A L I E N

Sri Wintala Achmad
__Kedaulatan Rakyat, Yogya

TAK disangka, Alien yang semasih kecil sakit-sakitan itu telah tumbuh menjadi perawan sempurna. Matanya yang melukiskan kecerdasan otaknya berbinar seperti bintang kembar. Wajahnya yang selalu dibasahi air Telaga Tirta Maningkem itu melampau bentangan langit safir. Pada usia tujuh belas, Alien menjadi kembang desa Karang Kabolotan.

Setiap malam, rumah Alien tidak sepi dengan kunjungan laki-laki. Terlebih malam Minggu ketika Alien tidak disibukkan dengan pekerjaan sekolahnya. Di ruang tamu dan teras rumah hanya dipenuhi laki-laki yang mengharapkan cintanya. Tetapi banyak lelaki kecewa. Alien menganggap mereka hanya kawan biasa. Alien bilang kepada ayahnya, “Aku belum siap berumah tangga.”

Dua tahun kemudian, rumah Alien seperti kuburan. Tak ada lelaki berkunjung. Alien telah pergi ke kota. Dengan beasiswa, Alien kuliah dan kos di samping kampus ternama di kota Madukara. Kampus berkelas international yang merupakan kebanggaan bagi setiap mahasiswa. Termasuk Alien yang berhasrat membangun kebobrokan Negara yang dihancurkan para pimpinan. Presiden, menteri, gubernur, walikota, bupati, camat, lurah, dan dukuh tak ubah drakula yang kebal matahari. Menghisap darah rakyatnya sendiri.

Dalam waktu singkat, Alien lulus dengan predikat mahasiswi teladan. Ayah dan Ibu Alien menitikkan air mata kebahagiaan. Anak semata wayangnya telah membawa nama baik mereka di depan sekelompok orang pintar. Para sarjana yang diharapkan menjadi penyelamat Negara. Bukan para penganggur tolol yang mati kelaparan kalau tidak bekerja sebagai pegawai negeri. Mendapat upah hanya dengan datang, duduk, tanda tangan, dan pulang sebelum selesai jam kerja.

Di depan patung Jendral Dewi Srikandi di taman halaman kampus, Alien berpotret bersama kedua orang tuanya. Meski berawan, langit tampak cerah di mata Alien yang mampu membahagiakan kedua orang tuanya itu. Di dalam taksi silver yang meluncur ke desa Karang Kabolotan, Alien berbisik pada ibunya. “Aku ingin tinggal bersama Ibu dan Ayah. Membangun desa bersama seluruh warga Karang Kabolotan.”

Tak sepatah kata meluncur dari mulut ibunya. Hanya air mata kebahagiaan yang sederas hujan tumpah dari langit. Taksi silver berhenti di halaman rumah Alien yang dipenuhi warga Desa Karang Kabolotan. Menyambut kedatangan Alien tanpa mantel dan payung. Mereka berebutan menjabat tangan Alien yang keluar dari taksi silver. Rumah Alien yang lama menyerupai kuburan sontak berubah seramai pasar murah.

Duduk di ruang tamu, Alien seperti ratu. Namun di mata Kyai Sobrah, Alien seperi juru selamat yang turun dari langit. Perempuan pilihan yang bakal menyelamatkan desa dari keserakahan perangkat kalurahan. Orang-orang yang menyulap perbukitan menjadi perumahan, dan lahan pertanian menjadi kawasan industri yang dibangun para pemodal. “Aku mohon kepadamu untuk menjagokan diri sebagai calon lurah Karang Kabolotan.”

“Tidak!” Alien menatap tajam lurus ke luar. Air hujan masih deras ditumpahkan dari langit. Kilat menyambar-nyambar seperti naga api yang akan melebur bumi dengan segala kebobrokannya. Berondongan guntur seperti konser timpani yang dipukul bangsa iblis. Roh-roh dari negeri kegelapan yang bertahta di kerajaan jiwa setiap penguasa. “Cita-citaku hanya satu. Aku ingin menjadi warga yang turut menyalamatkan bumi dari kehancurannya. Warga berjiwa punakawan,”

“Semar?”

