Marina

Hasif Amini
Kompas, 07 April 2004

DI masa kanak ia pernah tersihir oleh satu lukisan yang terpasang di dinding kamar tidur ibunya: karya entah siapa, tentang sebuah duel yang baru usai. Seorang lelaki, terpuruk di dekat sederet pohon meranggas, dengan luka tembak di perut, hendak dipapah naik ke kereta es oleh dua rekannya; di kejauhan tampak siluet seorang lelaki lain tengah berjalan menjauh ke padang salju yang luas dan senyap.

LELAKI yang terluka itu adalah Alexander Pushkin-penyair termasyhur, “sang juru selamat kesusastraan Rusia”, dalam kata-kata tinggi Fyodor Dostoevsky. Pada petang 27 Januari 1837 itu si penyair kalah dalam duel bersenjata dengan seorang bangsawan Perancis yang beberapa kali ia pergoki mencoba merayu Natalya, istrinya.

Pushkin-yang semasa lajang juga terkenal sebagai pemburu lawan jenis, tak jarang istri orang-seakan terkena batu dari masa silamnya sendiri. Sebenarnya ia sudah berkali-kali terlibat dalam duel semacam itu. Namun, meski tak mahir amat memainkan senjata api, entah bagaimana ia selalu luput dari timah garang lawannya. Kali itu tidak. Dua hari kemudian, dalam usia 37, Pushkin melepaskan napas terakhirnya di apartemen tempat tinggalnya di St Petersburg, di tengah lalu lalang kunjungan duka para pengagumnya.

Kelak, bocah yang tersihir memandangi lukisan duel itu, Marina Tsvetaeva, menjadi seorang penyair terkemuka dan ia menulis: “Hal pertama yang kuketahui tentang Pushkin adalah bahwa ia mati terbunuh… dengan sebutir peluru bersarang di perutnya. Pada umur tiga tahun aku tahu dengan kepastian yang mutlak bahwa penyair punya perut dan kini, teringat para penyair yang pernah kujumpai, aku sering prihatin memikirkan perut mereka… sebagaimana aku memikirkan jiwa mereka. … Tembakan itu melukai perut kita semua.”

Kisah hidup Marina Tsvetaeva, salah satu penyair terbesar Rusia di abad ke-20, barangkali bisa membuat kata-kata yang dituliskannya itu tak lagi tampak ganjil dan berlebihan. Lahir pada 1892 di tengah sebuah keluarga terpelajar-ayahnya seorang profesor sejarah seni dan ibunya seorang pianis yang telah menikmati aplaus di panggung konser-ia menghabiskan masa kecilnya di sejumlah negeri di Eropa Barat.

Di sepanjang rantau itu ia sempat menyerap tiga bahasa asing: Italia, Perancis, dan Jerman-kelak ia menerjemahkan sejumlah karya sastra dari dan ke dalam bahasa-bahasa tersebut. Pada tahun 1908, ia belajar sejarah sastra di Universitas Sorbonne.

Sastra Rusia di masa itu tengah marak oleh sejumlah gerakan penciptaan yang bergairah. Simbolisme, seperti dalam karya Alexander Blok dan Andrei Bely, tiba dengan gelora imaji yang mendahsyat dan misterius serta sebentuk mistisisme yang hendak mengatasi batas-batas.

Akmeisme, sebagai reaksi terhadap kerumitan dan hiperbola kaum Simbolis, antara lain lewat lirik Osip Mandelstam dan Anna Akhmatova, berusaha mencapai puncak kejernihan dalam ekspresi-ekspresi sederhana, lugas, dan bernas. Sementara Futurisme, terutama melalui suara Vladimir Mayakovsky dan Velimir Khlebnikov, membuang segala yang datang dari masa lampau dan merayakan ingar-bingar waktu kini seraya mengharu biru tertib bahasa.

Tsvetaeva tak berada di lingkaran-lingkaran itu-walaupun belakangan ia cenderung dipandang sebagai semacam jembatan gaib yang menghubungkan mereka semua. Sejak awal ia memang mengagumi Blok, meski tak pernah bertemu dengannya, dan menulis serangkaian sajak panjang untuknya; ia bersahabat dengan Bely, juga dengan Akhmatova, bahkan pernah berpacaran dengan Mandelstam; namun ia (memilih maupun tidak) seakan terus menempuh rute tersendiri, yang sering sulit dan rumit-sesuatu yang tak pernah tampak pada mulanya.

Demikianlah, pada tahun 1910 terbit kumpulan puisi Tsvetaeva yang pertama, Album Malam. Maximilian Voloshin, seorang penyair dan kritikus, sangat terkesan membaca karya itu. Voloshin mengundang Tsvetaeva ke rumah peristirahatannya di Koktebel, dekat Laut Hitam, yang ia jadikan semacam tempat berkumpul para penulis dan seniman. Di tempat itulah ternyata si perempuan penyair bertemu dengan Sergei Efron, seorang kadet dari sekolah perwira, dan jatuh cinta. Mereka menikah pada tahun 1912.

Pasangan itu tinggal di Krimea, dan di sana lahir dua anak mereka, Alya dan Irina. Pada tahun 1917 Efron ditugaskan di Moskwa; Tsvetaeva dan kedua anaknya tinggal. Revolusi Bolshevik meletus. Efron bergabung dengan Tentara Putih pendukung Tsar. Tsvetaeva menyusul ke Moskwa, namun Efron ternyata tak lagi di sana. Tentara Merah Bolshevik telah mengganyang para pendukung Tsar.

