Membaca Sastra dengan Hati

Judul : On literature, Aspek Kajian Sastra
Pengarang : J. Hillis Miller
Halaman : xii + 166 hlm
Penerbit : Jalasutra, Yogyakarta
Cetakan : Cetakan pertama Juni 2011
Peresensi : Muhamad Zubair Hasan *
http://www.malang-post.com/

Sastra mempunyai pengaruh yang sangat besar di kehidupan manusia. Sejak dulu sastra merupakan cara utama menanamkan pelbagai gagasan, ideologi, perilaku, dan penilaian kepada seseorang sesuai tujuan pencipta karya sastra. Sastra, oleh Plato, dianggap hal yang sangat berbahaya karena sifatnya yang dapat mengkontaminasi pembaca. Kekuatan sastra bisa mendorong seseorang menjadi sesuatu atau seseorang yang bukan dirinya.

Tetapi pengaruh sastra juga tidak bisa lepas dari peran pembaca. Seorang penikmat sastra tidak serta merta bisa menikmati secara penuh kandungan sastra. Sastra sangat berbeda dengan kitab suci agama yang berisi doktrin atau karya ilmiah yang bisa menambah pengetahuan seseorang. Teks-teks lain bisa dipahami dengan mudah, tapi tidak dengan sastra. Butuh seni tersendiri bagi orang yang ingin bisa secara penuh memahami sastra.

Buku On Literature merupakan satu dari sekian banyak buku yang menerangkan aspek kajian sastra. J. Hillis Miller, guru besar Kajian Sastra Bahasa Ingrris dan Sastra Banding di University of California di Irrine, melalui buku ini mengungkpakan kepada pembaca apa sebenarnya sastra itu? Bagaimana membaca sastra? Dan mengapa harus membaca karya sastra.

Buku ini diawali dengan kegelisahan Hillis tentang sastra cetak yang semakin terkikis oleh majunya teknologi audio visual, bahkan digital. Kebanyakan orang pun beralih dari budaya membaca pada kebiasaan mendengarkan radio, menonoton televisi, atau berselancar di internet. Karena itulah buku ini ada untuk mengingatkan pembaca pada pentingnya membaca terutama karya sastra.

Hillis menulis segala hal yang ia ketahui tentang sastra. Mulai dari yang ia pahami tentang apa itu sastra, berbagai pengaruh yang bisa muncul dengan membaca sastra, kenapa seseorang harus membaca karya sastra, sampai berbagai macam cara bagaimana seseorang bisa menyelami dalamnya makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra.

Syarat utama agar bisa memahami sastra adalah seseorang harus bisa memberikan seluruh pikiran, hati, perasaan, dan imajinasinya untuk mencipta ulang dunia yang diciptakan oleh untaian kata-kata. Tapi dalam menjelaskan hal itu, kelemahan yang dilakukan Hillis adalah ia lebih condong menerangkan bagaimana cara dia memahami karya sastra, yaitu dengan melakukan penciptaan ulang perspektif dirinya. Ia cenderung “memaksa” orang lain memahami sastra sesuai apa yang ia pahami. Ia tidak menjelaskan dasar pemahaman secara umum sehingga bisa diaplikasikan oleh banyak orang.

Buku ini pada dasarnya bukan hanya teori tentang bagaimana membaca sastra. walaupun tanpa ada unsur kesengajaan, Hiller juga memberikan cara-cara bagaimana membuat sebuah sastra yang baik. Seperti ketika ia menjelaskan tentang bagaimana kalimat pertama sastra disebut gerbang menuju realitas maya dan buku The Swiss Family Robinson yang membuatanya bisa menciptakan dunia baru dalam dirinya sesuai apa yang ditulis dalam buku tersebut.

Hal itu secara tidak langsung memberi tahu pembaca bahwa pembuka kalimat dalam sebuah karya sastra sangat penting bagi sastrawan agar pembaca langsung terpikat, terbawa, dan tak akan berhenti membaca sampai akhir. Juga memberitahu bahwa sastra yang baik adalah sastra yang bisa membuat seseorang bisa membuat dunia yang sama dengan dunia yang dibayangkan oleh penulis.

*) Muhamad Zubair Hasan, Penggiat Idea Studies IAIN Walisongo, Semarang. /24 Maret 2012