Alien diam. Pandangannya beralih pada wayang Semar yang dipajang ayahnya di dinding ruang tamu. “Bukanl Aku bukan Semar yang menelan gunung namun tak mampu memuntahkannya. Aku bukan Semar yang terkutuk karena kerakusannya.”

Berlagak bijak, Kyai Sobrah mengangguk-angguk. Sebagaimana warga desa Karang Kabolotan lainnya, orang tua itu meninggalkan rumah Alien. Sehabis hujan reda. Sehabis piring-piring kosong dari makanan kecil dan cangkir-cangkir tinggal menyisakan ampas kopi. Sehabis senja mengharuskan lampu-lampu untuk dinyalakan.

***

Tengah malam Alien keluar rumah. Berdiri tegap di halaman depan pintu utama. Bersedekap. Mata terpejam di bawah langit tak berawan. Tubuhnya merasakan guyuran cahaya purnama. Semilir angin beraroma melati dari lambung telaga Tirta Maningkem menggetarkan tubuhnya. Telinga batinnya menangkap suara Nyai Dorodasih. “Karang Kabolotan harus kamu selamatkan. Warga telah lama hidup dalam pembodohan. Tak tahu kalau tanah warisan leluhurnya telah dicengkeram raja-raja kecil berkipas uang.”

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Saat pemilihan lurah tiba, kamu harus siap menjadi lurah. Seluruh penduduk akan memilih kamu sebagai lurah. Ini jalan takdirmu yang harus ditempuh. Sekalipun penuh perintang. Seperti badai pada perahu layar.”

“Tapi, Nyai?”

Senyap.

Alien membuka mata. Belum sempat menatap purnama yang mengambang serupa bola emas di langit lepas, Alien memasuki rumah. Ponsel berdering. Alien menuju kamar. Mengangkat ponsel yang tergeletak di samping bantal. Membuka SMS: ‘”Malaikat2 kcl msh main bntang2 di langit. Apkh Alien tlh trlelp dlm mimpi?”

“Nmr siapa?”

“Ko msh ingat pmlik 0274.662.3372?”

“Mad? Kbr angin, ko br plang dr negri sebrang?”

“Bnr. Ayah mnghndaki aq plang. Mwarisi profesi ayahqu sbg developer. Selain memnt jwbanmu atas prnyataan cntqu 4 thn slm. Selps kt dr sma. Apkh bsk Alien pny wkt? Aq ingin ktm.”*

Alien terhanyut ke dalam lautan kenangan empat tahun silam. Masa terindah yang tidak dapat dilupakannya, sewaktu Mad menyatakan cinta di depan gerbang sekolah sesudah acara perpisahan siswa. “Ya. Bsk aq pny wkt. Dmn kt temuan, Mad?”

“Dpn gerbang gedng sklh sma kt. J 2.”

“On time?”

“On time. Good night.”

“See u.”** Pesan terkirim. Alien mematikan ponsel. Menjelang subuh, Alien belum sanggup memejamkan mata. Bayangan Mad, pemuda jantan yang pernah dikenalnya sewaktu SMA itu telah mengeram di dalam benak. Sesudah sembahyang bersama ayah-ibunya, Alien terseret ke peraduan. Bermimpi menjadi kekupu bersayap biru. Terbang bersama Mad. Menuju negeri pelangi yang keindahannya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

***

Di depan gerbang SMA yang berseberangan jalan dengan Kalurahan Karang Kabolotan Alien menunggu Mad. Dua lebih tigabelas menit, Mad belum menampakkan batang hidungnya yang tak mancung. Alien kecewa. Namun ketika teringat kata ibunya bahwa lelaki suka ingkar janji, Alien mencoba meluaskan jiwanya seperti samudra.

BMW hitam berhenti di depan Alien. Lelaki dengan kaca mata, T-shir putih dan blue jeans keluar dari mobil itu. “Maaf! Aku harus membantu pekerjaan ayah. Merancang anggaran pembangunan real estate elite yang berlokasi di kawasan selatan Kabupaten Madukara.”

Tidak sepatah kata meluncur dari bibir Alien, selain senyum tipis seanggun setangkup mawar merah. “Bukankah kau datang hanya ingin meminta jawabanku?”

Mad mengangguk.

“Sayang Mad. Aku sudah punya pacar.”

