Memahami Sejarah dengan Puisi

Dedy Sagita
http://www.seputar-indonesia.com/

Demi terwujudnya harapan lebih memperkenalkan syair dan kesusastraan ke kalangan remaja modern, khususnya pelajar dan mahasiswa saat ini, ratusan penyair tak hanya dari Indonesia,bahkan sejumlah negara ASEAN ini,pun rela menyambangi sekolahsekolah di Palembang.

Sejumlah sekolah,seperti SMA Kusuma Bangsa,SMAN 3,SMAN 5,SMAN 6,SMA IBA,SMA Xaverius I,SMAN 17,SMAN 6,SMPN 16,dan Universitas PGRI, Universitas Taman Siswa, serta IAIN Raden Fatah, Palembang pun satu per satu didatangi para penyair yang tergabung dalam Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) V ini sekadar untuk membacakan puisi karya masing-masing,dan membahasnya dalam sebuah diskusi sastra bersama para remaja modern,yang lebih mengenal game online dan situs jejaring sosial ini.

Tampak hadir sejumlah penyair sastra Melayu dari dalam dan luar negeri, seperti Djamal Tukimin dari Singapura; Nik Dahna Megay, Zaidel Jamin dan Rosani Hiple dari Malaysia; tak ketinggalan penyair Indonesia,yaitu Asrizal Nur, Kiki Sulistiyo,Rifan Naship, Eko Triono,Faizal Syahreza, Detens Adintomo,dan Bambang Widiatmoko. Membuktikan film dan musiklah yang paling populer sebagai bagian dari kehidupan kesenian dan kebudayaan para remaja modern ini.

Tampak aplaus paling besar diberikan pada penampilan puisi multimedia yang menambahkan pemutaran film serta backgroundmusik sebagai pendukungnya pada puisi berjudul Tikus Api dan Kuda yang dibawakan Asrizal Nur seorang penyair asal Pekanbaru,yang saat ini aktif di Yayasan Panggung Melayu dan berdiam di Depok. “Memang kita membutuhkan masukan, motivasi dan dukungan bapak/ibu penyair, agar sastra Indonesia, sastra Melayu dan sastra secara umum, dapat lebih berkembang di generasi muda,” kata Kepala SMA Kusuma Bangsa Martha Wijaya.

Karena itu, selaku penyair yang mendapat apresiasi cukup besar dari para pelajar ini, Asrizal Nur menjelaskan, penulisan puisi berbeda dengan penulisan berita atau lainnya,puisi memiliki pilihan kata yang bermakna. “Misalnya kata “laut”, laut saat kita mengatakan aku melihat laut di matamu, bukan fisik laut yang diterjemahkan, tapi sifat lautnya,”bebernya.

Pria yang telah menggeluti puisi multimedia sejak 2005 ini menambahkan,hal ini agar lebih komunikatif, inovatif, dan lebih diterima generasi muda. “Anak sekolah memang perlu gambaran dan inovasi baru, karena saat era global ini, teknologi dan internet memengaruhi anak muda sehingga meninggalkan puisi. Puisi juga masih dinilai sentimental oleh siswa,jadi cintai dulu puisi, baik dengan multimedia, rap atau inovasi lain dan dalami sendiri,”saran Ketua Yayasan Panggung Melayu ini.

Warga Depok yang sudah berulang kali menggelar konser puisi multimedia bersama sejumlah kepala daerah dan tokoh nasional ini berpesan agar para remaja dalam berpuisi dapat lebih percaya diri dan terus belajar, selain juga dapat disalurkan melalui jejaring sosial internet,media cetak, atau-pun mengikuti perlombaan dan membuat buku antologi puisi sendiri. Selain itu, pemerintah diminta memberi ruang para penyair untuk lebih berkreasi menampilkan karya-karya puisinya, sebagai salah satu bentuk perhatian pemerintah bagi dunia sastra di Indonesia.

Sebab, hal itu terkesan belum banyak dilakukan Sebab selama ini, eksistensi penyair cenderung terbatas per kelompok, seperti melalui Majalah Horizon dan Komunitas Utan Kayu. Dengan adanya perhatian pemerintah, kelompok-kelompok itu seharusnya dirangkul untuk disatukan dan melibatkan kumpulan lain,selain menciptakan kurikulum pendidikan yang dapat mendorong generasi muda menjadi cinta sastra Indonesia.Karena sesungguhnya kata-kata yang dirangkai dalam puisi, seperti Sumpah Pemuda, merupakan bagian dari sejarah negeri.

19 July 2011
*) Dedy Sagita, tinggal di Palembang