Pisau Kembar Membedah Panji Tengkorak

Judul: Panji Tengkorak; Kebudayaan dalam Perbincangan
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Cetakan: 2011
Tebal: xx + 537 halaman
Peresensi: Adhitia Armitriant
http://suaramerdeka.com/

SELAMA ini, komik seperti kurang beroleh perhatian dari para peneliti. Buktinya, referensi mengenai karya seni yang memadukan gambar dengan tulisan ini amat minim. Padahal komik amat populer di masyarakat, terlebih pascaserbuan komik Jepang, alias manga, lebih dari satu dasa warsa silam.

Karena itulah, buku Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang berjudul Panji Tengkorak; Kebudayaan dalam Perbincangan ini menjadi penting. Sebab menurutnya, “Panji Tengkorak karya Hans Jaladara yang terhadapnya juga telah dilakukan adaptasi sebagai film layar lebar maupun serial televisi, sangat mungkin menunjukkan bagaimana kebudayaan berlangsung (hal 217).“ Desertasi itu, seperti yang dia tulis dalam abstraksi, bertujuan untuk mencari tahu dan mengungkap bagaimana proses kebudayaan berlangsung.

Ya, buku yang baru terbit bulan lalu ini, memang berasal dari desertasi SGA saat menempuh program doktoral di Universitas Indonesia. Seturut judul, SGA mengulas ihwal komik Panji Tengkorak yang oleh penciptanya, Hans Jaladara, dibuat hingga tiga kali, yakni pada 1968, 1985, dan 1996.

Tiga “periode“ Panji Tengkorak itulah yang dibedah oleh SGA menggunakan teori komik dan kajian budaya. Pisau kembar tersebut menurutnya tepat untuk menjelaskan tiga masa Panji Tengkorak. Dia menegaskan, angka-angka tanda gubahan tersebut tidak sekadar berhenti sebagai tengara tahun, namun juga penanda konteks sosial yang relevan dalam proses perubahan yang tengah berlangsung.

Oleh karena itu, ketiga komik Panji Tengkorak memiliki catatan yang berbeda, baik menyangkut unsur intrinsik maupun ekstrinsik. Untuk segi intrinsik, SGA secara gamblang menyusun perbandingan tiga penerbitan Panji Tengkorak dengan mengusung pecahan-pecahan komik tersebut.

Dia, misalnya, menunjukkan bagaimana Panji Tengkorak (1996) banyak dipengaruhi oleh teknik manga. Dan seolah tak mau terjebak dalam justifikasi yang asal, SGA juga menulis pengakuan Hans Jaladara yang bernama asli Liem Tjong Han atau Rianto Sukandi soal itu.

Komik dan Ideologi
Setidaknya ada lima topik yang diperbincangkan Seno dalam buku ini, yakni tentang orientasi visual, permainan kode, politik identitas, bias konstruksi gender, dan ketidakmapanan sistem yang dapat membawa perbincangan kepada kebudayaan sebagai situs perjuangan ideologi (hal. 239). Komik dan ideologi?

Ya, meski terkesan jauh, melalui kajian budaya, keduanya ternyata bisa didekatkan.

Salah satu yang diungkap SGA adalah menyangkut sang komikus sendiri. Dia ungkap kehidupan Hans Jaladara yang penuh drama. Rumah keluarganya di Kebumen, Jawa Tengah, harus ditinggal saat revolusi kemerdekaan. Karena rumah itu hangus terbakar, ia terpaksa hidup berpindah-pindah, mulai dari Yogyakarta, Semarang, hingga Jakarta.

Hans Jaladara patut disebut sebagai salah satu pelopor komik Indonesia. Meski telah berusia senja, dia masih terus berkarya. Komiknya yang berjudul Intan Perawan Rimba (2010) pernah dimuat di Suara Merdeka dengan judul Intan Permata Rimba antara tahun 2006-2009.

Lepas dari itu, pilihan Hans untuk tak memakai nama Tionghoa juga menunjukkan riwayat negeri ini, yang pernah (dan sangat mungkin masih) menerapkan diskriminasi bagi kelompok etnis tersebut.

Lebih lanjut SGA menegaskan, bahwa masalah identitas tidak hanya berelasi dengan nama, tapi juga karya. Identitas atau bentuk ekspresif identitas mereka akan sangat tertentukan oleh berbagai faktor determinan dalam kondisi sosial politik tempat mereka hidup (hal 244).

SGA membahas khusus tentang nama itu dalam epilog yang diberi judul Komikus dan Perubahan Zaman. Dia katakan, Panji Tengkorak 1968, 1985, dan 1996 bisa jadi merupakan perlawanan tak tersirat atas semangat pemasungan.

Seperti kita tahu, pada masa kekuasaan Orde Baru, lahir aturan yang sangat diskriminatif bagi masyarakat Tionghoa. Kehidupan mereka, termasuk produk seni-budayanya amat dibatasi.

Buku yang jumlah lampirannya lebih banyak ketimbang ulasan ini punya arti penting. Salah satunya untuk memacu kemunculan buku-buku serupa yang mengulas perihal komik.

Sebab, selain Hans Jaladara, negeri ini punya banyak komikus hebat. Mereka antara lain Ganes Th, RA Kosasih, Teguh Santosa, dan Jan Mintaraga. Karya-karya tersebut masih menunggu untuk dibedah dan dianalisis.

Meski acap dianggap sebagai perusak moral, komik sejatinya mengandung muatan ideologi. Keterwakilan ideologi dalam komik secara mudah ditemui pada setiap zaman. Saat revolusi kemerdekaan misalnya, ada komik yang bercerita tentang pentingnya meraih kemerdekaan. Begitu pun pada era 1960-an, ada sebagian komik yang menjadi alat propaganda kelompok tertentu.

30 Oktober 2011