Mad menghirup nafas panjang. Menghempaskannya. “Baiklah. Aku pegi sekarang. Terimakasih kau telah memberi jawaban. Selamat berpisah.”

“Kau mau kemana?”

“Bunuh diri!”

“Kalau kau bunuh diri, lantas kekasihku siapa?”

Awan tebal terlepas dari rengkuhan langit. Di bawah deras hujan, Alien dan Mad berpelukan erat. Berciuman. Mereka seperti Adam-Eva sesudah sekian abad dipisahkan. Dengan tubuh basah, Alien ingin menuntaskan kisah siang itu dengan bercinta. Menyerupai kerbau dalam keluhan, Alien menyerah ketika Mad membawanya ke dalam mobil. BMW hitam meluncur kencang menerjang deras hujan. Menuju pantai selatan.

***

Lewat surat kabar lokal, berita tersiar luas di seluruh Kabupaten Madukara dan provinsi Amarta. Alien dilantik sebagai lurah Karang Kabolotan. Bagi Alien, hari itu merupakan waktu terindah selama hidupnya. Alien dipuja-puja oleh seluruh penduduk Karang Kabolotan melampaui bintang sinetron atau ratu sejagad. Kebanggaan Alien seperti yang dirasakan Dewi Srikandi sewaktu melumpuhkan Resi Bisma di Padang Kurukasetra.

Alien merasa kehidupannya sebagai wanita sempurna. Tatkala dua BMW yang membawa keluarga Mad berhenti di depan rumahnya. Mereka adalah Mad, ayah-ibu dan sanak saudaranya. Melalui pernyataan seorang lelaki paruh baya berkopiah putih, berjas gelap, dan bersarung kotak-kotak, keluarga itu melamar Alien untuk dijadikan istri Mad. Dengan tangan terbuka, keluarga Alien menerima lamaran itu.

Malam pesta perkawinan Alien dan Mad sungguh meriah. Seluruh warga Karang Kabolotan menghadiri pesta itu. Mereka bersuka-cita sampai fajar. Namun beberapa bulan kemudian mereka tidak menyangka kalau rumah tangga Alien menjadi neraka. Menjelang kelahiran anaknya, Alien memilih dicerai Mad dari pada bercerai dengan penduduk Karang Kabolotan. Tak berair mata saat ditinggal Mad yang gagal mendapatkan dukungannya membangun real estate di sisa lahan petani.

Berita perceraian Alien dengan Mad membuat bangga seluruh warga. Hingga mereka menanggap Alien sebagai pahlawan. Bahkan tidak seorang pun yang tak mengibarkan bendera putih atas keguguran Alien pada perang sabil. Di mana keganasannya melampaui perang Baratayuda. Alien telah pergi ke alam keabadiannya saat melahirkan bayinya.

Langit berselimutkan awan pekat. Isyarat bahwa petaka bagi seluruh penduduk bakal segera tiba. Mad, lurah terbaru Karang Kabolotan itu berencana menyulap sisa lahan pertanian menjadi kawasan industri, real estate, dan pertokoan. Di tanah lapang, seluruh warga yang berkumpul melantangkan suara hatinya niscaya bakal senasib budak di tanah warisan leluhurnya sendiri.

Sanggar Gunung Gamping Indonesia, 21072008
________________
Catatan:
*) “Malaikat-malaikat kecil masih main bintang-bintang di langit. Apakah Alien telah terlelap dalam mimpi?”
“Nomer siapa?”
“Kau masih ingat pemilik 0274.662.3372?”
“Mad? Kabar angin, kau baru pulang dari negeri sebrang?”
“Benar. Ayah mnghndaki aku pulang. Mewarisi profesi ayahku sebagai developer. Selain meminta jawabanmu atas pernyataan cintaku 4 tahun silam. Selepas kita dari SMA. Apakah ebsok Alien punya waktu? Aku ingin ketemu.”

**) “Ya. Besok aku punya waktu. Dimana kita temuan, Mad?”
“Depan gerbang gedung sekolah SMA kita. Jam 2.”
“On time?” (Tepat waktu)
“On time. Good night.” (Ya. Selamat tidur).
“See u.” (Sampai nanti)