Rektorat UIN SGD Bandung Minim Apresiasi Sastra

Sukron Abdilah
http://www.kompasiana.com/sukronabdilah

Kesusastraan dalam konteks kebangsaan mampu mendobrak pola pikir bangsa untuk bangkit dari keterpurukan. Berangkat dari inilah, gagasan Temu Sastra Indonesia (TSI) lahir. Kini, ketika event itu dilaksanakan keempat kalinya, di Ternate, Maluku Utara tanggal 25-29 Oktober 2011 mendatang, ternyata ada sesuatu yang membuat kita miris ikhwal generasi muda yang telah mengikrarkan diri terjun di dunia kesusastraan. Kegiatan sastra ternyata tidak didukung pihak kampus, di mana para pegiat sastra itu menimba ilmu.

Salah satu kampus yang saya nilai tidak mendukung kegiatan sastra itu ialah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung. Pasalnya, seperti dilansir sunangunungdjati.com, sekitar 4 mahasiswanya yang diundang menghadiri event Temu Sastra Indonesia IV, terancam batal. Dari 124 Sastrawan Indonesia terpilih ini, 18 orang merupakan perwakilan Jawa Barat; yakni: Anis Sayidah, Ahmad Faisal Imron, Fina Sato (Puisi); Neneng Nurjanah “Warung Kupat Tahu”, Miftah Fadhli “Tertawa, Meja Kesayangan”, Norman Erikson “Kondektur” (Cerpenis); Fatkurrahman Karim, Rudi Ramdani, Herton Maridi, Dian Hartati, Galah Denawa, Restu A Putra, Pungkit Wijaya, Ahmad Syahid, Alya Salaisha-Sinta, Jun Nizami, Matdon, Sutan Iwan Soekri Munaf (Penyair). Dari jumlah 18 undangan itu 4 di antaranya masih tercatat sebagai mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung Mereka itu di antaranya, Herton Maridi (BSI), Galah Denawa (Sosiologi), Restu A Putra (Jurnalistik), Pungkit Wijaya (BSI).

Mereka terancam batal berangkat menghadiri Temu Sastra Indonesia IV di Ternate, Maluku Utara, karena belum mendapatkan bantuan pihak kampus. Seperti dikeluhkan Pungkit Wijaya. “Sampai kini belum ada kejelasan dari pihak Kampus untuk pemberangkatan kami ke Ternate. Malahan pihak Jurusan dan Dekan, menyerahkan semuanya ke pihak Rektorat. Sementara itu pihak rektorat terkesan acuh tak acuh ketika diperlihatkan proposal dari panitia.” Tegasnya, ketika ditemui di kamar kontrakannya hari Sabtu (9/10/2011) yang lalu.

Proses pengajuan proposal undangan dari panitia Temu Sastra Indonesia ke IV itu juga tidak diindahkan bagian kemahasiswaan di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Terkesan tidak mendukung prestasi mahasiswanya. “Berlaki-kali saya menghadap petinggi kampus. Namun yang terjadi, saya dipingpong ke sana kemari.” Ujarnya sembari menerawang ke lelangitan atap kamar kontrakan. “Pertanyaanya apakah kami akan diberi sumbangan dari kampus untuk berangkat ke Ternate yang membawa nama besar UIN SGD Bandung karena prestasi mahasiswanya” Pungkasnya.

Padahal jika dibandingkan di Perguruan Tinggi lain, Rektorat mendukung prestasi mahasiswa untuk membawa nama kampusnya. “Sekedar perbandingan di kampus UPI. Jangankan ke Ternate, ke Negara Brunei Darussalam juga, sekitar 2 mahasiswa berprestasi dibiayai kampus sebab mempromosikan kampus. Berbeda dengan UIN tidak sedikit prestasi mahasiswa yang tidak mendapatkan dukungan penuh dari kampusnya” Jelasnya.

Mengenai ongkos yang dibutuhkan, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris, ini menjelaskan dibutuhkan sekitar Rp. 3.000.000 per orang untuk pergi ke Ternate. Jadi yang dibutuhkan kami berempat sekitar Rp. 12.000.000. Pungkit Wijaya berharap, mudah-mudahan pihak kampus sadar dan memberikan bantuan pada kami untuk menghadiri Temu Sasatra Indonesia IV nanti karena dapat mengharumkan nama UIN Sunan Gunung Djati di tingkat nasional.

KOIN untuk Sastra

Sementara itu, di tempat lain, konsorsium Sastra UIN Bandung, menggalang aksis sosial untuk mengusahakan keberangkatan 4 wakilnya ke acara Temu Sastra Indonesia denggan membuka posko “KOIN Untuk 4 Sastrawan UIN SGD Bandung. Gerakan ini diharapkan dapat menyelamatkan eksistensi kesusastraan di kampus UIN Bandung. Meskipun pihak rektorat tidak mendukung prestasi mahasiswa-mahasiswanya, minimalnya dengan gerakan “KOIN Untuk Sastra UIN Bandung” ini dapat meringankan beban keuangan yang menimpa sastrawan muda ini.

Seperti dilansir situs UIN Bandung, kegiatan pengumpulan ini untuk menanggulangi ketidakpastian pihak rektorat. Konsorsium Sastra UIN SGD melakukan pengumpulan dana secara sukarela melalui “Koin untuk 4 Sastrawan UIN SGD Bandung” di Pusat Informasi dan Kajian Islam (PIKI) gedung Al-Jamiah lantai III dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK), Lembaga Pres Mahasiswa Suaka dan Women Studies Center (WSC) di gedung SC UIN SGD Bandung.

Karena dari pihak Rektorat belum memberikan bantuan sampai hari ini, Pungkit Wijaya tak patah semangat. Atas nama Konsorsium Sastra UIN SGD, dibantu Forum Komunikasi Dosen UIN (FKDU), dia dan kawan-kawan membuka Posko “Koin untuk 4 Sastrawan UIN SGD Bandung”.

Sumbangan untuk eksistensi kesusastraan di UIN SGD Bandung ini, bisa dititipkan melalui Abah Bachrun di PIKI, gedung Al-Jamiah lantai III, pengurus LPIK, LPM Suaka dan WSC di gedung SC. Abah Bachrun mengatakan, “Kami akan menerima bantuan dari seluruh civitas akademika tanpa melihat kecil dan besar sumbangannya. Hari ini saya mendapatkan sumbangan lagi untuk 4 sastrawan dari Bu Erni Haryanti.” Pungkasnya.

Menyaksikan minimnya apresiasi pihak rektorat di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kiranya tidak mematahakan semangat kawan-kawan pegiat kesusastraan di kampus ini. Semoga dengan kejadian ini, bagian kemahasiswaan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tidak menganggap sepele persoalan prestasi mahasiswanya. Pihak rektorat untuk kepemimpinan mendatang, harus mengapresiasi segala bentuk prestasi positif mahasiswanya.

Dijumput dari: http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/12/rektorat-uin-sgd-bandung-minim-apresiasi-sastra/