Menulis dengan Pintu Tertutup, Membaca dengan Pintu Terbuka

Ramadhan Batubara
http://www.hariansumutpos.com/

Perpindahan atau pergantian pemimpin tentunya menjadi isu yang menarik. Pun dengan Indonesia, walau Pemilu masih cenderung lama, tetap saja kabar calon pemimpin baru merebak.

MAKA tak berlebihan ketika berbagai kalangan berspekulasi. Ada partai yang mencoba berkoalisi atau apapun istilahnya. Beberapa figur pun diusung, dielus-elus, hingga dipaksa-paksa untuk maju ke Pemilu. Apakah itu salah? Tentu, jawabnya tidak.

Proses ini, saya rasa, mirip dengan cara seorang pengarang untuk menyelesaikan sebuah cerpen. Ya, menghasilkan sebuah cerpen bagi beberapa penulis kan bisa hanya sekali duduk; menghadap komputer beberapa jam langsung selesai.

Namun, sesingkat-singkatnya pengarang menulis cerpen, tentu dia harus melalui prosespemilihan; memilihsegalahalyang termasuk dalam unsur cerita, baik tema, tokoh, latar, dan sebagainya.

Nah, ketika mulai duduk di hadapan komputer, dapat dipastikan kepala si pengarang bermain. Dia bekerja. Dia mengolah, memilah, dan memilih mana yang harus dia tuliskan. Saya pastikan, proses ini tidak gampang. Satu kata yang dituliskan, maka akan ada ribuan kata yang mengganggu. Ayolah, para pengarang — apalagi yang masih baru — sering mengalamihalini. Dengankatalain, gangguan dari pikiran awal memang sangat besar. Sederhananya, ketika seorang menulis kata ‘makan’, maka dalam kepalanyamunculkata‘ minum’,‘piring’, ‘sendok’,‘ mejamakan’, atau apasaja. Belumlagi muncul kata ‘nasi’, ‘lauk-pauk’, ‘sambal’, ‘kerupuk’, dan sebagainya. Lebih parahnya lagi, kata-kata yang kemudian muncul, ternyata membawa kata yang lain.

Misalnya kata ‘minum’ yang muncul setelah kata ‘makan’, dia berkembang menjadi ‘teh atau kopi’. Setelah itu, muncul lagi warung kopi. Nah, rencana mau cerita ‘makan’ di ruang makan di sebuah rumah sederhana, tiba-tiba berubah ke warung kopi. Hm, bagaimana dengan kata ‘piring’, ‘sendok’, ‘nasi’, ‘sambal’, dan lainnya itu? Inilah yang saya maksud soal proses pemilihan dalam menulis cerpen tadi.

Maka tidak berlebihan ketika Stephen King dalam bukunya yang bertajuk On Writing berkata: Ketika menulis, tutuplah pintu rapat-rapat. Namun, ketika membaca, bukalah pintu itu lebar-lebar. Maksudnya, seorang pengarang haruslah fokus, tidak terpengaruh pada apapun saat menulis. Tulis saja dan jangan terlalu menilai tulisan itu. Namun, ketika tulisan itu sudah selesai, bacalah dengan pandangan yang terbuka. Tampung kritik dan benahi tulisan itu hingga menjadi lebih baik. Kebanyakan dari kita, para pengarang, malah sebaliknya. Ya, kita menulis dengan pengaruh hebat dari luar. Namun, ketika selesai, kita membacanya dengan ego yang tinggi; sisi lain dari diri kita pun tak boleh mengkritik. heheheheh.

Prosessemacaminisayalihatmiripdengan isu memunculkan figur untuk Pemilu hanya sekadar dari ketokohan semata.

Maksudnya, karena sang tokoh dikenal, maka bukan haram bagi sebuah partai untuk memakainya. Padahal, sang tokoh bukan berasal dari partai yang dimaksud.

Hal ini bisa terus berubah, nanti suatu waktu ketika muncul tokoh yang lain, maka tokoh yang sudah dipilih langsung ditinggalkan. Ada pemilihan yang terus berganti karena pemilihan didasari pada rangsangan yang masuk ke kepala, persis dengan pola pemilihan unsur cerita tadi kan? Lalu, apa hubungannya dengan kalimat Stephen King? Hm, maksud saya begini, sebuah partai harus fokus dulu memilih tokoh yang mau dijadikan calon di Pemilu. Jangan tergoda dengan ketokohan atau janji tertentu. Setelah dipilih, maka sang partai mulailah membuka koalisi, menciptakan jaringan baru, mencari peluang, atau apapun istilah agar si calon bisa menang. Jadi, bukan saat akan memilih sudah sibuk berpikir macammacam.

Kembali soal proses menulis, ada juga karangan yang sudah selesai sebelum dituliskan. Biasanya hal ini dibantu dengan kerangka karangan; baik yang ada di kepala maupun yang nyata di atas kertas.

Cerpen yang memakai metode ini bisanya cenderung fokus. Tetapi, beberapa pengarang yang saya kenal malah tidak menyukai proses ini karena mirip dengan membuat makalahatau abstraksiseminar.

Tapi terserahlah, saya tidak membahas soal pilihan metode para pengarang. Yang saya bicarakan, proses dengan kerangka karangan ini kan mirip dengan kaderisasi sebuah partai. Jadi, dalam pemilihan calon untuk maju ke Pemilu, pastinya mereka akan memilih kader mereka sendiri.

Masalahnya, adakah kader mereka mumpuni? Sekali lagi, perpindahan atau pergantian pemimpin tentunya menjadi isu yang menarik. Selain soal memilih pemimpin yang baru, isu lainnya juga berkembang dengan pesat. Ya, ada semacam gosip hangat dalam proses pemilihan itu. Tidak usah di tingkat negara, di sebuah perusahaan kecil saja sudah sedemikian hebatnya cerita yang berkembang. Wah, mulai isu SARA hingga loyalitas pun jadi barang jualan yang laku. Lucunya, semua itu berkembang saat dalam proses pemilihan, bukan saat setelah dipilih. Ya, setelah ada pemimpin yangbaru, makasangpenebargosiptandingan akan lembek. Dia bisa saja berbalik arah dan mendukung sang pemimpin yang sebelumnya digosipkannya itu.

Fiuh… mungkinitusebabkoalisibisagagal.

Hm, saya jadi teringat ketika masih menulis dengan menggunakan mesin tik.

Di bawah meja saya banyak kertas yang saya sobek, dibuang karena cerpen tak berhasil. Ah… mungkinkah itu persis dengan koalisi yang gagal? Sudahlah…. (*)

18 December, 2011