta rumah ini, ketika kupijakkan kaki di atas tanah berkerikil, kudengar suara angin yang seolah menyambutku. Sudah berapa tahun berlalu? Seperti baru kemarin ketika aku melihatmu menyirami bunga-bunga yang sekarang entah di mana bangkainya. Pot-pot telah jadi hitam, terbakar oleh cuaca yang berganti-ganti, sementara rumput dan daun sudah menyatu, kering dan berdebu.

***

Biografi Kepergian

Setelah hari itu, kudengar kau tak pernah lagi kembali untuk sekadar merapikan kamar yang kau tinggalkan, bahkan untuk sekadar mengunci pagar agar tak ada orang asing masuk. Tetapi kepergianmu sepertinya telah dipastikan, lewat sisa tatapan matamu yang sempat kuingat, lewat kebersamaan yang berangsur-angsur padam seperti sore yang jelaga. Ah, di kursi bambu itu, terkadang kita suka melihat matahari jatuh di balik rimbun ranting pepohonan, menghirup udara sore yang merayap lewat celah-celah kecil dedaunan tempat masuknya cahaya. Kau yang mengatakan padaku, bahwa duduk di sore hari itu bukan menghabiskan waktu, melainkan untuk menghayati kesunyian. Jadi, sekarang kau telah berpindah untuk mencari kesunyian baru?

Aku melangkah melewati pekarangan, berhenti di depan pintu, kulihat gagangnya sudah berkarat, ada rantai pejal melingkar namun sepertinya tak lagi terkunci, barangkali ada orang lain yang pernah memotongnya dengan gergaji untuk memasuki rumah ini. Mengambil sesuatu di dalamnya, seperti kenangan. Barangkali kau sendiri yang diam-diam datang di tengah malam. Kudorong pintu ini, terbuka. Aroma lembap menyeruak begitu saja di wajahku. Aku menutup hidung, ada debu beterbangan dari segala sudut. Dari celah lebar yang baru saja kubuka, di dalamnya, seperti berdiam ratusan tahun kegelapan. Bayangkan, terakhir kali kulihat kau berdiri di pintu ini, adalah saat di mana kita berpegangan tangan. Aku tak akan melupakan bagaimana caramu menciumku, lantas berbisik, “Aku akan di sini, setia, seperti rumah ini.” Tetapi setelah mengucapkan itu kau justru melangkah, menjauh, dan hilang seperti hujan yang sia-sia di awal kemarau.

Sekarang kutatap ruang tamu, dengan mata menyipit yang dipaksa-paksakan, akhirnya beberapa puluh detik kemudian aku mulai terbiasa. Keremangan yang sempurna, kotor yang sempurna, pengap yang sempurna. Tak ada lagi sapu yang biasanya tergeletak di dekat gorden jendela. Tentu saja aku masih hapal letak beragam perabotan yang pernah hidup di sini, yang pernah kita gunakan beberapa tahun sebelum karam sampan itu.

Ah, mungkin aku yang terlalu kasar padamu, ketika kupaksa kau untuk tak ikut pergi ke perantauan, ketika kupaksa kau untuk sejenak bersabar dengan berbagai kekurangan dalam pernikahan kita. Tetapi bukankah kau yang akhirnya pergi terlebih dahulu?

Barangkali kita hanya salah menentukan waktu, kita berselisih dalam sengkarut kenangan. Dan hari ini, sekembalinya dari tanah rantau, aku hanya bisa tertunduk di ruang tamu ini. Sendirian.

Masih terdengar suara kicau burung-burung di luar itu, seperti sebuah orkestra akan masa lalu yang terus berayun-ayun di kepalaku.

Foto Pernikahan

Pada dinding bagian utara, yang catnya telah mengelupas dan penuh dengan jaring laba-laba, foto pernikahan itu tampak semakin usang saja, seperti usangnya cinta kita. Foto yang tak sempat kita rawat usianya. Di foto itu kita hanya berdua, tersenyum bahagia. Mengapa hanya berdua? Kau memang bilang bahwa kau merindukan seorang anak, sementara kau pun mengeluh karena aku tak juga mampu mendapatkan pekerjaan yang layak. Nanti anak kita mau dikasih makan apa? Mimpi-mimpi?

Begitu besar keinginan itu sehingga setiap malam aku terusik, tidurku tak tenang, sementara kau kadang terisak, dalam tangis yang seolah berbisik-bisik pada kesunyian di tengah malam. Sabar, kataku, sambil kuusap rambutmu, kubelai, dan kau menggeliat, menolak, merebahkan diri, lantas pura-pura terpejam.

Tetapi ketika suatu hari kudapatkan berita gembira itu, ketika kudapatkan kesempatan mengumpulkan uang di negeri lain, di tanah yang lain, kau justru menghadirkan dilema yang lain, dalam bentuk yang lain. “Nanti aku kesepian,” katamu. Padahal ini semua demi kita, bukankah sudah lama kau merindukan bagaimana kita akan dengan santai menenggak minuman dingin tanpa harus keluar rumah untuk membeli sebongkah es dari tetangga? Bukankah kau ingin menikmati nasi yang selalu hangat di dalam rice cooker? Tak akan ada lagi nasi yang selalu basah dan berbau basi. Bukankah sebuah gelang emas begitu kau dambakan untuk melingkar di pergelangan tanganmu ketika kau keluar untuk berkumpul bersama ibu-ibu tetangga sekitar rumah kita?

