Hormati Arwah Orang Mati, Mengapa?

Yohanes Sehandi *
Flores Pos, 16 Jan 2020

Salah satu tradisi sakral turun-temurun dari nenek moyang yang kita warisi dengan baik sampai dengan saat ini adalah tradisi menghormati arwah orang mati atau roh para leluhur. Tradisi ini cukup menonjol dalam ritus-ritus agama tradisional (biasa disebut agama asli, agama lokal, atau aliran kepercayaan). Bahkan salah satu pusat kepercayaan agama tradisional adalah kekuatan arwah orang mati yang diyakini masih hidup dalam bentuk lain di “dunia seberang.” Tradisi dan kepercayaan seperti ini masih dipraktikkan di berbagai etnis dan suku bangsa di dunia, terutama di Asia, Afrika, Amerika Latin, Melanesia, dan Australia (suku Aborigin). Di Indonesia, termasuk di Flores, tradisi dan kepercayaan kepada arwah orang mati ini masih dipegang teguh sampai kini.

Pada waktu agama-agama modern (impor) masuk Indonesia, termasuk agama Katolik, tradisi penghormatan kepada arwah orang mati ini sedikit terganggu karena dinilai para misionaris Katolik yang berasal dari Barat sebagai praktik keagamaan yang sia-sia bahkan dicap sebagai praktik berhala yang bertentangan dengan ajaran Katolik. Baru dalam dua dekade terakhir, agama-agama modern, terutama Katolik, menyadari akan kekeliruannya. Kini praktik menghormati arwah orang mati digali, dipelajari secara serius, dan diberi muatan baru dari pandangan teologi Katolik.

Gereja Kristen Protestan sampai kini masih memandang praktik penghormatan kepada arwah atau roh orang mati sebagai praktik keagamaan sia-sia atau praktik penyembahan berhala, karena dinilai sebagai batu sandungan bagi Injil Yesus Kristus. Sebaliknya, gereja Kristen Katolik bersikap lebih toleran terhadap praktik kesalehan religius ini, meskipun sampai pada batas-batas tertentu, agar tidak dinilai sebagai praktik beragama ganda atau kewargaan ganda dalam iman.

Ada kenyataan yang tak dapat disangkal bahwa ada sebagian bahkan sebagian besar masyarakat kita di Flores atau di NTT atau di Indonesia pada umumnya, yang menyatakan telah meninggalkan agama tradisional dan menganut agama modern, seperti agama Katolik, Protestan, dan Islam, namun, secara pribadi dan diam-diam di belakang layar mempraktikkan ritus-ritus menghormati roh para leluhurnya. Yang menarik, meskipun agama tradisional ini selama beratus-ratus tahun berada dalam tekanan agama-agama modern, namun agama asli atau aliran kepercayaan ini sanggup menunjukkan daya hidupnya yang kuat dan selamat dari tekanan agama-agama modern dan tekanan kekuatan sosial lainnya.

Buku Bukan Berhala!

Salah satu buku secara khusus membahas secara mendalam dengan pendasaran kuat dari segi teologi Katolik terhadap penghormatan kepada arwah orang mati atau roh para leluhur ini adalah buku berjudul Bukan Berhala!: Penghormatan kepada Roh Orang Meninggal karya Alex Jebadu, seorang pastor Katolik yang kini menjadi dosen di STFK Ledalero, Maumere. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Ledalero, Maumere, cetakan pertama 2009, cetakan kedua 2018. Tebal buku xiii +391 halaman. Pengantar (Prolog) buku ditulis oleh Paul Budi Kleden, SVD, seorang teolog Katolik kelahiran Waibalun, Flores Timur, kini menjadi Superior General SVD (Pembesar SVD Sejagat). Tulisan ini berisi ulasan dan apresiasi atas buku Alex Jebadu itu yang merupakan pengembangan atas tesisnya di Universitas Kepausan Gregoriana, Roma, Italia, tahun 2006.

Judul asli tesis sebelum dikembangkan menjadi buku adalah “Practical Theology of Ancestral Veneration: Propositions for Asian-African Church Ministry Today” (2006). Kajian ini masuk dalam kategori studi agama-agama tradisional dengan penekanan pada hakikat kultus penghormatan kepada roh-roh orang yang meninggal dunia. Edisi bahasa Inggris buku ini berjudul Far From Being Idolatrous: Ancestor Veneration (terjemahan Indonesianya: “Sama Sekali Bukan Berhala: Penghormatan kepada Roh Leluhur”) diterbitkan oleh Penerbit Steyler Verlag Nettetal, Germany, tahun 2010. Edisi bahasa Inggris telah diresensi atau dibahas oleh sejumlah pakar teologi di berbagai jurnal bergengsi tingkat dunia.

