LAHIR KEMBALI SETELAH ‘MATI’ DI BALIK JERUJI

Leila S.Chudori
http://majalah.tempointeraktif.com/

INI adalah sebuah suara dari “sebelah sana”. Setelah 32 tahun “mereka”— karena Orde Baru memaksa kita untuk membelah manusia menjadi “kita” dan “mereka”—dibungkam suaranya dan “dibunuh” kehidupannya, mereka “lahir” kembali melalui sebuah suara: buku.

Merajut Harkat adalah cara Putu Oka Sunanta bertutur, sebelum dan sesudah ia keluar dari jeruji penjara. Dan Mawa, meski ini adalah sebuah karya fiksi, adalah sebuah alter-ego sang penulis. Karena itu, selain kisah dari balik jeruji dan penyiksaan yang tentu saja menarik karena dikisahkan oleh orang yang mengalaminya sendiri, novel ini memperlihatkan keunggulan penggambaran sebuah karakter yang kompleks dan rumit.

Bagaimana novel sepanjang 590 halaman menggali sosok seorang Mawa? Novel ini dibuka dengan adegan Mawa, sang tokoh utama, yang dikepung oleh rasa takut; suatu perasaan yang terus-menerus menyelimuti mereka yang merasa anggota PKI—dan anggota ormas-ormasnya—keluarga, teman, tetangga, kekasih, atau bahkan mereka yang cuma pernah bersimpati dan mampir sekali-dua kali di pertemuan-pertemuan itu.

Pada masa itu, seperti yang pernah diutarakan dalam karya Umar Kayam, Bawuk dan Musim Gugur di Connecticut, wilayah kelabu—the gray area—tak boleh eksis. Komunis atau bukan. Hitam atau putih. Ini memudahkan cara pencidukan. Lalu, siapakah Mawa? Dia mengaku terlibat dalam salah satu ormas (Lekra?), tetapi dia bukan PKI.

Seperti banyak korban lain, ia juga tak paham apa yang sebenarnya terjadi pada 30 September itu. Ini ditunjukkan oleh Putu Oka dengan sikap kritis Mawa terhadap PKI: “Ketika selebaran pertama sampai di tangan Mawa, ia senang sekali membacanya. Isinya mengkritik pimpinan PKI yang sudah menyeleweng sehingga terjadi kesalahan prinsipiil.…”

Kritik Mawa lainnya adalah bahwa ia merasa betapa sibuknya para elite politik di atas memperebutkan posisi, sementara darah telah mengalir deras. “Rakyat telah dibantai di mana-mana, pimpinan malah bercongkrah memperebutkan takhta dan saling tuding dengan mengibaskan tanggung jawab dari bahunya sendiri. Aku heran dan simpatiku semakin susut,” ia berbisik kepada dirinya sendiri. (halaman 33)

Dengan demikian, PKI atau bukan, Lekra atau bukan, Mawa adalah sosok kelabu yang tidak dengan serta-merta bergumul dengan ideologi secara fanatik. Dia adalah seorang seniman yang selalu mempertanyakan sikap diri dan lingkungannya. Dia menolak untuk mengedarkan dan membuat sajak di buletin organisasinya. Dia tak ingin dipesan. “Aku tidak punya kesediaan bekerja seperti itu, apalagi menulis sajak. Aku kreator!” (halaman 38)

Bagian lain yang menegangkan adalah tema pengkhianatan yang senantiasa muncul dalam kisah-kisah dari balik tembok penjara. Siapa menunjuk siapa, siapa membisikkan siapa kemudian menjadi cara bertahan yang sungguh menyedihkan. Tetapi, apakah benar si A yang menunjuk si B? Siapakah yang bisa dikategorikan pengkhianat?

Novel ini, seperti juga novel Martin Aleida, menunjukkan betapa rumitnya untuk menyatakan definisi seorang pengkhianat. Para pengawal bisa saja tiba-tiba membawa tahanan ke rumah temannya dan dalam sekejap tahanan itu sudah diberi label pengkhianat. Dalam kasus Mawa, “tukang tik di kantor ormas”-nya dinyatakan sebagai “tukang tunjuk”.

Pertengkaran demi pertengkaran sesama tahanan yang terjadi beberapa kali—dan digambarkan dengan hidup—menunjukkan bahwa para anggota PKI atau simpatisannya itu juga tak bisa dikelompokkan sebagai satu kelompok yang homogen. Mereka juga terdiri dari satu garis spektrum luas yang memiliki pemikiran dan keinginan yang berbeda-beda.

Tokoh Budi adalah contoh anggota PKI yang setia kepada partai dan bercita-cita “melawan imperialis yang wakil-wakilnya ada di kamar pemeriksaan”, sementara Risno dianggap sebagai anggota partai yang cengeng karena dengan terbuka menyatakan kerinduannya kepada istrinya.

Tokoh Pak Listiono (Pak Uban) menyarankan Mawa untuk mencegah upaya bunuh diri salah seorang rekan pendiri gerakan PKI—sesudah dilarang—karena “mati dengan cara bunuh diri adalah mati yang tidak terhormat. Sedangkan di depan kita masih banyak jalan yang bisa ditempuh, yakni dengan melarikan diri, jika ditembak itu lebih patriotik daripada bunuh diri”.

