Saya Melukis ‘Sesuatu’; Tidak Berdiri di Atas Satu Kaki

Benny Arnas
Lampung Post, 9 Okt 2011

SAYA pikir, mengarang adalah melukis. Kata-kata adalah catnya. Kemampuan melukis diawali dari kecakapan dasar, yaitu menggambar. Saya masih ingat. Ketika masih duduk di bangku SD, kesenian adalah pelajaran yang saya tunggu-tunggu. Sebenarnya, tidak semua jenis (ke)seni(an) saya sukai. Tapi, guru kesenian kami sering memberikan pelajaran menggambar. Sering menyuruh menggambar, lebih tepatnya. Menggambar apa saja.

Saya sangat suka menggambar pemandangan. Di benak saya, pemandangan adalah dua buah gunung, beberapa petak sawah di lerengnya, beberapa pohon kelapa di sisi kanan atau kiri gunung tersebut, beberapa burung elang yang terbang di atas gunung, langit yang polos, awan keriting, dan sebuah matahari dengan sinar menyerupai jarum-jarum yang mengelilingi sebuah lingkaran (setelah mendapatkan ponten dari guru, dalam matahari yang bundar tersebut, saya menambahkan dua bulatan kecil dan sebuah lengkung di bawahnya, seolah matahari tidak pernah membuat bumi terik).

Bila mengingat itu, atau bila secara tak sengaja menemukan buku gambar SD, saya sering nyengir sendiri. Namun, saya cukup bahagia ketika memaknai-ulang gambar-gambar tersebut. Saya melihatnya sebagai kembaran proses kreatif mengarang saya.

Ketika kecil, saya akan mendeskripsikan apa-apa yang dilihat dan diingat ke atas kertas semampu saya. Ketika masih kecil, saya belum sering bepergian, belum mendatangi—sekaligus mengingat—banyak tempat, apalagi memahami bahwa beberapa daerah memiliki rumah adat yang khas, topografi yang unik, atau kelok jalan yang tak dapat ditebak.

Nah, sekarang saya bukan anak-anak lagi. Saya sudah melihat cukup banyak, termasuk mengunjungi beberapa daerah, melihat tempat-tempat yang berbeda—bahkan hal-hal tertentu dari daerah dan tempat tersebut. Anggaplah, saya mengingat cukup banyak. Saya pun akan mulai menggambarnya. Setelah itu saya akan melukisnya, hingga kata-kata yang saya pilih dalam memaparkan daerah dan tempat (atau bahkan detailnya) dapat menjadikan karangan saya berkarib dengan pembaca, mengundang mereka untuk bermain-main ke daerah dan tempat yang saya lukiskan. Datanglah ke sini, begitu seolah-olah karangan saya merayu. Jadi, saya melukis daerah dan tempat, bukan lagi menggambarkanya.

Begini, saya ingin pembaca karangan saya tahu (atau sekadar merasa tahu) bahwa sungai bukan hanya tentang aliran air dalam volume yang besar, tapi juga tentang ikan-ikan yang berenang di dalamnya. Saya ingin mereka berpikir bahwa di dalam sebuah gubuk, bukan hanya ada bangku dan meja, tapi ada bangku dan meja yang membuat pembaca seolah-olah tahu posisinya atau keadaan kayunya (masih baguskah, atau sudah rapuh dan berlubang di sana-sini?). Saya ingin mereka tahu bahwa bukan hanya ada seonggok bukit, tapi bukit tersebut menyumbangkan efek yang penting dalam menciptakan pemandangan yang indah di sebuah kampung.

Maka, menurut saya (menurut saya, sekali lagi), membangun setting yang baik bukan tentang mendeskripsikan tempat, tapi deskripsi yang memiliki nilai ajakan. Ajakan di sini adalah efek, bukan mengajak dengan sengaja. Dan dalam dunia fiksi—atau sastra (?), ajakan ini bukan sekadar efek, melainkan akan menjadi kesan. Maka, dalam karya cerita, bagi saya, deskripsi yang baik adalah deskripsi yang dibangun oleh diksi yang tepat letak dan tepat guna. Deskripsi yang baik adalah deskripsi yang dibangun oleh kalimat yang mengalir tapi tetap menimbulkan kesan, baik itu karena makna, rima, maupun ungkapan yang terkandung di dalamnya. Dan, tentu saja, “rumusan” ini pun berlaku dalam rangka membangun setting.

O ya, bagi saya, (deskripsi) setting yang baik adalah sia-sia bila tidak ditunjang oleh kualitas unsur-unsur cerita yang lain. Alur, narasi, dialog, dan lain-lain. Unsur-unsur tersebut akan membuat deskripsi memiliki arah dan kekuatan yang impresif. Ya, bila saya telah mahir menggambar, saya inginnya juga bisa melukis. Bila sudah melukis, saya (idealnya) ingin berada dalam tingkat mahir melukis. Bila sebuah lukisan menceritakan tentang pemandangan mewajibkan keberadaan dua buah gunung, beberapa petak sawah di lerengnya, beberapa pohon kelapa di sisi kanan atau kiri gunung tersebut, beberapa burung elang yang terbang di atas gunung, langit yang polos, awan keriting, dan sebuah matahari …, tentu saya sebaiknya memberikan informasi lain kepada penikmat lukisan tersebut bahwa, saya tidak hanya menyuguhkan pemandangan apa adanya: Saya memberi ruang tafsir yang logis tentang hal-hal yang akan membuat karya tersebut hidup, membuat karya tersebut berkesan.

Ya, alangkah baiknya apabila pemandangan tersebut seolah berbincang kepada penikmatnya, bahwa itu adalah pemandangan di pagi hari. Nah, seperti apa awan langit dan awan di pagi hari, seperti apa matahari di pagi hari, apakah gunung-gunung akan berkabut atau tidak, dan seterusnya, dan seterusnya. Pun dengan petak-petak sawah yang telah saya lukis. Alangkah lebih baiknya apabila saya memberitahu kepada penikmat lukisan saya bahwa sawah tersebut dipetaki oleh pematang-pematang yang tidak beraturan, bahwa di pematang ternyata tumbuh beberapa pohon pisang, dan seterusnya, dan seterusnya.

Ups! Saya berprasangka sangat baik bahwa mereka yang tengah memelototi serangkaian kalimat ini cukup cerdas untuk tidak memaknai bahwa saya dengan sengaja memberi pelajaran melukis abal-abal. Ya, saya memang sangat suka melukis, tapi saya bukan pelukis. Maka, alangkah narsisnya saya bila dengan “lancangnya” memberikan pelajaran melukis. Ya, saya ingin menutup tulisan ini dengan baik. Saya ingin tulisan sederhana ini menjadi “sesuatu”. “Sesuatu” yang sederhana, juga tak apa. Saya hanya berharap semoga berfaidah. Sekali lagi, saya memang bukan pelukis. Namun, karena saya gemar melukis, dengan percaya dirinya saya bilang bahwa saya tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat lukisan saya menjadi lebih baik. Paling tidak menurut saya. Pendapat saya. Saya saja. Sungguh.
_____________
Benny Arnas, lahir dan berdomisili di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Mengarang, melukis, mengajar, dan menggubah lagu adalah aktivitasnya sehari-hari.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/10/saya-melukis-sesuatu-tidak-berdiri-di.html