Tuyul

Nyoto
Riau Pos, 06 Agu 2003

HAMPIR tak kupercaya, uangku yang tersusun rapi digasak maling. Tapi tak habis semua, hanya beberapa lembar. Namun maling itu tak kunjung kutemukan. Jangankan batang hidungnya, jejaknya pun nyaris tak ada. Kerjanya cukup rapi sehingga tak meninggalkan jejak perbuatan yang berarti bagiku.

Segera kulaporkan ke polisi dan polisi pun datang. Namun bukan hasil penyelidikan yang kudapat, melainkan bahan tertawaan. Polisi menertawaiku habis-habisan. Mereka bilang, “Bapak sudah pikun. Mana mungkin pencuri masuk ke rumah bapak, sementara semua pintu dalam keadaan terkunci. Terlebih-lebih lemari dan laci penyimpanan uang bapak, semuanya dalam kondisi terkunci rapi.”

“Tapi Pak, ini kenyataan. Hampir saban hari uang saya berkurang,” aku berusaha meyakinkan.

“Ha…ha…ha…! Bapak termakan halusinasi sendiri. Bapak harus pakai seorang staf untuk menyimpan uang-uang bapak secara baik, biar kelak tak salah menghitungnya,” nasehat polisi padaku. Aku tak butuh nasehatnya, tapi kubiarkan saja kalimat itu berlalu dari liang telingaku yang sempit.

“Semua yang tercatat adalah benar, Pak. Hanya uangnya yang berkurang.”

“Maaf, Pak. Kami dari pihak forensik pun sudah meneliti jejak pencuri yang bapak maksudkan itu. Namun di sekitar rumah ini, tetap saja jejak pencuri tak kami temukan. Ada baiknya bapak berpikir kembali tentang kebenaran uang-uang yang hilang itu.”

“Itulah yang membingungkan saya, Pak Polisi. Semua kunci rumah, saya yang pegang, namun uang tetap saja hilang…” tukasku, seakan aku sendiri tak percaya dengan kejadian yang kualami.

“Sekali lagi maaf, Pak. Bapak kami sarankan untuk berkunjung ke seorang psikiater. Barangkali pikiran bapak terganggu dengan jumlah uang yang begitu banyak itu.”

Aku terlongo sejenak. Aku sudah gila? (dalam hati aku tertawa). Enyahlah! Justru aku menganggap mereka yang gila. Mereka tak mempercayai kata-kataku, jika semua yang kulaporkan itu benar adanya. Uang hilang bukan sekali-dua kali, tapi sudah berulang kali dan celakanya tak ada bukti yang bisa diungkapkan.

***

Semua kejadian aneh ini pun sudah aku ceritakan pada istri, kerabat dan anak-anakku. Tragisnya, istriku pun sudah mulai ikut-ikutan menertawaiku. Bukan tidak mungkin besok-lusa anak-anakku juga demikian, sehingga semua ber-ha-ha-ha padaku.

Yang terakhir menertawaiku tentu saja polisi-polisi yang kuundang ke rumahku. Mereka bekerja cekatan, namun tak ada pekerjaan yang kulihat diselesaikan dengan baik oleh mereka. Masing-masing menyibukkan diri; ada yang menabur sejenis bedak untuk menyelidiki sidik jari, barangkali dari sini nantinya diperoleh hasil siapa yang pernah menjamah laci-laci penyimpanan uangku. Namun hasil pemeriksaaan hanya sidik jariku seorang yang ada di sana. Makanya hari ini aku ditertawakan habis-habisan oleh mereka. Ya—oleh mereka, mulai dari istriku hingga polisi-polisi itu.

Dalam keteranganku sebagai pelapor, aku selalu menegaskan semua yang kuungkapkan itu benar adanya. Sesekali dalam selaku, kucoba untuk meyakinkan polisi, mungkin mereka keliru dalam melakukan tahap pekerjaan. Tapi dalam hati kecilku—aku berpikir, tak mungkin mereka salah melakukan tahapan pekerjaan, sebab mereka orang-orang profesional yang sudah terlatih. Negara sudah banyak menghabiskan uang untuk kegiatan peningkatan sumber daya manusia. Jadi wajar saja kalau mereka bekerja dengan profesional.

Namun tetap saja aku kecewa! Betapa tidak? Maling kecil saja mereka tak sanggup menangkapnya, bagaimana kalau itu maling besar? Tentu akan lebih sulit lagi menjerat leher garong itu. Setahuku, maling kecil jika sudah tertangkap tak banyak komentar, tak banyak tingkah, juga tak banyak rede. Jika yang tertangkap maling besar, malah banyak tingkah dan kita direpotkan dengan seabregk permintaannya. Dengan demikian jelas aku kecewa. Urusan maling kecil tak tertangkap malah aku ditertawai, pelecehan jadinya. Ah! Persetan sama kalian…! (umpatku dalam hati).

