Pendidikan Islam dan Persoalan Umat

Ali Rifan *
pelita.or.id

KRISIS ekonomi telah menjamur di negeri ini. Telah beranak pinak dan menjalar bagaikan penyakit kudis. Begitu pula dengan krisis moral, sudah sedemikian suburnya merebak di persada nusantara. Hal inilah yang kemudian mengakibatkan terjadinya disorientasi dan dislokasi banyak kalangan masyarakat kita dalam berbagai bentuk (Azyumardi Azra, 2003).

Misalnya, disintegrasi sosial-politik yang antara lain juga memunculkan euforia kebebasan yang nyaris kebablasan; lenyapnya kesabaran sosial (social temper) dalam menghadapi realitas kehidupan yang semakin sulit hingga mudah mengamuk; merosotnya penghargaan dan kepatuhan terhadap hukum, etika, moral, dan kesantunan sosial; semakin meluasnya penyebaran narkotika dan penyakit-penyakit sosial lainnya; berlanjut konflik kekerasan yang bersumber, atau sedikitnya bernuansa etnis maupun agama, seperti yang terjadi di wilayah Kalimantan, Maluku, dan Sulawesi maupun konflik fisik akibat munculnya aliran-aliran baru seperti: Ahmadiyah, al-Qiyadah al-Islamiyah, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, tidak heran bila memasuki milenium ke-3, di saat negara-negara tetangga kita Malaysia, Singapura, Pilipina, dan kemudian menyusul Cina serta India sudah mulai mensejajarkan diri di panggung global, Indonesia justru terpuruk dan kehilangan kesejarahannya (Joni Ariadinata, 2008). Meskipun kita tetap meyakini sebagai bangsa yang luhur, halus, berbudi pekerti, dan sopan santun tapi kekerasan dan kebrutalan (teror, pembunuhan, penjarahan, tindakan anarkis) adalah fakta yang menghancurkan harga diri bangsa di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia. Maka, tidak salah jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Indonesia kini lebih dikenal sebagai salah satu negara terbelakang, kasar, dan primitif.

Lebih dari itu, ditambah lagi dengan tingkat korupsi yang semakin menjamur, moral para politisi yang amburadul, aturan-aturan hukum yang masih mandul, serta mental generasi mudanya yang letoi, hedonis, mentah, dan enggan dalam menggeluti pendidikan agama, tentu ini membuat pesimis akan tercapainya kemajuan Indonesia secara signifikan yang bermoral dan bermartabat menurut syariat Islam. Ini problem tentunya!

Paradigma Pendidikan Islam

Dalam tujuan akhir pendidikan Islam, adalah proses pembentukan diri peserta didik (manusia) agar sesuai dengan fitrah keberadaannya (al-Attas, 1984). Hal ini meniscayakan adanya kebebasan gerak bagi setiap elemen dalam dunia pendidikan terutama peserta didik untuk mengembangkan diri dari potensi yang dimilikinya secara maksimal.

Sebagai sampel, bahwa pada masa kejayaan Islam, pendidikan telah mampu menjalankan perannya sebagai wadah pemberdayaan manusia, mencetak para ilmuwan berpengetahuan luas yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu agama, akan tetapi, ilmu sains dan teknologi juga menjadi prioritas yang terus digali dan ditelaah. Tengok saja ilmuwan-ilmuwan seperti Ibnu Rusd, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Alfarabi. Mereka adalah ilmuwan yang tidak hanya menguasai ilmu agama atau ilmu umum saja, mereka menguasai keduanya. Ini sebagai potret betapa pentingnya menghilangkan dikotomi di antara ke dua ilmu tersebut, agar para penyetir roda negara ini, baik mereka yang kapasitasnya sebagai ilmuwan atau pun penguasa, mempunyai basis yang kuat dalam segi moral dan konseptualnya. Sebab, hal inilah yang akan menjurus pada kestabilan ekonomi umat. Karena dengan penguasaan materi keagamaan yang mendalam, basis moralnya pun akan matang, sehingga tindakan curang semacam korupsi tidak akan dilakukan.

Namun, seiring dengan kemunduran dunia Islam, dunia pendidikan Islam pun turut mengalami kemunduran. Bahkan dalam paradigma pun terjadi pergeseran, yakni dari paradigma aktif-progresif menjadi pasif-defensif. Akibatnya, pendidikan Islam mengalami proses \”isolasi diri\” dan termarginalkan dari lingkungan di mana ia berada.