Baiklah, kau punya segudang harapan, dan kau memang tak selalu mengatakan apa yang kau pikirkan, setiap orang punya rahasia. Mungkin ada yang tak terungkapkan di foto pernikahan itu. Di foto itu kau dan aku tersenyum, bahagia, di depan cipratan cahaya kamera. Padahal ada banyak foto-foto lain yang terbuang, yang tak bisa memunculkan chemistry, hingga tersisa foto itu, yang kemudian diperbesar, dan ditakdirkan untuk menggantung di ruang tengah.

Kemudian foto itu tak lebih dari sekadar hiasan, selebihnya adalah desas-desus dari para tetangga tentang dirimu. Bahwa jika kusimpulkan secara kasar, kau seolah hendak membuat foto yang lain, foto di mana ada dirimu bersama lelaki lain yang bukan aku. Secepat itukah? Padahal foto kita saja belum juga aus dimakan rayap, belum juga terempas badai yang menyergap. Tetapi mengapa begitu gencar tiba kabar itu di telingaku? Kabar yang tumbuh berjamur dan nyaris kuanggap sebagai kebenaran ketika ditutup dengan kepergianmu.

Lalu, kapankah terakhir kali kau menatap foto pernikahan kita? Mungkin ketika aku sedang tak berada di rumah, kau seringkali menangis, meratapi pernikahan yang tak sesuai dengan bayanganmu dahulu. Namun setidaknya foto ini pun masih menjadi satu-satunya tanda, bahwa setidaknya kita, pernah—pura-pura—merasa bahagia.

Akhir Penghujan

Rumah ini sudah selesai direnovasi, pagarnya pun sudah dicat, warna merah, pot-pot ditata rapi, baru saja sebuah pikap berhenti dan menurunkan beberapa kursi yang masih terbungkus plastik. Aroma segar tercium dari pekarangan hingga pintu depan. Kau suka menanam bunga, kan? Sekarang kau tak perlu lagi menanamnya di atas tanah, cukup dengan pot-pot yang telah dihias indah itu, kau akan semakin senang ketika memandangi bunga peliharaanmu setiap pagi dan sore, melihat kuncupnya, melihat kelopaknya. Dan aku akan memandangimu dari sini, dari teras rumah ini.

Ruang tamu sudah rapi, beberapa tirai dipasang untuk menahan sinar matahari yang terkadang menyilaukan, televisi diletakkan di dekat akuarium yang telah terisi air, lengkap dengan hiasan bunga laut dan karang-karang buatan, ah, sebentar lagi ikannya datang. Tentu sebuah kejutan untukmu, kejutan yang menyenangkan.

Aku masih menanti kedatanganmu, sebuah pita sudah kubentangkan di kedua pagar pekarangan, agar tampak seperti sebuah peresmian, pita merah muda yang berhiaskan bunga di tengahnya. Aku menunggumu pulang. Cepatlah, aku tak sabar melihat senyummu, sehingga aku yakin bahwa pilihanku untuk merantau ke negeri tetangga tidaklah sia-sia, sekarang semua sudah lengkap. Rumah mungil ini menjadi mewah, dan asri. kalau perlu, besok akan kubuatkan sebuah taman kecil di samping rumah. Taman yang terdiri dari kolam ikan juga sebuah ayunan agar kau bisa bersantai, juga beberapa pepohonan untuk hinggap burung-burung, dan kursi agar kau dapat duduk tenang memandangi ikan di air jernih itu.

Bayangkan, sekarang semua itu bukan lagi mimpi, aku tak bisa mengira, bagaimana gembiranya ketika kau datang nanti? Aku tersenyum, tak sabar. Aku duduk di teras, memandangi hijau rumput dan deretan pot dengan bunga-bunga kecil yang segar. Sore sudah surut, cahaya reda. Mungkin kau kini sedang mencari jalan untuk kembali ke rumah ini, untuk kemudian mencintaiku lagi dengan cara yang paling mengesankan…

***

Hujan turun begitu deras malam harinya, pita di depan rumah menjadi basah dan putus, saat itu pula aku yakin, kau tak akan pernah datang. Aku bergegas masuk ke rumah, melihat suasana yang serbaburam dari balik kaca jendela yang tadinya telah bersih mengkilap. Selalu kaca jendela, yang seolah menjadi bingkai dari sebuah dunia di luar kita, di luar imajinasi kita. Apakah kini kau sedang kehujanan di luar sana? Apakah kau sedang berteduh di suatu tempat dan merasa cemas? Atau kau sedang berada di sebuah rumah yang tak lagi bisa mendengar suara hujan?

Entahlah, begitu banyak tempat di dunia ini yang bisa kau jelajahi sendirian. Yang pasti, di mana pun kau berada saat ini, di rumah manapun kau merasa nyaman malam ini, aku hanya berharap, semoga kau tak pernah pura-pura merasa kesepian.

Lampost: 3 Juli 2011