Menyangsikan Kesungguhan Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan (I)

Mempertanyakan cara penulisan Alur Alun Tanjidor, A.H. J Khuzaini

Nurel Javissyarqi *

I
Sebelum tanggal 12 Desember 2019, pria kelahiran Gresik yang kini menjadi warga Lamongan, A.H. J Khuzaini S.Hum., M. Pd. (Djennar), mendapat penghargaan atas buku terbarunya. Semalamnya, saya sudah peroleh beberapa lembar foto isi bukunya “Alur Alun Tanjidor” (AAT) yang dikirimkan Rakai. Sastrawan asli Gresik, Rakai Lukman, kurang-lebih menganggap penulis awalnya berupa hasil skripsi, menjadi sederajat asisten saja. Maka, sejauh apakah keterlibatan Djennar atas skripsinya Immaroh?

Djennar, setelah saya tag lewat paragraf (status fb) di atas, berkomentar: “Tinggal nunggu waktu diberi kesempatan saja sih. Ass itu. Asal Skripsi. Roudlotul Immaroh juga undanglah.” Jadi, istilah Ass bukanlah dimaksud asisten, tetapi “Asal Skripsi,” sembari membandingkan singkatan lain pada komentarnya berikut: “PBB. Perserikatan bangsa-bangsa. Partai bulan bintang. Persiapan baris berbaris. Hahah.” Sholihul Huda menanggapi dengan komentar: “Sekarang berbicara tentang istilah Ass, pembelaan saudara Djenar yg mengatakan Ass tersebut singkatan dari Asal Skripsi, hanya mengada-ada dari upaya membela diri, karena terdesak (alibi apapun yg dia katakan saya tidak percaya). Pada salah satu kesempatan di warkop pasar, karanggeneng (menjelang saya pulang ke Blora pada Bulan Juli 2019), mengatakan kepada saya bahwa asistennya adalah orang yang namanya tercantum dalam skripsi di atas, jadi Ass itu saya pertegas singkatan dari asisten (ada niat dibalik penggunaan kata singkatan ini, tujuannya memang agar pembaca menganggap itu singkatan dari asisten, untuk menjaga wibawa) salam tabik.”

Sebelum merantak jauh, saya anggap kegiatan yang dilakoni Djennar merupakan langkah terindah, kalau tak boleh dibilang perbuatan mulia. Karena tengah menyelamatkan hasil penelitian seseorang, dengan ditampilkannya berupa buku yang dapat dinikmati masyarakat lebih luas. Kita tahu, banyaklah prodak penelitian; apakah skripsi, tesis, disertasi, dan karya ilmiah lain yang ujung takdirnya mengenaskan sebagai barang kertas kiloan, meski ada sebagian diselamatkan pasar dan atau toko buku loak (bekas/murah). Namun, apakah yang dijalani Djennar termasuk jenis perbuatan menyerupai perangai menjiplak? Dan penulis pertama berkedudukan sebagai asisten? Apakah tidak terbalik, Djennar berkedudukan asisten daripada penulis skripsinya? Dalam salah komentar, Djennar mengatakan: “Artinya buku ini ditulis dua orang. Tapi nggak tau, kok saya yang dipanggil Perpustakaan Daerah.” M. Lutfi menanggapi: “Alhamdulillah, Kak Djenar dapat penghargaan atas kesabarannya nggarap buku hasil penelitian Skripsi.” Djennar dengan kerendahan hati ganjil menjawab: “Cuma ikut meluaskan hasil penelitiannya. Penulisannya bagus. Sayang, kalau tidak disebarluaskan melalui buku. Penghargaan mungkin bonus.” Di sini bukan mempersoalan siapa yang peroleh penghargaan. Namun, pencantuman nama penulis skripsi tertera Ass, itulah yang diperbincangkan.

Kita patut hargai perjuangan Djennar menjelmakan skripsi dijadikannya buku, tengok dua komentarnya berikut: 1. “Yang sungguh benar membantu ialah pegiat tanjidor itu sendiri. Setelah seniman memahami niat saya. Dia menyuruh saya menginap. Ada persoalan lain yang sebenarnya pingin saya utarakan terkait bagaimana buku ini ditulis. Tapi rasanya kurang elok di kolom komentar ini.” 2. “Judule opo ya. Antara skripsi bagus yang sayang gak disebarluaskan jadi buku. Antara pesanan perpustakaan daerah yang butuh dokumentasi kearifan lokal dan memberi uang lelah 1 juta rupiah.. Meski jauh dari kata cukup. Saya habis lebih dari 5 juta. Antara saya yang menganggap kesenian tanjidor sungguh hebat. Embuh man.”

II
Karena belum pegang bukunya, maka masih berupa potongan paragraf dari pepecahan komentar Djennar di status fb. Ada karya yang mulanya berangkat dari skripsi, lalu ditangan orang lain disulap menjelma novel atas nama novelisnya, ada yang berupa catatan sejarah dirombak jadi kisah penuh filosofis, ada pula yang digalinya lewat pengetahuan psikologi, dan pelbagai ragamnya. Kita mengetahui kisah Faust lebih tenar oleh Goethe, padahal riwayat tokoh protagonis dari legenda Jerman klasik tersebut berdasarkan tokoh sejarah Johann Georg Faust (1480–1540). Dan lakon Faust telah menjelma dasar-dasar keilmuan; karya susastra, artistik, sinematik, musikal; prosa, sandiwara, opera, ballet, film, musik klasik dan rupa-rupa lukisan. Di Indonesia, Hikayat Malin Kundang telah menjadi daya kreativitas para pengarang, ada yang dirupai landasan pemikiran filosofis, dileburnya dalam puisi, pula ditulis ulang oleh banyak sastrawan. Demikian juga perjuangan Pangeran Diponegoro, selain sang pahlawan mencatatnya sendiri riwayatnya berupa Babat, banyak jua terhayut menulis sejarahnya berupa novel, puisi, hingga seni rupa. Ini barangkali watak insan selalu belajar dalam kehidupannya, menyerapi segenap kandungan luhur temuan para leluhur demi tegaknya nilai kemanusiaan, makna kata bagi penjaga ingatan jaman dalam melawan virus lupa atau kesilapan. Hanya yang patut diperhatikan, bagaimana sikap pengarang penghadapi kisah, riwayat, karya seseorang, atau mendudukkan dirinya secara layak penuh pekerti, agar tidak timbul anggapan kurang baik, atau bisa mengurangi mentalitas kejujurannya dalam berkarya.