Hal ini dapat kita lihat pula pada realitas yang ada di negeri ini. Kebanyakan para ilmuwan dan penguasanya tidak memiliki balancing dalam pendidikannya. Ketika mereka pandai dalam ilmu agama, ilmu umumnya sangat kurang, dan begitu pula sebaliknya. Ketika mereka menguasai ilmu umum, pendidikan agamanya pun minim. Makanya, tidak heran jika di negeri ini sangat rentan terjadi tindakan-tindakan curang seperti korupsi. Karena pendidikan mereka tidak dibarengi dengan pendidikan moral yang baik. Seolah meniscayakan adanya dikotomi di antara kedua ilmu tersebut. Ini problem!

Pendidikan Islam Sebagai Solusi

Nah, untuk menangkis segala problematika di atas, mau tidak mau kita harus melakukan perubahan. Dengan apa kita melakukan perubahan? Tentunya lewat pendidikan dalam hal ini pendidikan moral. Melakukan penyadaran terhadap umat akan pentingnya pendidikan Islam. Sebab, sampai kapan pun dan di mana pun, pendidikan adalah suatu hal yang urgen dalam terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas, handal, dan kompatibel.

Kemudian sebagai upaya untuk kembali membangkitkan dan menempatkan dunia pendidikan Islam pada peran yang semestinya, sekaligus menata ulang paradigma pendidikan Islam sehingga kembali bersifat aktif-progresif, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni:

Pertama, menempatkan kembali seluruh aktifitas pendidikan (talab al-ilm) di bawah frame work agama. Artinya, seluruh aktivitas intelektual senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai agama (baca: Islam), di mana tujuan akhir dari seluruh aktifitas tersebut adalah upaya menegakkan agama dan mencari ridho-Nya.

Kedua, adanya keseimbangan (balancing) antara disiplin ilmu agama dan pengembangan intelektualitas dalam kurikulum pendidikan. Salah satu faktor utama dari marginalisasi dalam dunia pendidikan Islam adalah kecenderungan untuk lebih menitikberatkan pada kajian agama dan memberikan porsi yang kurang pada pengembangan ilmu non-agama, bahkan menolak kajian-kajian non-agama. Oleh karena itu, penyeimbangan antara materi agama dan non-agama dalam dunia pendidikan Islam adalah sebuah keniscayaan, jika ingin dunia pendidikan Islam kembali survive di tengah masyarakat.

Ketiga, perlu diberikan kebebasan kepada civitas akademika untuk melakukan pengembangan keilmuan secara maksimal. Karena selama masa kemunduran Islam, tercipta banyak sekat dan wilayah terlarang bagi perdebatan dan perbedaan pendapat yang mengakibatkan sempitnya wilayah pengembangan intelektual. Dengan menghilangkan pernik seperti itu, minimal membuka kembali sekat dan wilayah-wilayah yang selama ini terlarang bagi perdebatan. Maka wilayah pengembangan intelektual akan semakin luas. Ini, tentunya, akan membuka peluang lebih lebar bagi pengembangan keilmuan di dunia pendidikan Islam pada khususnya dan dunia Islam pada umumnya.

Keempat, mulai mencoba melaksanakan strategi pendidikan yang membumi. Artinya, strategi yang dilaksanakan, disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan di mana proses pendidikan tersebut dilaksanakan. Selain itu, materi-materi yang diberikan juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Setidaknya selalu ada materi yang applicable dan memiliki relasi dengan kenyataan faktual. Dengan strategi ini, diharapkan pendidikan Islam akan mampu menghasilkan sumber daya yang benar-benar mampu menghadapi tantangan zaman dan peka terhadap lingkungan.

Kemudian, satu faktor lain yang akan sangat membantu adalah adanya perhatian dan dukungan para pemimpin (pemerintah) atas proses penggalian dan pengembangan dunia pendidikan Islam itu sendiri. Adanya perhatian dan dukungan pemerintah, akan mampu mempercepat penemuan kembali paradigma pendidikan Islam yang aktif-progresif. Dengannya, diharapkan dunia pendidikan Islam dapat kembali mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana pemberdayaan dan pendewasaan umat. Wallahu a\’lam bish shawab.

*) Penulis adalah Koordinator Kajian di Islamic Studies and Education, Jakarta.
http://www.pelita.or.id/baca.php?id=51805