***

“Jadi, kalian sungguh-sungguh ingin meninggalkan tugas penyelidikan ini?” tanyaku serius setengah mengancam.

“O, bukan! Bukan kami bermaksud meninggalkan tanggung jawab, tapi jelas sekali laporan bapak tak sesuai dengan hasil penyelidikan kami,” jawab polisi itu serius. Tapi perilaku mereka kulihat tetap saja setengah serius. (Dalam hatiku bertanya, inikah profesional?)

“Iya. Saya sungguh-sungguh kehilangan duit. Ini serius, Pak Polisi!”

Lagi-lagi mereka menertawaiku, “Tak mungkin! Maaf, Pak. Ini bukan pekerjaan kami. Kami permisi,” mereka meninggalkan sepotong kecewa padaku.

Dalam hati aku berpikir, barangkali mereka mau menangkap maling ketika maling itu datang menyerahkan diri. Tentu saja polisi tinggal menelikung—lalu memborgol ke dua tangan maling itu—diseret ke tahanan dan diberi makan sayur kangkung rebus sepuluh kali menu dalam seminggu agar kakinya lama-kelamaan setengah lumpuh. Setelah dia keluar dari tahanan, kalaupun mencuri lagi, tak susah-susah menangkapnya, sebab dia tak bisa lari kencang. Kakinya tadi sudah lumpuh, paling tidak, lemah ketika dibawa berlari. Gampang, bukan?

***

Berselang dua hari kemudian, kualami lagi peristiwa yang sama. Pada kejadian yang lalu-lalu, uang yang diambil hanya lembaran lima ribuan—sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan. Kali ini tidak! Maling ini sudah lebih berani, dia menggondol habis bundel uang lima puluh ribuan dan uang ratus ribuan. Keberaniannya sudah melewati batas wajar. Nekat betul maling ini, pikirku. Kalau yang lalu-lalu dia masih menyisakan uang di laciku, kali ini tak begitu. Dia santap habis uang-uang itu tanpa ampun. Kandas!

Aku tak tahan lagi menghadapi persoalan uang hilang. Jika aku laporkan lagi ke polisi, dapat dipastikan, aku ditertawai lagi. Mungkin mereka akan bertanya padaku: “Apakah bapak sudah mengunjungi psikiater?” Tentu saja aku tak bersikap dungu. Ini sudah keterlaluan, pikirku. Aku mencari alternatif lain. Sekiranya di negeri ini ada detektif swasta, jauh hari sudah kusewa. Uangku yang banyak cukup membayar mereka, biarpun bandrolnya mahal, tapi aku puas.

Akhirnya aku meminta jasa seorang paranormal. Mbah dukun itu datang ke rumahku dengan membawa sejumlah properti perdukunannya. Ia duduk di ruang tengah rumahku sembari menyulut sebatang rokok kretek dengan ukuran abnormal. Kretek itu satu setengah kali lebih besar dari kretek biasa. Bau asap rokok itu pun membuat hidungku bagaikan orang yang berpenyakit polip—tersumbat, sementara bulu kudukku tegak bagaikan jarum-jarum halus. Ya, bau kemenyan. Suasana rumahku jadi mistis. Barangkali Mbah dukun ini menyampurkan sedikit tembakau rokoknya dengan kemenyan yang telah dihaluskan, pikirku dalam hati.

Dia bertanya padaku, “Di mana letak laci itu?” maksud dia adalah laci mejaku yang sering mengalami kehilangan duit itu.

“Ada di kamar kerja saya, Mbah,” kataku.

“Tunjukkan pada Mbah, di mana kamar itu.”

Aku menuntunnya ke sebuah kamar di bagian kanan ruang tamu. “Ini kamarnya, dan itu laci yang bernasib malang, Mbah,” aku menuding pada sebuah laci meja kerjaku yang selalu membuatku pusing.

Kulihat Mbah dukun mengangguk-angguk seraya tangannya mengelus-ngelus janggutnya yang tumbuh acak-acakkan itu. Sejurus kemudian dia berujar, “Tuyul yang mengambil uangmu!”

“Apa, Mbah?!” tanyaku setengah kaget.

“Uangmu diambil tuyul,” tegas Mbah dukun.

“Mana mungkin tuyul mengambilnya, Mbah.”

“Apanya yang tidak mungkin?”

