Wisran Hadi: Sastrawan Yang Tak Pernah Puas

Donny Syofyan
http://harianhaluan.com/

Allah Yang Maha Kasih telah berkenan mengambil salah yang menjadi hak milik-Nya. Wisran Hadi, seorang sastrawan Indo­nesia kesohor dari Ranah Minang, telah meninggalkan dunia yang fana ini buat sela­ma-lamanya pada 28 Juni 2011. Kematian ini cukup menge­jutkan karena tidak didahului oleh sakit parah bertahun-tahun yang mengharuskan beliau, misalnya, harus diopname di rumah sakit. Berdasarkan keterangan dari istri beliau, Raudha Thaib, beliau terkena serangan jantung ketika menge­tik.

Lahir di Padang, Sumatera Barat, pada 27 Juli, 1945, Wisran adalah salah seorang penulis prolifik Indonesia yang telah memenangkan berbagai penghargaan di dalam dan luar negeri. Salah satu naskah awalnya, Gaung, memenangkan Lomba Penulisan Naskah Sandiwara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai Peme­nang Harapan Ketiga Lomba pada 1975. Pada tahun 2000, ia menerima Southeast Asian Writers Award (SEA Write Awards) dari pemerintah Thai­land. Tahun 2003 menda­pat Anugerah Seni dari Peme­rintah Indonesia atas kiprahnya dalam mengembangkan seni dan kebudayaan di Indonesia. Masih banyak penghargaan lain yang beliau terima. Penghar­gaan terakhir yang beliau terima sebelum meninggal adalah Federasi Teater Indonesian (FTI) Award yang diterimanya pada Desember 2010 silam.

Namun demikian, menulis bukanlah panggilan jiwa di awal-awal kehidupannya. Sebetulnya, jalan hidupnya bisa dibilang tersesat di jalan yang benar mengingat gurunya di Sekolah Guru Agama (SGA) yang menaruh Wisran di dunia artistik atau jalan seni. Mencer­mati bakatnya seninya yang terpendam, sang guru menasi­hati Wisran untuk melanjutkan pendidikannya di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI, kini adalah ISI) untuk belajar melukis. Begitu kuliahnya selesai pada 1969, Wisran menghadapi kesulitan untuk mempertahankan kemampuan­nya melukis di kota kelahiran­nya, Padang. Selama lima tahun ia bergulat dengan dunia kepelukisan, namun tetap saja tak berkembang karena alat-alatnya terbilang mahal, belum lagi untuk mendapatkannya harus dibeli di Medan. Maka, lima tahun berikutnya adalah titik baliknya dengan mengalih­kan bakatnya pada dunia kepe­nu­lisan atau kepengarangan.

Rekan-rekannya selama kuliah di ASKI Yogyakarta antara lain Putu Wijaya dan Arifin C.Noer. Adapun penyair W.S. Rendra menjadi inspirasi baginya untuk menjadi seorang dramawan atau teaterawan. “Sewaktu berada di Jogja, semua orang adalah teman akrab. Saya banyak belajar dar mereka,” aku Wisran suatu ketika. Tatkala hendak betul-betul terjun pada dunia teater dan mulai menulis naskah, Wisran mengakui bahwa ia banyak belajar dari raja di raja dramawan Inggris, William Shakespeare. Pertama kali ia mengaku kesulitan membaca dan memahami Shakespeare. Tapi lewat naskah-naskah lakon Shakespeare ia mengetahui bagaimana menulis sebuah naskah. Dalam pelbagai pernya­taan, ia menyebut peran Asrul Sani yang luar biasa dalam menerjemahkan naskah-naskah Shakespeare baginya.

Keberhasilan Wisran me­me­nangkan Lomba Penulisan Naskah Sandiwara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 1975 menjamin posisinya sebagai seorang dramawan atau teaterawan pada 1976 bersama dengan penyair Hamid Jabbar dan Upita Agustine. Wisran mendirikan Bumi Teater. Kelompok ini bertahan selama 15 tahun sebelum anggota-anggotanya sibuk dengan pro­yek-proyek lainnya. Wisran mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa pada 1975. Lalu dan pada 1978 and 1987 ia pergi ke Amerika dan Jepang guna mengamati perkembangan dan penampilan teater-teater mo­dern.

