Antara Cinta dan Harga Diri

Sofian Dwi
http://www.seputar-indonesia.com/

Dua tokoh sentral dalam adegan teater dari kelompok Mei Theater Company tampil dalam pentas bertajuk Pinangan di Teater Studio, Taman Ismail Marzuki,kemarin. Seni pertunjukan yang disutradarai oleh Firsty Soebratawidjaja dan Indra Acoy tersebut bercerita tentang pinangan seorang pria terhadap gadis idamannya yang terbentur persoalan harga diri dengan latar belakang budaya Minahasa dan Maluku.

Romantika percintaan dan pertentangan harga diri disajikan lewat lakon Pinangan. Dibungkus dengan komedi satire yang kental dan narasi kultur Maluku-Manado, lakon ini menghasilkan pertunjukkan yang segar dan penuh gelak tawa.

Barangkali, tak banyak teater yang mengadaptasi narasi dengan gaya bahasa dengan pendekatan kultur Indonesia Timur. Mei Theater Company justru menjadikan kekuatan ini sebagai daya tarik pertunjukan yang digelar di Teater Kecil,Taman Ismail Marzuki, pekan lalu. Lakon yang diadaptasi dari naskah Anton P Chekov ini memang tidak ada perubahan mendasar dari sisi cerita.

Kisah lebih banyak berkutat tentang romantika sepasang remaja dan persoalan harga diri menyangkut keluarga. Adalah Glenn Takarbessy (Fachrizal Moechsen), seorang pemuda kampung yang kayaraya dan disegani oleh penduduk kampung. Glenn yang sudah berkepala tiga memiliki satu kelemahan, yakni tidak memiliki pasangan. Ke manamana, Glenn kerap gagal dalam menggaet perempuan.

Pasalnya, hanya ada satu gadis yang benar-benar dicintai Glenn, dialah Monica Tamberongan, anak semata wayang John Tamberongan yang tak lain tetangga Glenn. Meski hidup bertetangga, sering kali keluarga Glenn dan John Tamberongan tidak akur. Namun, keduanya saling menghormati. Glenn yang karena usianya sudah berkepala tiga dan memendam perasaan sejak dulu kepada Monica pada akhirnya harus memberanikan diri melamar Monica.

Glenn gugup bukan kepalang. Dengan membawa seikat bunga ia pun memberanikan diri memasuki halaman rumah John Tamberongan yang dikenal galak oleh pemuda kampung. “Beta kedinginan! Beta gemetar! Ini seperti hendak menempuh ujian Ebtanas, tapi beta harus memutuskan segala sesuatunya sekarang juga.Beta harus kawin,Beta harus kawin,” ujar Glenn seolah hendak menyemangati diri sendiri.

Akhirnya Glenn memutuskan untuk masuk rumah John yang kala itu tengah bermeditasi di halaman rumah.Mengetahui Glenn yang tiba-tiba muncul dan duduk di sampingnya, John pun kaget.Tapi Glenn menenangkannya. John yang sudah tua pada akhirnya memang mengajak Glenn untuk duduk dan bertanya akan maksud kedatangannya.

Glenn yang gugup memang tidak dengan tegas mengutarakan maksudnya. Ia justru menjawab dengan berputarputar. John yang gemas pun dengan tegas meminta Glenn untuk cepat mengutarakan maksud sebenarnya. Hingga kemudiankeluarkalimatGlenn hendak melamar Monica. “Glenn mau melamar Monica anak Om John,”kata Glenn.

John yang sempat tak percaya pun meminta Glenn untuk mengulang lagi hingga tiga kali,yang di mata Glenn justru terasa seperti tengah menghina. Glenn yang merasa ketakutan justru lari. Padahal John hanya merasa tidak percaya Glenn hendak melamar Monica.John sudah menunggu itu sejak lama.

Glenn pun akhirnya dipanggil lagi oleh John dan dipersilakan duduk di serambi rumah. Setelah beberapa lama menunggu, Monica keluar menemui Glenn. Monica yang tidak tahu maksud kedatangan Glenn yang sebenarnya justru bercerita panjang lebar. Di sinilah letak menariknya naskah Anton P Chekov. Tanpa disengaja, perbincangan mereka justru memasuki ranah perebutan tanah lapangan Sarigading yang bersengketa.

Glenn merasa tanah itu milik keluarganya, sedangkan Monica merasa itu miliknya. Perseteruan pun terjadi. Mereka adu mulut hingga menyangkut soal borok keluarga masingmasing. Glenn pun diusir keluar rumah oleh Monica. Baru ketika John terus terang kepada Monica, bahwa sebenarnya maksud kedatangan Glenn ke rumah adalah untuk melamar Monica, gadis itu terkejut.Ternyata Monica juga menaruh hati kepada Glenn sejak lama.

Monica pun menangis dan meminta ayahnya John untuk mencari Glenn. Naskah ini memang unik. Dengan balutan komedi satire yang ringan, penonton dengan mudah dibuat tertawa dengan dialog-dialog yang ringan dan tidak menggurui.Kebodohan Glenn yang merasa gugup kerap memancing tawa. Persoalan harga diri dua keluarga ini juga jadi daya tarik tersendiri.

Misalnya ketika Glenn datang kembali dan soal tanah pada akhirnya selesai, perseteruan justru terulang. Kali ini soal anjing. Anjing siapa yang paling pemberani,apakah anjing milik Glenn atau anjing Monica? Mereka pun kembali bermusuhan. Ego masingmasing membuat jalan cerita yang semula sudah stabil kini kembali naik dengan persoalan baru.

“Kita tidak mengubah banyak naskah adaptasi dari Anton Chekov. Kita hanya melakukan penyesuaian kecil,” tegas sutradara yang juga pimpinan Mei Theater Company, Firsty Soebratawidjaya.

Set panggung juga dibuat sederhana dengan pengadeganan yang berkisar di halaman rumah John Tamberongan. Tidak banyak properti yang diusung menjadikan pertunjukkan drama realis ini jadi ringan, tetapi segar dengan guyonan-guyonan khas Manado dan Maluku.

18 September 2011