Sementara itu, kelaparan merundung dan terus meluas di kota itu. Pada suatu hari di tahun 1919, Tsvetaeva menitipkan Irina, anak bungsunya yang baru berumur dua tahun, ke sebuah panti asuhan milik negara-yakin bahwa si bayi akan mendapat makanan dan perawatan yang lebih baik di sana. Setahun kemudian anak itu meninggal dunia. Tsvetaeva menulis: “Tuhan menghukum aku.”

Sekian tahun tak tentu rimbanya, pada tahun 1921 Efron tiba-tiba berkirim kabar: ia masih hidup di Berlin. Mei 1922, Tsvetaeva dan Alya menyusul ke sana. Di kota itu ia sempat menerbitkan beberapa karya yang ditulisnya di Moskwa. Beberapa bulan kemudian mereka bertiga pindah ke Praha dan hidup dari subsidi yang disediakan Pemerintah Ceko bagi para penulis dan seniman yang tinggal di negeri itu. Pada tahun 1925 mereka boyongan lagi ke Paris, kali ini menetap cukup lama: 14 tahun.

Di kota itu ternyata ia tak betah bergaul dengan kaum penulis eksil bekas borjuis asal Rusia. Mereka menganggap Tsvetaeva kurang anti-Soviet dan kritik-kritiknya terhadap rezim komunis dinilai kabur. Apalagi setelah ia menulis sepucuk surat yang menunjukkan kekaguman pada penyair Mayakovsky, yang ketika itu giat mencoba menggabungkan futurisme dengan haluan kiri. Tak ayal lagi, Tsvetaeva kian terkucil di negeri pengasingan itu.

Sementara itu, suaminya mulai merasa ingin pulang ke kampung halaman dan berangsur-angsur menambatkan simpati pada rezim Soviet, bahkan diam-diam bekerja untuk NKVD (cikal bakal KGB). Pada tahun 1937, Efron melarikan diri pulang ke Rusia; kepolisian Perancis menuduhnya terlibat dalam pembunuhan terhadap Ignaty Reyss, seorang pembelot dari Uni Soviet.

Tsvetaeva kembali sendirian, ia pun diasingkan oleh kalangan eksil Rusia di Paris; belum lagi ia harus menghadapi sejumlah interogasi tentang suaminya. Ia memberi jawaban-jawaban yang membingungkan, dan akhirnya malah membacakan terjemahan puisinya dalam bahasa Perancis. Ia dianggap tak waras dan tak tahu apa-apa.

Tahun 1939 ia pun pulang ke Moskwa bersama Georgy, anak lelakinya yang lahir di Paris. Tak lama kemudian terjadi sesuatu yang pahit lagi: Efron dan Alya ditangkap dengan tuduhan bekerja sebagai spion asing. Tunangan Alya ternyata seorang agen NKVD yang ditugaskan memata-matai keluarga itu. Sang ayah ditembak mati pada tahun 1941 dan anak perempuannya dibui lebih dari 8 tahun.

Ketika tentara Nazi Jerman merangsek Uni Soviet pada 1941, Tsvetaeva bersama Georgy akhirnya pergi (mungkin diungsikan) ke Yelabuga, sebuah kota kecil di Republik Tartar di wilayah Asia Tengah. Tanggal 31 Agustus 1941, di usia 49, dalam gelap dan putus asa, Tsvetaeva menggantung diri. Letak kuburannya tak diketahui.

Dalam autobiografinya, Boris Pasternak mengenangkan perkenalannya dengan Tsvetaeva di sebuah pertemuan kaum Futuris dan Simbolis di rumah seorang “penyair amatir” A: “Waktu itu saya tak sadar betapa kelak ia akan menjadi seorang penyair tanpa bandingan. Tetapi… secara naluriah saya segera membedakan ia dari yang lain karena kesahajaannya yang segera menarik perhatian.” Mungkin itu pula yang menarik perhatian Rainer Maria Rilke, hingga penyair besar Jerman itu dalam salah satu suratnya di tahun 1926 kepada Tsvetaeva-yang 17 tahun lebih muda darinya-mengaku: “Wahai penyair, sadarkah kau betapa engkau telah mencengkeramku… Aku mulai menulis seperti dirimu….” Adapun Joseph Brodsky, yang di masa mudanya pernah menjadi semacam murid Anna Akhmatova, di kemudian hari mengatakan bahwa Tsvetaeva “berdiri sendirian di tengah kesusastraan Rusia, tanpa pendahulu tanpa penerus”, seorang penyair dengan suara yang asing dan bahkan menakutkan bagi telinga Rusia: bahwa dunia sesungguhnya tak bisa diterima.

Dengan puisi-puisi yang merupakan perpaduan antara kejernihan dan gelora, cerlang hidup dan kelam maut, ketangkasan kepala dan kepolosan perut, Tsvetaeva seperti mengingatkan bahwa segenap ekstrem yang bertemu dalam proses penciptaan yang intens akan membangkitkan sebentuk tenaga dahsyat yang sanggup menopang dan mempertahankan dirinya sendiri.

Sebab, pada akhirnya Tsvetaeva menulis ternyata bukan untuk siapa-siapa. “Bukan untuk mereka yang berjuta-juta, bukan juga untuk seseorang, bukan pula untuk diriku”. Sebab, “Aku menulis untuk karya itu sendiri. Ia menuliskan dirinya lewat diriku.”

Dijumput dari: http://hasifamini.blogspot.com/2008/09/marina.html