Selain itu, penyiksaan fisik, di mata Pak Uban, “akan memberikan arti politis bagi partai dan kader-kader yang meneruskan perjuangan. Orang akan memuji pengorbanannya dan sejarah akan mencatatnya sebagai pahlawan gerakan komunis Indonesia”. Mendengar ungkapan “sesepuh”-nya itu, reaksi Mawa: merinding dan bertanya: “inikah seorang komunis yang sebenarnya?”

Maka, sangat jelas, Mawa adalah seorang pribadi yang jauh lebih merdeka dan kritis terhadap fanatisme ideologis yang tengah berkecamauk pada masa itu. Meski ia menentang kapitalisme dan imperialisme—sebagai orang yang memang dekat dengan kemiskinan—Mawa tak seiring dan sejalan dengan ekstremitas yang dianut Pak Uban, sebuah sikap yang kemudian mengorbankan kemanusiaan demi kepentingan sebuah partai.

Karena itu, tak mengherankan bahwa Mawa, seperti manusia biasa lainnya, juga memiliki rasa takut yang mendalam. Dia tak berpretensi menjadi perkasa saat dikejar-kejar dan dibuntuti sebelum masa penangkapannya. Adalah Nio, sang kekasih, yang justru mengirim rasa aman dan keberanian kepada Mawa.

Di dalam penjara yang gelap itu, dengan menggunakan teknik kilas balik, Putu Oka menampilkan lukisan sebuah pertemuan yang mengharukan antara sepasang kekasih itu. Nio menekankan bahwa sesungguhnya rasa takut diciptakan oleh diri sendiri.

“Bukankah kita sendiri yang membikin ketakutan itu? Saya takut akan gerakan rasialis. Saya takut kepada gambaran yang saya bikin sendiri, walau itu mungkin saja terjadi. Tetapi, sekarang saya tidak takut lagi. Kalaupun terjadi rasialisme dan itu menyerang saya, tidak ada jalan lain kecuali melawan. Melawan atau tidak melawan akibatnya sama.”

Bagian lain yang menyentuh adalah bagaimana sebuah keluarga bisa terbelah oleh ideologi yang berbeda. Seperti cerita pendek Bawuk karya umar Kayam, ketika Bawuk merasa ditempatkan di seberang versus kakak-kakaknya karena perkawinannya dengan Hasan yang PKI itu, Mawa juga merasa dirinya pada masa kecil terpaksa “pecah” dengan kakaknya akibat perbedaan sikap. Sang kakak menentang Pemuda Rakyat, yang seenaknya menanami tanah milik orang, sementara Mawa menolak untuk bergabung dengan kelompok mana pun.

“Apakah kakakku ikut juga mengayunkan kelewang memenggal saudara-saudaraku yang berseberangan itu?”(halaman 523) demikian pikir Mawa. Bagaimanapun, membaca kisah penderitaan sepanjang 590 halaman itu tentu saja membutuhkan kesabaran dan konsentrasi yang luar biasa penuh karena, seperti diutarakan Melani Budianta dalam kata pengantar, narasi novel ini tidak terjalin dalam satu kesatuan mood yang utuh.

“Terkadang narasi-narasi diolah dengan puitis dan reflektif, terkadang romantis sendu, sedangkan bagian-bagian lain yang terpanjang merupakan rentetan laporan monoton tentang suatu hidup yang keras, bau kencing dan berak yang menyengat, dan penuh sumpah-serapah.”

Seperti teknik penulisan novel-novel Inggris abad ke-19, novel Merajut Harkat penuh dengan repetisi adegan-adegan interogasi dan penyiksaan, yang memakan berpuluh-puluh halaman. Terkadang teknik semacam itu efektif, seperti juga pengulangan adegan penyiksaan para buruh oleh tuannya dalam novel-novel Charles Dickens, tetapi lebih sering menjadi monoton bagai dipaksa mengendarai kereta api tua yang berderak lamban.

Dari kebrutalan demi kebrutalan yang diolah, misalnya deskripsi penyimpanan tawanan perempuan dan istri anggota BC (Biro Chusus) yang diperkosa enam petugas, yang tentu saja menghunjam adalah gambaran bahwa mungkin hanya penulis yang pernah mengalami pengalaman hitam semacam ini yang mampu merepresentasikan sebuah kejujuran seperti itu, terlepas dari daya olah estetikanya yang menjadi periferal.

Putu mengakhiri novelnya dengan sebuah penyelesaian yang terbuka. Pada akhirnya, Mawa mampu mencapai suatu tahap pemikiran ketika kebebasan bukanlah kebebasan fisik semata.

“Jiwanya masuk ke dalam raga orang-orang di pasar. Ia melangkah sendiri ke tepi pasar, berjumpa tukang becak, dan jiwanya merasuk ke tubuh tukang becak. Ia sendiri sudah tidak bisa lagi mengenali dirinya. Tubuhnya berjalan dengan pasti dan bergegas, tapi rohnya sudah lepas melayang menyelinap di tubuh orang-orang yang dilihatnya. Ia lenyap tapi hidup.…

Ia memanjat langit, menunggang mega, diembus angin. “Aku membebaskan kemanusiaanku.” Putu membuat sebuah tekanan yang penting. Tokoh Mawa lahir kembali sebagai seorang manusia yang bebas jiwa dan raga, meski ada jeruji yang mencengkeramnya.

30 Agustus 1999