Dari Batujaya Sampai Atlantik

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 31 Okt 2010

DALAM pengertian harfiahnya, reinventing adalah menemukan kembali. Ketika dijadikan frasa “reinventing Sunda” untuk keperluan sebuah konferensi dalam konteks budaya, maka konferensi tersebut hendak diandaikan sebagai upaya untuk mencari dan menemukan kembali sejarah atau identitas budaya Sunda yang (dibayangkan) hilang. Meski disadari bahwa hasrat besar semacam itu terlalu sederhana dicapai hanya dengan sebuah konferensi. Akan tetapi paling tidak, konferensi tersebut bisa dianggap sebagai permulaan untuk menggagas kesadaran ihwal perlunya dilakukan proses pencarian, demi menemukan kembali sesuatu yang hilang itu. Sesuatu yang menjadi hasrat setiap komunitias budaya, yang menganggap bahwa ada sesuatu yang lenyap dalam sejarah dan jati diri budayanya.

Demi memulai kesadaran inilah sebuah konferensi diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat. Tak tanggung-tanggung, konferensi ini berskala internasional dengan mengundang sejumlah pembicara dari Amerika Serikat, Australia, Prancis, dan Indonesia. International Conference on Sundanese Culture (ICSC) ini digelar di Hotel Salak Bogor, 25-27 Oktober 2010.

Seperti tajuknya, “Reinventing Sunda in Strengthening the National Culture and Promoting Cultural Diversity”, konferensi ini membayangkan dirinya menjadi permulaan bagi kesadaran untuk mencari dan menemukan kembali jati diri budaya Sunda, demi memperkuat budaya nasional dan keberagaman budaya. Inilah konferensi internasional versi berikutnya setelah Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) di Gedung Merdeka Bandung yang digagas oleh Ajip Rosidi, 22-25 Agustus 2001.

Berbeda dengan KIBS yang berangkat dari berbagai isu dan fenomena budaya Sunda, konferensi internasional budaya Sunda versi Disparbud Jabar ini membatasi dirinya ke dalam dua isu. Kedua isu tersebut tak hanya menjadi pintu masuk untuk menemukan kembali budaya Sunda, tetapi juga yang menjanjikan semacam kebanggaan pada jati diri budaya Sunda. Pertama, artefak peradaban budaya Sunda yang dihasratkan bisa menjadi warisan dunia, yang direpresentasikan oleh kompleks percandian Batujaya di Karawang.

Kedua, isu yang dihembuskan oleh terbitnya dua buku yang dianggap fenomenal, yakni, “Atlantis the Lost Continent Finally Found” karya Prof. Arysio Santos dan “Eden in East” karya Stephen Oppenheimer. Kedua buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini menyebutkan bahwa Indonesia atau paparan Sunda (Sunda Land) bukan hanya benua yang hilang, tetapi juga disebut sebagai asal mula peradaban manusia.

Konferensi yang dibuka oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan ini berangkat dari kedua isu tersebut. Antara kehendak dan mengikhtiarkan kompleks percandian Batujaya diakui sebagai warisan dunia oleh Unesco, dan keinginan memeriksa kebenaran bahwa Sunda Land adalah benua Atlantik yang hilang, kawasan yang dipercaya menjadi asal mula peradaban manusia.

**

DI antara kedua isu yang ditating oleh konferensi terdapat sejumlah cara pandang yang berbeda. Tak hanya di antara para pembicara, tetapi juga di sebagian peserta konferensi yang diikuti oleh kalangan seniman-budayawan, sejarawan, dan para tokoh adat. Umumnya perbedaan itu bergerak di seputar isu atau dugaan benar tidaknya bahwa Paparan Sunda adalah benua Atlantik yang hilang yang jadi awal peradaban manusia, seperti disebutkan oleh kedua buku karya Prof. Arysio Santos dan Prof. Stephen Oppenheimer. Sedangkan ihwal kompleks percandian Batujaya nyaris tidak menawarkan perbincangan apa pun, kecuali penjelasan Dr. Hasan Djafar dan kunjungan peserta konferensi ke kompleks percandian, yang dianggap sebagai candi Budha Mahayana tertua di Pulau Jawa, yakni Candi Jiwa dan Candi Blandongan.