“Tuyul mengambil tak lebih dari tiga lembar uang, sedangkan ini bukan hitungan lembaran lagi, Mbah. Tapi sudah main bundelan. Tentu ini pekerjaan manusia,” kataku setengah tak percaya. Artinya aku masih saja menyangkal tentang pernyataan Mbah dukun.

“Apa bedanya manusia dengan tuyul? Kamu tahu apa tentang manusia? Juga tahu apa tentang tuyul? Bagi Mbah, keduanya sama saja.” Kulihat Mbah dukun tenang-tenang saja.

“Tuyul tak kuat mengangkat uang sebanyak itu, Mbah. Manusia tentu lebih mampu mengambil lebih banyak dari yang diambil tuyul.”

“Berarti manusia lebih rakus dari tuyul, maksudmu begitu?”

Aku yang cerdik, tertunduk sejenak, lalu, “Jelas manusia lebih rakus dari tuyul. Tuyul mencuri uang bukan untuk dirinya, melainkan untuk tuannya. Siapa lagi kalau bukan manusia. Manusia mencuri uang untuk kesenangannya semata. Yang satu mencuri, yang satu menadah. Di mata hukum, keduanya sama-sama bersalah, bahkan si penadah akan dihukum lebih berat daripada si pencuri.”

“Bagus! Kau telah menjawabnya. Mbah hanya sekilas menerangkan tentang perbedaan tuyul dan manusia. Perbedaan intrik manusia dan tuyul adalah, ketika tuyul tertangkap, dia tak mampu merubah dirinya menjadi manusia. Tapi, manusia ketika tertangkap dan kepepet, dia mampu merubah dirinya menjadi tuyul. Berarti manusia berbentuk tuyul akan jauh lebih dasyat kejahatannya dibanding tuyul yang sebenarnya, sungguh berbahaya,” jelas Mbah dukun. Dia masih terus menikmati rokok kretek yang baunya tak kusukai itu.

Aku terpagut-pagut. Semua yang diterangkan Mbah dukun padaku masuk akal. Di otakku sekarang, tak peduli itu tuyul atau manusia, yang penting bisa kutangkap dan kupatahkan batang lehernya lalu kubanting, habis perkara! Selanjutnya aku menyuruh Mbah dukun menangkap tuyul-tuyul yang katanya selama ini bergentayangan di rumahku.

Dengan cekatan, Mbah dukun mempersiapkan segala properti yang semula telah dia bawa dari rumah. Dia duduk bersila pada lantai kamar kerjaku dan membakar kemenyan pada sebuah bokor. Mulutnya komat-kamit mengucapkan mantra yang sayup-sayup aku dengar: “babalam bababalam lambabalam!” seperti bahasa India. Sungguh aku tak mengerti maksud ucapan mantra itu. Kubiarkan dia larut dengan prosesinya. Tak seberapa lama kemudian, dia mengeluarkan sebuah botol yang bentuknya aneh. Tabung botol itu lebih besar dari botol-botol biasa, namun leher botol tetap sama seperti botol biasa dengan sumbat kain hitam. Sebuah botol transparan.

“Mbah akan memancing tuyul-tuyul itu datang ke sini untuk mengambil uang-uang ini. Di saat mereka asyik mengambil uang, akan Mbah jerat kaki mereka lalu Mbah masukkan ke dalam botol ini,” Mbah dukun meletakkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan.

“Kalau dimasukkan ke dalam botol, bagaimana saya bisa mencekik batang leher tuyul-tuyul itu, Mbah?” tanyaku dengan sedikit emosi.

“Itu urusan nanti. Yang penting Mbah tangkap dulu tuyul itu baru kita adili!”

Aku terdiam serius. Perhatianku tersita pada botol yang sekarang terletak di atas meja kecil di depan Mbah. Di sekeliling botol itu ditaburi beras kencur dan dipasakkan tiga buah hio yang mengeluarkan aroma kayu cendana. Ruang kerjaku kini menjadi semerbak akibat ulah asap-asap properti itu. Aroma kemenyan yang bercampur aroma kembang, membuat dadaku tambah sesak. Untuk sejenak, aku berusaha untuk tak merasakan aroma-aroma busuk itu.

Tiba-tiba Mbah dukun menutup botol itu dengan sumbat kain hitam yang telah disediakannya tadi. “Ha… ha.. ha…! Sekarang dua ekor tuyul sudah Mbah tangkap dalam botol ini. Mereka melolong-lolong minta keluar. Jangan sekali-kali Engkau buka sumbat botol ini, sebab mereka akan melarikan diri, mengeri?” Mbah dukun menyerahkan botol itu padaku.