Meskipun sudah mengkaji teater modern Barat, drama-drama Wisran tepat setia kepada kebudayaan, sejarah, mitos, atau legenda Minang­kabau. Ia menyebut dirinya tak begitu mahir dalam menulis fiksi. Di saat hendak memain­kan sebuah lakon, ia perlu belajar terlebih dahulu lewat buku sejarah, pengamatan, dan wawancara. Tak jarang istrinya mengejeknya sambil berseloroh bahwa menulis naskah drama baginya tak ubahnya menulis tesis. Sebagai misal, ketika menulis Empat Lakon Perang Padri, ia menghabiskan waktu lebih kurang tiga tahun untuk mempersiapkannya. Ia menga­takan, “Saya membuat banyak pertanyaan yang harus saya jawab. Siapa Imam Bonjol? Bila ia orang Minang, apa gelar adatnya? Siapa istri dan anak-anaknya? Catatan seperti itu harus ditinggal di belakang.” Perang Padri, yang berlangsung antara 1821-1837, adalah peperangan kaum Adat dan kaum Islam yang akhirnya berkembang menjadi perjua­ngan menentang Belanda. Imam Bonjol adalah salah seorang pemimpinnya.

Hasilnya, lakon itu adalah sebuah sumber sejarah dan bahan ajar bernilai tinggi serta pernah ditayangkan di TVRI. Segenap pekerjaan tersebut membuatnya lelah, namun ia melakukannya dengan rasa suka dan senang. Ia pernah mendapat serangan jantung pada 1990 lantaran keletihan bekerja. Ia mengibaratkan dirinya laksana bus tanpa rem begitu ia sudah mulai menulis. Lebih lanjut, pengalamannya saat berada di Amerika memperkuat hasratnya untuk membuat tema-tema dramanya agar lebih dekat ke kampung halaman.

Ia mencatat bahwa teater modern Indonesia tak pernah menciptakan tokoh jahat atau antagonis berdasarkan ras, sesuatu yang kontras dengan kecenderungan di Amerika dan Jepang. Ia menyatakan bahwa politik amat berpengaruh terhadap teater di dua negera tersebut. Sebagai contoh, ketika yang menjadi penulis naskah adalah orang-orang Negro dan Jepang, maka dapat dipastikan bahwa tokoh antagonisnya adalah kulit putih Amerika. Demikian juga, bila orang kulit putih Amerika yang membuat naskah dan memainkan lakon, maka figur jahatnya adalah orang kulit hitam dan berwarna. Beda di Indonesia. Wisran menegaskan bahwa hal tersebut tak akan terjadi di sini. “Anda tak akan menemukan Putu Wijaya, orang Bali, menggam­barkan bahwa masyarakat atau orang-orang Bali lebih baik daripada yang lainnya. Demi­kian juga Rendra atau Rianti­arno. Mereka tak pernah me­ngem­bangkan citra bahwa orang-orang Jawa berada di atas suku bangsa lainnya,” ucapnya.

Tak kenal lelah menyosong tantangan, Wisran pernah berhenti menulis drama bebe­rapa tahun. Ia merasa sudah mencapai titik puncak kreati­vitasnya dalam menulis naskah lakon dan khawatir akan terjebak pada pengulangan demi pengulangan. Ia mengalihkan tenaganya untuk menulis novel dan mempelajari tingkat kesuli­tannya. Ia paham bagaimana menulis lakon, tapi bukan novel.

Kumpulan cerpennya per­nah diterbitkan di Malaysia dengan judul Daun-Daun Mahoni Gugur Lagi. Kemu­dian Pembisik diterbitkan dalam kumpulan cerpen terba­ik harian Republika, Jakarta. Generasi Ketujuh, novel, diter­bit­kan secara bersambung pada Harian Umum Padang Ekspres mulai Mei-September 2007. Wisran juga pernah mengajar mata kuliah creative writing di Malaysian National Academy of Arts dan berkolaborasi dengan seniman-seniman negeri jiran Malaysia dalam menulis skenario Mahsuri, sebuah cerita rakyat Malaysia.

Selamat jalan Pak Wis. Selamat berpisah ayahanda. Kami yakin kepergianmu tak akan menyurutkan generasi-generasi sastrawan muda untuk tetap menyemburkan karya-karya luar biasa bagi per­kembangan teater dan kesusas­traan Sumatra Barat berikutnya.

*) Dosen Universitas Andalas, Padang