Perbincangan seputar isu Paparan Sunda sebagai pusat peradaban manusia sayup-sayup telah muncul sejak hari pertama. Lebih jauh, isu melebar ke wilayah identifikasi budaya (etnis) Sunda sebagai identifikasi nusantara, bahkan seluruh sejarah manusia. Argumen yang mendasarinya adalah penamaan Sunda Besar dan Sunda Kecil dalam peta nusantara terdahulu. Terlebih lagi pandangan ini seolah memeroleh pembenaran dari kedua buku karya Prof. Arsio Santos dan Prof. Stephen Oppenheimer. Bahkan lebih jauh, lenyapnya penamaan Sunda Besar dan Sunda Kecil dari peta nusantara, disinyalir merupakan upaya sistematis untuk melenyapkan sejarah dan identitas budaya Sunda.

Sedangkan argumen sebaliknya muncul dari Dr. Junus Satrio Atmojo dan Prof. Edy Sediawati. Dalam pandangan keduanya, identifikasi kawasan geografis (Sunda Besar dan Sunda Kecil), identifikasi etnis, dan identifikasi budaya. Menyatukan ketiganya dalam satu identifikasi akan menimbulkan kekisruhan.

“Kemungkinan pertama yang memperkenalkan istilah itu adalah Ptolomeus, orang asing pertama yang datang dan membuat peta di gugusan nusantara. Penamaan suatu kawasan geografis mendasar pada pertemuannya dengan orang-orang yang ada di situ. Mungkin saja ketika itu ia bertemu dengan orang Sunda dan lantas menggunakan kata Sunda sebagai indikasi tempat, sedangkan sekarang sudah jadi indikasi etnik, sehingga terjadi kekisruhan antara pengertian etnik, kawasan, dan budaya,” papar Edy Sediawati.

Meski demikian, pandangan yang disebut Edy Sediawati sebagai kekisruhan antara ketiga pengertian ini muncul kembali ke permukaan pada sesi kedua, sebagaimana mengemuka dalam uraian Hidayat Suryalaga, ketika tampil sebagai pembicara bersama Dede Yusuf dan Radhar Panca Dahana. Dalam telaahnya atas beberapa fase perjalanan sejarah Sunda, Hidayat Suryalaga melakukan pembagian dari fase Sunda bihari (masa silam), kamari (belum lama berlalu/kemarin), kiwari (sekarang), dan baring supagi (yang akan datang). Akan tetapi pada permulaan seluruh fase itu ada juga disebutnya masa prahistoris, yakni Paparan Sunda yang diidentifikasi sebagai Atlantis yang hilang disebut dalam buku karya Prof. Arysio Santos.

Pada bagian ini, Hidayat Suryalaga juga menuturkan pengalamannya dengan seorang kepala suku dayak ihwal asal-usul mereka. Konon, mereka berasal dari sebuah dataran yang subur dengan sebuah sungai yang bermuara di Manila. Sungai itu ditenggarai sebagai apa yang kini bernama Sungai Citarum. Tentang penyebutan lenyapnya penamaan Sunda Besar dan Sunda Kecil, ia mengatakan, satu-satunya kini yang tersisa hanya Selat Sunda. “Dan mungkin nama Selat Sunda pun akan lenyap kalau nanti dibangun jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatra,” ujarnya.

Jika kompleks percandian Batujaya nyaris tanpa perbincangan, maka konferensi ini memberi porsi perbincangan yang lebih besar untuk mengurai isu perihal Paparan Sunda sebagai yang dipercaya menjadi tempat asal peradaban kuno umat manusia. Stephen Oppenheimer percaya bahwa nenek moyang bangsa Polynesia bukanlah berasal dari mereka yang menyebar keluar dari Taiwan sebagaimana diyakini. “Bukti-bukti baru yang saling terkait menunjukkan bahwa gen-lines yang ditemukan di Polynesia diturunkan dari Paparan Sunda lebih dari lima ribu tahun yang lalu,” katanya.