Tanganku gemetar menerima botol itu. Kuangkat agak tinggi, sejajar dengan tinggi kepalaku. Kuamati dengan seksama—dengan detak jantung berdegup, sebab aku belum pernah mengalami hal demikian ini. Aku tak menemukan dua sosok tuyul yang dikatakan Mbah dukun tadi.

“Mbah, saya tak melihat dua sosok tuyul yang Mbah katakan tadi,” ujarku penasaran.

“Jelas kamu tak mampu melihatnya. Tak sembarangan orang mampu melihat mereka. Tapi Mbah dengar apa yang dikatakan mereka tadi ketika kau melototi mereka.”

“Apa yang dikatakan mereka, Mbah?”

“Mereka meneriaki kaulah pencuri yang sebenarnya.”

“Hah?!” Aku terperanjat. “Jangan macam-macam, Mbah. Saya tak melihat mereka,” ingin rasanya tanganku membuka sumbat botol itu, namun hatiku ragu.

“Sekali lagi Mbah katakan padamu, Nak, bahwa manusia biasa tak mampu melihat mereka. Hanya paranormal yang mampu berkomunikasi dengan mereka. Nah, sekarang kau tahu apa yang diteriaki mereka?”

“Katakan, Mbah. Apa yang mereka teriakkan.”

“He… he… he…! Tuyul-tuyul itu bilang: Maling teriak maling!”

“Saya tak percaya!” suaraku agak keras karena terperanjat mendengar sebutan maling. Aku berpikir sejenak, dari mana tahu Mbah ini kalau aku selama ini juga maling? Jika saja aku mau jujur, tentu semua orang akan datang padaku dan menyeretku ke pengadilan lalu memenggal leherku ini. Tapi, rasanya aku tak mungkin mengakui perbuatanku itu. Sama saja dengan ular yang minta pukul, mati konyol! Tuyul-tuyul itu benar. Namun tetap saja aku malu untuk mengakuinya, bahkan aku teramat marah dengan mereka.

“Saya akan bawa tuyul-tuyul ini ke kantor polisi, Mbah!” ujarku.

“Polisi-polisi itu tentu tak sanggup mengadili mereka. Biar pun ini negeri tuyul, namun polisi tetap manusia dan tuyul tetap tuyul. Engkau akan ditertawai mereka.”

“Maksud Mbah siapa?”

“Kedua-duanya!”

Hah! Aku terperanjat lagi. Kemarin aku ditertawai polisi ketika kulaporkan uangku yang hilang. Mereka menyarankan aku untuk berkonsultasi dengan psikiater, tentu mereka menganggapku sudah gila. Kali ini tuyul-tuyul itu menertawaiku, mereka berteriak-teriak hingga tenggorokkannya kering-kerontang. Untung saja tidak semua manusia mendengarkan teriakannya. Celaka! Ini juga pelecehan, pikirku.

“Engkau boleh percaya, boleh tidak. Sekarang tuyul-tuyul itu mengatakan padaku bahwa mereka hanya mengambil sebagian hasil curianmu,” Mbah dukun memberitahuku, seakan-akan dia menjadi penerjemah bagi percakapanku dengan kasus dua ekor tuyul ini.

“Biarkan mereka mati dalam botol ini, Mbah! Akan aku bakar botol ini biar mereka rasakan panasnya api neraka dunia ini!” aku mengancam tuyul-tuyul itu.

“Mereka tertawa-tawa kesenangan, Nak,” ujar Mbah dukun tersenyum-senyum.

“Apa, Mbah? Tertawa? Mereka tidak takut kubakar? Dasar setan!” umpatku.

“Sabar! Jangan terlalu emosi. Tuyul tak takut api, mereka akan terbebas jika api menjilat tubuh mereka,” Mbah dukun menjelaskan padaku.

“Apa yang harus saya lakukan untuk menghukum mereka?”

“Berikan botol itu pada Mbah. Lupakan uangmu yang selama ini hilang. Namun, jangan sekali-kali menjadi tuyul dalam dirimu, sebab tuyul-tuyul dalam botol ini tetap akan datang padamu!” nasehat Mbah dukun seraya pamit meninggalkanku.

Aku tertegun dengan ucapan tuyul-tuyul itu, merasa sama saja diriku dengan mereka. Apa bedanya tuyul dengan manusia? Bagiku, di rumahku, di negeriku yang kacau ini, manusia dan tuyul sama saja. Semua terasa seakan berada di negeri tuyul. Wah ha ha ha! Suara tertawa itu menjauh dariku.***

Pekanbaru, 2002.
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=211710225524517