Dicari (Lagi): Kritikus Sastra Riau

Hary B. Kori’un
Riau Pos, 7 Nov 2010

SAYA berada di Ubud (Bali) ketika menyusun buku Sastra, Jati Diri, dan Kemiskinan Kreatif (Esai Pilihan Riau Pos 2010). Sebuah pekerjaan rutin yang harus diselesaikan secara mobile, karena keterbatasan waktu. Ketika teman-teman sesama penulis yang diundang ke Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2010 asyik berkelana mengikuti iven demi iven atau jalan-jalan keliling Bali di luar jadwal sebagai pembicara, saya harus berada di kamar hotel, berkutat dengan laptop. Sebab, menyelesaikan tiga buku dalam waktu hanya satu pekan, memang memerlukan energi lebih. Dan ketiga buku tersebut nyaris saja benar-benar gagal terbit ketika laptop saya jebol hardisk-nya di hari pertama. Untung saja cerpenis asal Lubuklinggau, Benny Arnas, dengan baik hati meminjamkan laptop-nya. Dan untungnya lagi, file-file naskah di-back-up dalam flashdisk, sehingga selamatlah semuanya.

Persoalan lainnya muncul ketika membaca file-file tersebut, ternyata penulis esai di Riau Pos dalam setahun ini didominasi oleh beberapa nama saja. Nama Dr Junaidi (FIB Unilak), Agus Sri Danardana (Balai Bahasa Riau), Musa Ismail (SMA 3 Bengkalis), Marhalim Zaini (AKMR/FIB UGM), dan UU Hamidy (kritikus senior) termasuk yang paling sering menulis esai budaya untuk Riau Pos. Di belakang mereka ada nama Riki Utomi (Selatpanjang), Joni Lis Efendi (FLP Riau), Gde Agung Lontar (sastrawan), Eko Sujadi (mahasiswa UIN Suska), Husnu Abadi (penyair senior Riau), dan kemudian beberapa penulis yang datang dari luar Riau seperti Esha Tegar Putra dan Romi Zarman (Padang), Aris Kurniawan dan Iwan Gunadi (Tangerang), Misran (Bandung), Suryadi (Leiden), atau Sunaryono Basuki Ks (Singaraja/Bali). Plus Masteven Romus (perupa), dan Samson Rambah Pasir (Batam), praktis, hanya nama-nama itulah yang karyanya dianggap “mewakili” untuk masuk dalam buku ini.

Kalau dilihat dari ketebalan buku yang mencapai 304 halaman, sebenarnya jumlah tersebut tak banyak karena beberapa penulis ada yang tulisannya lebih dari satu. Bahkan Junaidi, Agus Sri Danardana, Marhalim Zaini dan Musa Ismail, tulisannya mencapai 3-7 judul. Ini berbeda dengan dua buku sebelumnya, yakni Krisis Sastra Riau (2007) dan Sastra yang Gundah (2009) yang lebih beragam, baik dari sisi nama penulis maupun keragaman tema. Namun, sebagai sebuah buku yang akan menjadi pencatat sejarah sastra di Riau, tak ada masalah serius siapapun dan berapapun judul si penulis dalam buku tersebut. Yang mungkin agak menjadi sebuah pertanyaan (mungkin sudah klasik), adalah betapa Riau masih kekurangan orang-orang yang mau membaca karya sastra (budaya) dan menuliskannya kembali dalam bentuk kritik atau esai. Memang, belakangan ada Joni Lis dan Riki Utomi yang agak produktif di luar nama-nama lama yang masih mendominasi, tetapi tak diikuti oleh penulis yang lain. Munculnya nama Agus Sri Danardana, lumayan memberi warna di antara nama-nama lama yang jumlahnya sedikit itu.

Kondisi ini berbeda dengan membanjirnya penulis cerpen dan puisi –setidaknya yang masuk ke redaksi Riau Pos setiap pekannya. Jika dibandingkan dengan banyaknya buku sastra yang terbit di Riau atau secara nasional, jumlah ini sangat kecil, karena para penulis esai tersebut tidak semuanya menulis tentang telaah sastra, tetapi sangat beragam. Marhalim misalnya, selain menulis esai sastra, dia juga banyak mengulas tentang teater. Agus Sri Danardana juga banyak menulis tentang kebahasaan ketimbang sastra. Hal yang sama juga dilakukan oleh UU Hamidy, Junaidi, Musa Ismail, Joni Lis atau yang lainnya. Dari sekian nama tersebut, yang betul-betul datang dari dunia akademis hanya Junaidi, UU Hamidy, dan Sri Agus Danardana (jika Balai Bahasa boleh dianggap akademis). Yang lainnya, kebanyakan justru para penulis genre sastra sendiri: Marhalim, Musa, Riki, Gde Agung, Joni, Aris Kurniawan… (ini di luar nama Hasan Junus yang setiap pekan menulis di kolom sastra “Rampai” dan Yusmar Yusuf yang menulis kolom budaya “Perisa”).

Dulu, dalam beberapa tulisan, saya pernah “mempertanyakan” kalangan akademisi di Riau yang sepertinya enggan untuk “mengamalkan” ilmunya dengan menulis esai sastra dan budaya, padahal ada empat universitas di Riau yang sangat representatif karena memiliki fakultas/jurusan/program studi yang mengarah ke sana. Misalnya FKIP Unri, FIB Unilak, FKIP UIR dan UIN Suska. Akademisi dari perguruan tinggi yang tak memiliki fakultas yang berhubungan dengan sastra dan bahasa, bolehlah tak disebutkan dan tak memiliki “tanggung jawab” untuk itu, tetapi mereka yang tumbuh dan berkembang di sana, baik mahasiswa maupun pengajarnya, sebenarnya sangat mungkin untuk meluangkan waktunya membaca karya dan kemudian membuat kritik atau esai sederhana dengan jumlah karakter yang terbatas dan pendek.

Memang, menulis esai atau kritik berbeda dengan menulis karya fiksi. Harus memiliki waktu untuk membaca karya, memiliki pemahaman teori (meski sedikit), dan memahami filsafat (meski sedikit) untuk bisa “membaca” apa yang tersirat, dan pemahaman literatur lainnya di luar teks sastra. Hal itu perlu agar ketika mengulas sebuah karya tidak hanya membuat ringkasan cerita, tetapi juga bisa memberi bandingan dengan karya lainnya, punya literatur tentang sisi teoritisnya dan pemahaman kedalaman makna.

Buku ini, seperti buku yang diterbitkan Yayasan Sagang lainnya, diharapkan bisa memberi motivasi kepada para penulis esai/kritik untuk terus menulis, dan mengajak para penulis baru untuk mau terjun dalam genre yang satu ini, agar dunia sastra kita terus bergairah.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2010/11/dicari-lagi-kritikus-sastra-riau.html