Saat Menjadi (Orang) Tua

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

KESAN sastrawi yang spontan muncul saat membaca 269 puisi Aspar Paturusi (AP) yang dikumpulkan dalam Badik (Garis Warna Indonesia, Jakarta, 2011)-dan 5 puisi antaranya dimuat di Suara Karya (Sabtu, 18/6/ 2011)-adalah pola berkreasi dan berkesenian yang penuh liukan dan lonjakan, yang dirumuskan Taufik Ismail sebagai “menggenggam semuanya … yang tak perlu ditanyakan lagi lakekomaE.” Setidaknya di paruh kedua dekade 1970-an-lebih terpatnya: 1976 dan 1977-, AP menggebrak dan membuat khazanah sastra Indonesia terperangah dengan kehadiran dua novelnya, Arus dan Pulau.

Kehadiran berturut turut dari novel yang di rumuskan Maman S Mahayana sebagai novel yang bersemangat keterpencilan dan kesadaran eksotik dari lingkungan pulau terpencil. Tapi ketika saya berharap muncul novel lain, AP malahan bersuntuk dengan teater, dan menggebrak Jakarta cq TIM dengan pementasan “Samindara” (1982), “Perahu Nuh II” (1985-dan kemudian repertoar ini dipentaskan lagi di acara Festival Istiqlal, 1995). Kemudian “Jihadunafsi” dipentaskan di Makasar 1986.

Dan, dalam rangka mengisi kegiatan ulangtahunnya di Makassar bulan April lalu, penyair kelahiran Bulukumba 1943 ini me-launching kumpulan puisi Badik, yang terdiri dari 269 puisi.

KEMUNCULAN puisi yang kemudian dikumpulkan dalam Badik ini tergolong unik, karena bersimula dari kesibukan AP menghiasai akun FB-nya dengan sepasang puisi: yang lama di sisi yang baru. Terus rutin dikerjakan, sehingga terus diikuti serta diapresiasi-Helmi D. Acmad mendokumentasikannya dalam versi printed terbatas, yang mendorong AP untuk membukukannya. Bahkan apresiasi Maman S. Mahayana, dan jadi kata pengantar dalam Badik pun bersipat fana khas FB, hanya menjangkau di tampilan ke-100 dari sepasang puisi AP. Meski dalam Badik itu puisi ke-204, dengan 65 lagi puisi baru. Mungkin pola penampilan sepasang puisi: baru dan lama, membuat kita kehilangan orientasi waktu akan momen penciptaan puisi AP. Meski, sebenarnya, bisa ditelusuri kalau kita melakukan penelitian yang lebih cermat.

Ada dua tema besar dalam Badik, yakni kesadaran telah berumur dan mengalami banyak peristiwa-dan peristiwa itu dicatatnya dengan puisi, baik yang fisikal macam “Makassar”, “Pak Tua dan Jam Tua”, “Tanjung Bira”, dan banyak lagi; ataupun yang subtil mengabadikan penerusan nilai religius secara budaya dan merasakan bagaimana nilai-nilai berganti atau ambruk seperti yang ditunjukkan puisi-puisi “Tidurlah Tidur”, “Gedung Pengadilan”, dan terutama “Badik”. Puisi bernas yang dijadikan judul buku kumpulan puisinya, karena itu saya akan mengapresiasinya sebagai titik tolak untuk menandai keistimewaan Badik. Dan titik tolak untuk memahami itu adalah stereotype diksi “badik”. Tema yang mengandaikan dua hal. Pertama, jenis dan komunitas etnik tertentu, yang sangat mempertahankan dan membela kehormatan (sirri) dengan tidak segan bertindak keras dengan memakai badik. Kedua, eksistensi alat bersitarung yang merupakan perpanjangan keinginan menegakkan kehormatan.

Dan justru dari asumsi itulah AP tergerak untuk menulis puisi “Badik”, sebuah kesadaran untuk tak lagi bersikukuh dengan ikon yang bersipat lahiriah serta teramat memancarkan aura keras itu, dan berbalik reflektif ke dalam diri hingga menemukan hakekat dari ada dan bagaimana memanifestasikan ada dengan acuan nilai nan Islami, rachmatan lil alamin. Kita simak rumusan reorientasi AP setelah varian lahiriah dan aura keras tersebut dieliminasinya: ” … kukuh tegak di hati / … bernama badik iman / pamornya berukir takwa // … / tak ada darah di tajam ujungnya / hanya berhias cinta kasih / senyum buat saudara seiman // … berpamor takwa / …/// Sebuah reorientasi yang membuat saya mengidentifikasinya sebagai cara memaknai gejala hidup dengan kemahfuman, saat semua hal ditinjau oleh “kesadaran telah berlalu”, hanya kuasa buat direfleksi serta terbukti ada beberapa yang merupakan tindakan menggelikan-hanya impuls kemudaan. Respons yang tak lagi berpusat pada ego, tak lagi pada cara orang lain mengakui, menghormati kedirian, dan lebih mengandaikan pada “sisa waktu yang ada dan bagaimana bertindak idealis di sisa waktu yang tak banyak itu”.