Mengapa kita menghormati arwah orang mati? Menurut penulis buku ini, sekurang-kurangnya ada dua kebenaran mendasar yang melandasinya. Pertama, kepercayaan akan adanya kehidupan baru sesudah kematian badan. Kehidupan baru yang kekal dan damai itu disebut surga. Kepercayaan ini tidak hanya milik agama-agama tradisonal, tetapi juga pada hampir semua agama modern. Seandainya tidak ada kepercayaan akan kehidupan baru setelah kematian, maka yang dikejar orang beragama yang bernama surga itu, adalah sia-sia belaka. Kedua, kepercayaan akan eksistensi Tuhan atau Allah sebagai sumber penjamin tunggal dari segala kehidupan manusia, baik kehidupan sementara di dunia ini, maupun kehidupan kekal sesudah kematian.

Bagaimana kini pandangan Gereja Katolik terhadap arwah orang mati? Dalam Pengantar (Prolog) buku ini (halaman v-vi), Paul Budi Kleden, menyatakan, teologi Katolik memungkinkan refleksi teologis atas praktik penghormatan terhadap arwah atau roh para leluhur, karena teologi Katolik mengenal praktik dan mempunyai pendasaran teologis bagi penghormatan terhadap nenek moyang dalam iman, yakni penghormatan terhadap para kudus. Orang-orang kudus adalah tokoh-tokoh yang memiliki kualitas kepribadian tertentu, dipandang sebagai pancaran kebaikan Allah di tengah dunia. Mereka menjadi model keberimanan dalam sejarah. Penghormatan roh para leluhur mengungkapkan keyakinan adanya relasi antara masa lalu dengan masa sekarang.

Secara keseluruhan buku Bukan Berhala karya Alex Jebadu kelahiran Rego, Manggarai Barat, Flores, ini disusun dengan tiga target utama yang ingin dicapai (lihat halaman 5-6). Pertama, untuk mempresentasikan fenomena keagamaan dalam bentuk penghormatan kepada leluhur dan perannya yang masih sangat penting dalam hidup orang-orang Kristen di benua Asia dan Afrika, juga di Amerika Latin, Melanesia, dan Australia. Kedua, untuk membangun sebuah dasar teologis mengenai mengapa penghormatan kepada roh-roh para leluhur tidak bertentangan dengan iman Kristen Katolik, dan karena itu praktik keagamaan seperti ini tidak perlu dilarang apalagi dimusnahkan. Sebaliknya, ia harus dirangkul sebagai bagian dari praktik kesalehan agama Katolik. Ketiga, untuk menyusun sebuah teologi praktis dan pedoman pastoral untuk orang-orang Katolik di Asia dan Afrika, juga di Amerika Latin, Melanesia, dan Australia, guna mengintegrasikan kesalehan keagamaan tradisional ke dalam doa dan kebaktian agama Katolik.

Religiositas Dasar

Kultus menghormati arwah orang mati atau roh para leluhur merupakan religiositas dasar dari agama-agama, baik agama tradisional maupun agama modern. Praktik religius ini bukan merupakan sebuah agama dalam dirinya sendiri, tetapi merupakan salah satu aspek dari sebuah sistem keagamaan yang kompleks. Dalam kultus penghormatan ini, arwah atau roh para leluhur tidak diperlakukan sebagai Tuhan atau Allah atau Wujud Tertinggi atau Ralitas Terakhir, tetapi diyakini sebagai penghubung antara Tuhan dengan anggota keluarga yang masih hidup di dunia.

Di bagian akhir ulasan ini, saya ingin memberi masukan untuk penyempurnaan buku ini dari segi penggunaan istilah. Kalau bisa, sebaiknya menggunakan kata atau istilah “arwah” untuk menyebut roh orang mati atau roh para leluhur, bukan kata “jiwa” sebagaimana tertulis dalam buku ini. Istilah jiwa melekat pada raga/badan orang yang masih hidup. Begitu orang mati, jiwanya terpisah dari badan, jiwanya berganti nama menjadi arwah dalam bahasa Indonesia, sedangkan badannya berganti nama menjadi mayat atau jenazah dalam bahasa Indonesia.

Yang kita doakan adalah untuk keselamatan arwah, bukan untuk keselamatan jiwa. Hal lain yang sejajar adalah: misa arwah, lagu arwah, doa untuk arwah; bukan misa jiwa, lagu jiwa, doa untuk jiwa.
***

_______________
*) Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI),
Universitas Flores, Ende.
http://yohanessehandi.blogspot.com/2020/01/hormati-arwah-orang-mati-mengapa.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *