Satu Sudut Almari Sejarah Sastra Amerika

Judul Buku: The Dante Club
Judul Asli: The Dante Club: A Novel
Penulis: Matthew Pearl
Penerjemah: Agung Prihantono
Penerbit: Q-Press
Cetakan I: Agustus 2005
Tebal: 614 halaman
Peresensi: Yanto Musthofa
http://www.ruangbaca.com/

Khazanah kesusastraan Amerika mengenal triumvirat begawan Brahmin Boston–sebutan bagi kaum elite berpendidikan Harvard. Mereka adalah Henry Wadsworth Longfellow (1807-1882), James Russel Lowell (1819-1891), dan Oliver Wendell Holmes (1809-1694). Mereka memelopori aliran yang memadukan tradisi trans-Atlantik Amerika dan Eropa.

Bersama satu tokoh lainnya, James Thomas Fields, mereka menjalin persahabatan istimewa. Fields sendiri pengarang dan editor di dua majalah berpengaruh, The Atlantic Monthly/ dan The North American Review. Tapi dia juga juragan penerbit sukses, Ticknor & Fields. Kedua majalah dan penerbit itu menjadi ladang kreasi sang triumvirat.

Di tangan Matthew Pearl, persahabatan itu lahir menjadi cerita fiksi yang menghebohkan lewat karya perdananya, The Dante Club. Pearl, lahir pada 1975, lulus dari Universitas Harvard dengan yudisium summa cum laude bidang sastra Inggris dan Amerika pada 1997. Fiksi sejarah ini mulai ditulisnya sewaktu dia masih kuliah di Universitas Yale, tempat dia meraih gelar doktor bidang hukum (JD) pada tahun 2000.

Pearl mengisahkan, para kampiun sastra Harvard itu bertemu dalam satu kepedulian yang meluap-luap pada Dante. Dante Alighieri (1265-1321) adalah penyair Fiorentina yang terkenal dengan karyanya, Divina Commedia. Pada 1865, mereka sepakat menggarap proyek ambisius penerjemahan syair-syair Dante, walau harus menghadapi represi kaum birokrat Korporasi Harvard yang sangat berkuasa.

Maklum, sebagai entitas sastra Italia, Dante tak luput dari setumpuk stigma negatif waktu itu. Bahasa Italia, Jerman, dan Spanyol lekat dengan citra ambisi politik murahan dan amoralitas dekaden Eropa. Bahkan Dante dicap terlalu Katolik bagi Universitas Harvard (hlm. 56 dan 69).

Fields diintimidasi Korporasi agar urung menerbitkan terjemahan itu. Ancamannya, kontrak dengan Harvard akan diputus. Tapi Fields tak surut. Lewat majelis yang bertemu saban Rabu malam di Craigie House, kediaman Longfellow, syair-syair Dante terus didiskusikan untuk diterjemahkan. Karya Dante, bagi mereka, adalah harta karun yang harus diperkenalkan pada Amerika.

Di tengah jalan, proyek Klub Dante menghadapi ancaman serius. Tiba-tiba pembunuhan sadis berantai muncul di Boston dan Cambridge. Para anggota Klub Dante tercengang ketika tahu gaya dan cara pembunuhan itu menyontek habis Bab Inferno (Neraka), bagian penting buku Commedia.

Dalam pelacakan kasus itulah Pearl menyelipkan tokoh fiksi Nicholas Rey, polisi kulit hitam pertama dan satu-satunya di Boston. Di abad ke-19? Pearl tak mengada-ada. Massachusetts adalah negara bagian pertama yang menghapus perbudakan, walau di sini pula sebetulnya perbudakan mengawali sejarahnya di Amerika. Walhasil, pada 1865 yang menjadi setting kisah Pearl, Boston memang sudah lebih maju menyangkut dinamika gerakan dan partisipasi kulit hitam dalam kehidupan ber-Amerika.

Toh, Pearl tetap “menjaga” perspektif sejarah dengan menyisakan iklim diskriminatif yang melingkupi Rey. Tak seperti opsir polisi lainnya yang berkulit putih, Rey tak boleh memakai seragam, membawa senjata apa pun kecuali pentungan, atau menangkap orang kulit putih tanpa bersama polisi lainnya (hlm. 94).

Untuk karya bestseller versi The New York Times dan segepok media terkemuka Amerika ini, pujian selangit datang dari Dan Brown, pengarang The Davinci Code. “Mathew Pearl adalah bintang baru yang cemerlang di jagat fiksi,” kata Brown.

Pearl pandai menjaga plot, lincah mengerahkan kedigdayaan risetnya untuk mengatur suspense dan ayunan misteri sepanjang novel. Pearl seperti pemandu ulung ketika mengajak pembaca berkelana di jalan-jalan berdebu Boston dan Cambridge yang dilindas kereta-kereta kuda. Atau, bertamasya menyusuri nuansa kuliah Universitas Harvard abad ke-19, melongok interaksi eksotis antara dosen dan para mahasiswanya (hlm. 124-130).

Syukurlah, meski tidak luar biasa, versi terjemahan bahasa Indonesia ini pantas diacungi jempol karena kenikmatan dan kejutan yang disuguhkan Pearl tetap terjaga dan bisa dikunyah seutuhnya.
***