Orang Jawa menyebut itu sebagai Ilmu (orang) Tua, kesadaran bahwa tujuan ada (hidup) di dunia ini bukan di segala sesuatu yang bersipat duniawi tapi bersipat ilahiah sesudah mati-dengan “punya bekal saat melakoni mati”. Formulasi itu kekuatan puisi “Gedung Pengadilan”, yang menguraikan kesan seorang tua yang resah mengunjungi gedung pengadilan, karena ingin melihat bagaimana kebenaran ditegakkan dan segala kesalahan diperbaiki dengan penghukuman, dan bersitemu dengan debat kusir hukum: di mana asumsi “kesalahan diluruskan kebenaran” itu tidak ditegakkan, malah hanya dijadikan obyek debat kusir-sebagai persoalan yang kelabu dan tidak dipertahankan hitam dan putih. Karena itu hukum manusia selalu bertahan di wilayah abu-abu, dan AP memilih ke luar dari hal duniawi, memasuki hakekat agamawi yang membedakan yang benar dan yang salah dengan tegas-sekaligus berduka karena kebenaran itu tak mungkin ditegakkan di dunia.

Menjadi orang ikhlas, yang menikmati ketakberdayaannya dan menjadi si yang dimulyakan Allah SWT karena bisa “menggaji” orang yang berkuasa serta sok amat bersikuasa dengan kekuatan otot, jabatan, dan uang-seperti yang diperlihatkan dalam puisi “Warung Daeng Kanang”. Itu puisi nan berterang-dan ciri puisi AP adalah diksi berterang meski tak terang-terangan-tentang jagat rohani orang kecil yang menikmati kekecilannya dengan keikhlasan, dan karenanya menjadi lebih besar dari orang yang punya posisi, jabatan serta kekuasan. Ada ironi dalam bait terakhir puisi itu: “warung kecil daeng kanang / saat bayar utang pungutan / ia ikut menggaji pemimpin”. Meski warung itu cuma ikon: “… bermodalkan utang demi utang // … tetap tangguh / dalam rengkuhan kemiskinan”.

KALAU selama ini kita selalu mengaitkan sastra yang memotret realisme sosial dengan diskriminatif menunjuk siapa yang brengsek, siapa yang menjadi korban, dan ajakan untuk melawan kesiberengsekan itu dengan advokasi hukum serta penyadaran politik, AP justru bersigerak dari sisi religius agamawi.

Dalam puisi “Warung Daeng Kanang” AP membuat penekanan rohani dengan penggarisan di cara menerima takdir dan bagaimana usaha mengatasi takdir itu dengan iktiar, dan kalau Allah SWT tidak memperkenankan perubahan takdir maka kita harus menerimanya dengan ikhlas, dan berbahagia dalam ulakan coba derita sambil berpegang pada tali Allah. Itu inti hidup, dan karenanya AP melakukan pilihan: hukum Allah dan bukan hukum dunia-seperti yang tegas diungkapkannya dalam puisi “Gedung Pengadilan”.

Karena itu AP mengajak menempuh kehidupan istiqomah, memilih tabah dalam kesengsaraaan dan ketaknyaman asal tetap berpegang pada tali Allah, serta biar orang bersipongang membanggakan kejayaannya di masa kini, karena hakekat kemuliaan kesejarahan kemanusiaan seorang insan itu berada di alam setelah hidup, alam akhirat yang menunjukkan macam mana kemuliaan kesejarahan manusia yang hakiki-seperti yang diungkapkan dalam puisi lirih yang intuitif, “Biarlah Sejarah Bicara”. Hidup itu harus istiqomah, reflektif tertuju ke alam setelah mati dengan momen kematian yang kian merapat, karenanya intens dengan keberadaan tali Allah dan selalu mengikatkan tali Allah itu pada seluruh anggota keluarga. Dimensi itulah yang membuat romantika sentimentil piknik keluarga di Pantai Losari (Makasar) dalam puisi “Pada Suatu Sore” tidak sekedar nostalgia remaja-bersiduaan di dekade 1960-an atau 1970-an.

Sebuah varian puisi religius yang unik-dan sekaligus pencapaian itu membuat saya agak takut: tiba-tiba ekplorasi seni AP berubah lagi. Atau harus membiarkan AP melakukan eksplorasi serta menampilkan hasil eksploitasi seni yang lain? Apaan tuh? Walahualam-cuma Allah SWT yang tahu. Insya Allah.***

* Beni Setia, pengarang. 2 Juli 2011