Surat Berdarah dari Hong Kong untuk Presiden SBY

Insaf Albert Tarigan
http://news.okezone.com/

Cerita mengenai kepiluan yang menimpa Buruh Migran Indonesia (BMI) yang mengadu nasib di luar negeri sudah kerap kali menghiasi pemberitaan media massa dalam negeri.

Pemerkosaan, penyiksaan, pelecehan seksual hingga pembunuhan sadis seolah-olah bukan lagi “berita” karena nyaris terjadi setiap tahun. Mulai dari Malaysia, Arab Saudi, hingga Hong Kong.

Adakah cerita lain yang minimal memberikan gambaran “lain” dari para BMI di negeri asing itu tanpa melupakan penderitaan dan advokasi terhadap mereka?

Pertanyaan inilah yang coba dijawab Nadia Cahyani dan kawan-kawan BMI di Hong Kong melalui cerita-cerita pendek yang dibukukan dengan judul “Surat Berdarah untuk Presiden, Suara Hati BMI di Hongkong” terbitan Jendela.

Buku setebal 400 halaman ini adalah sebuah fragmen dari roman kehidupan para buruh yang disampaikan dengan kejujuran dan di banyak sudut terdengar blak-blakan. Dia seperti perjalanan hidup yang tak melulu berisi tragedi tapi juga bukan monoton indah.

Ada kisah cinta buruh dengan pria dari negara lain, hedonisme, romansa sesama jenis di antara para BMI, pelacuran, pergulatan iman dan tentu saja derita mereka akibat agen-agen penyalur nakal yang tak bisa ditumpas pemerintah.

Buruh migran Indonesia di Hong Kong selama ini memang terkenal dengan kreatifitas dan kiprah mereka dalam dunia tulis-menulis baik cerpen maupun novel. Jika diletakkan dalam peta buruh migran kita secara keseluruhan, sekitar 135 ribu buruh di Hong Kong agaknya lebih menonjol dibanding dengan rekan-rekan mereka misalnya dari Timur Tengah.

Sesuai dengan judulnya, buku ini secara garis besar berisi harapan, seruan, kritik dan masukan yang disampaikan kepada pemerintah melalui pemimpin tertinggi, Presiden. Salah satu penulis, Afkar Fauziyatorrohmah, misalnya menulis begini:

Cintaku, Presidenku,

Aku sangat sayang kamu, aku tidak peduli orang bilang ini dan itu, yang aku takutkan; jika salah satu, dua, tiga, ratusan, ribuan, jutaan yang kecewa dengan kepemimpinanmu. Sehingga mereka bersatu, kemudian mendoakanmu yang tidak baik, maka kemungkinan doa itu akan dikabulkan Allah.

Sungguh, kuminta kepadamu, cintaku, Presidenku. Sebelum terlanjur, bertindaklah, berbuatlah sesuatu untuk kami!

Penerbitan resmi buku ini dilakukan di Hotel Sofyan Betawi, Cikini, Selasa (18/1/2011) siang, berbarengan dengan deklarasi pendirian Migrant Institute yang berbasis di Hong Kong.

Migrant Institute adalah lembaga swadaya masyarakat yang lahir dari program kegiatan Dompet Dhuafa. Selain mengadvokasi BMI yang terjerat problem hukum, mereka juga melakukan pelatihan menulis yang hasilnya kemudian dibukukan.

Buku ini tak hanya cocok untuk mereka yang fokus terhadap persoalan buruh, tapi juga masyarakat umum dan mahasiswa serta penikmat sastra. Namun, yang paling utama sebenarnya, buku ini sesuai judulnya, seharusnya diberikan kepada Presiden dan pembantunya yang bertanggung jawab secara konstitusional untuk melindungi BMI di luar negeri.(teb)

18 Januari 2011
Sumber: http://news.okezone.com/read/2011/01/18/337/415230/surat-berdarah-dari-hong-kong-untuk-presiden-sby