Senada dengan Oppenheimer yang menjelaskan sejumlah bukti antropologis, baik Arysio Santos, Ian Peterson, atau Hans Berek Oven meyakini hal yang sama. Bahwa Sunda Land adalah benua Atlantik yang hilang dan yang menjadi asal peradaban kuno manusia. Kajian lebih jauh, baik dari pendekatan geologi dan geografi diuraikan oleh Prof. Dr. R.P. Koesoemadinata dan Prof. Dr. Adjat Sudradjat. Berbeda dengan Prof. R.P. Koesoemadinata yang uraiannya lebih terfokus pada sejumlah temuan geologis di cekungan Bandung, Prof. Adjat Sudrajat memaparkan sejumlah pandangannya ihwal terbentuknya kawasan Sunda Land yang subur.

Secara geologis, banyak fakta yang memberi petunjuk bahwa Sunda Land memang pernah ada pada masa zaman es. Paparan Sunda ini merupakan kesatuan dari sejumlah gugusan pulau yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara. Paparan ini demikian subur dan kaya dengan flora fauna. Ini bisa dibuktikan dalam penyelidikan geologi terdapatnya sungai panjang di dasar laut, yang oleh banyak peneliti kemudian dikenal dengan The Great Sunda River.

Akan tetapi, guru besar geologi Unpad Bandung ini tidaklah setuju jika disebut bahwa Sunda Land adalah Benua Atlantik, seperti yang disebut dalam buku “Atlantis the Lost Continent Finally Found” karya Prof. Arysio Santos. Paparan Sunda bukanlah Atlantic Continent yang hilang, sebab tak ada bukti-bukti geologis yang memberi petunjuk ke arah itu. Bahkan dalam pandangannya, benua Atlantik lebih merupakan sesuatu yang abstrak, imajinasi kaum filsuf dalam mencari kebijakan.

“Jadi bagi saya, Atlantic Continent itu sesuatu yang abstrak. Lalu munculah banyak spekulasi di mana sebenarnya benua itu? Dan orang Sunda berharap itu adalah Sunda Land. Terlebih paparan Sunda adalah kawasan yang pernah ada pada zaman es dan sangat subur. Dan saya mendukung hal itu. Tapi bahwa itu adalah benua Atlantik, saya tidak mendukungnya,” ujar Adjat Sudradjat, seraya mengurai hubungan Atlantik dengan percakapan antara Timaeus dan Critias dalam karya Plato serta penamaan Atlan putra Poseidon (Dewa Laut dalam mitologi Yunani).

“The Lost Atlantic sebagai negeri yang subur itu hanya imajiner dalam kerangka berpikir filsafat yang tak ditemukan di dunia, kecuali dalam hati masing-masing manusia,” katanya.

Meski pada prinsipnya terdapat persamaan pandangan perihal Sunda Land sebagai tanah yang subuh, yang ada sebelum zaman es puluhan ribu tahun lalu, konferensi ini menyimpan sejumlah perbedaan. Sebagian kalangan percaya bahwa Sunda Land itu adalah Atlantic Continent seperti yang dimaksud oleh Prof. Arysio Santos, terlebih lagi berbagai cerita tradisional Sunda menyiratkan hal itu. Namun sebagian lain, seperti Prof. Adjat Sudrajat, mencoba lebih kritis dan berhati-hati. Demikian pula sejarawan Sobana Hardjasaputra. “Dalam ilmu sejarah, kalau fakta-fakta belum lengkap, jangan kita berani-beraninya mengambil kesimpulan,” kata Sobana.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2010/10/dari-batujaya-sampai-atlantik.html