Sebab belum baca bukunya pula, kemarin saya bertanya kepada Rakai; “Apakah bahan yang diambil dari skripsi, masuk di satu bab buku ataukah keseluruhan?” Makanya, saya bersikeras meminta segera difotokan covernya, dan seperti ungkapan Rakai; buku “Alur Alun Tanjidor di Desa Lembor – Brondong – Lamongan (1952-2019),” berawal dari hasil skripsi yang berjudul “Sejarah Perkembangan Kesenian Tanjidor di Desa Lembor, Brondong, Lamongan, Jawa Timur,” yang dikeluarkan Fakultas Adab dan Humaniora di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya tahun 2017, atas nama Roudlotul Immaroh, Nim: A02213085. Djennar pun mengunggah lampiran foto isi buku, sambil berkomentar: “Artinya buku ini ditulis 2 orang kan Cak Sholihul Huda? Atau ada pendapat lain.” Di lembaran itu tertanda A.H Jenar Khuzaini, dibawanya (ass) Roudlotul Immaroh. Di sini cukup terbukalah bersikap, meskipun menaruh penulis pertama sebagai asisten (ass), yang bagi Djennar, istilah Ass bukanlah asisten, tapi “asal skripsi,” atau pada mulanya dari skripsi. Ini dapat dimaklumi, lantaran juga meneruskan penelitian itu dengan menemui para seniman tanjidor, sejenis mendata ulang yang dibaca, demi peroleh gambaran mendalam, mencari kabar terbaru dari tenggang waktu, tahun 2017 ke 2019.

Dan tekat yang dilayarinya mengambil bola atas pesanan Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan yang membutuhkan dokumentasi kearifan lokal dengan memberikan uang lelah 1 Juta Rupiah, yang dirasanya tidak cukup, sebab penelitiannya menghabiskan 5 Juta Rupiah lebih. Mungkin, yang terbersit di batinnya keinginan kuat mengabarkan pada khalayak umum, bahwa seni tanjidor juga bertumbuh di Lamongan (LA). Memang, saya pernah dengar adanya anggaran penulisan buku berupa dokumentasi khazanah kearifan lokal, dan soal kesanggupan Perpusda membeli 10 eksemplar buku setiap judulnya, seperti buku-buku lain yang terlahir dari para penulis LA. Ini timbul lantaran usulan saya saat Temu Penulis LA pertama, agar tidak hanya membeli buku terbitan luar saja, yang mulanya ditanggapi berasa keberatan dengan alasan keterbatasan anggaran. Dan saya tidak tahu persis jumlah buku yang sudah dibeli Perpusda atas karya putra-putri daerahnya, yang dimulai sekitar pertengahan tahun 2019.

III
Temu Penulis Lamongan Tahun 2018, itulah judul pertemuan para penulis awal yang saya ikuti, hari Rabo 18 Juli 2018 di Aula Cendekia, Dinas Perpustakaan Daerah LA, dengan mantab menghadirkan pembicara Mustakim, SS. M.SI. Waktu itu, pemateri mendongeng kesuksesan dirinya menjadi penulis sampai mampu beli rumah, mobil, dan entah apalagi. Tentu atas kebesarannya, kan peroleh pesangon berjuta-juta, logikanya begitu. Atau bisa jadi tak mau terima bayaran, lantaran berjihad menularkan keberhasilannya kepada para hadirin, sekitar 50 penulis yang datang. Dalam acara tersebut, setiap peserta peroleh uang jalan Rp. 100.000,- . Pada kesempatan itu pula, pihak Perpusda kisahkan beberapa jumlah anggarannya, tapi informasinya terkira ada keganjilan, makanya sepulang acara, saya membikin catatan di status fb. Namun terhenti setelah ngopi bareng di sudut kota bersama Alang, Herry, Syarif, Zehan, dan entah siapa lagi saya belum akrab, tertanggal 23 Juli 2018, intinya memberikan saran, agar tidak membuka kemungkinan buruk dari dalam, dan adanya upaya halus tidak bersikap keras demi kelanggengan arus literasi dengan dinas terkait. Karena penasaran, saya berjalan menuju pelukis Jumartono ditemani Zehan, setelah agak reda, pulanglah sambil membaca lagi corak peta karakter berkesenian di LA. Di waktu kesempatan lain, bersama Rodli TL berkunjung ke Perpusda untuk menawarkan acara bedah buku saya MMKI, barangkali rupa terhanyut gula-gula manis pemakaian gedung tanpa pungutan biaya. Namun, tanggal bulan yang sudah disepakati, diganti kegiatan lain tanpa pemberitahuan lebih dulu, mungkin penggantinya dari penulis yang sudah kaliber Nasional, dibandingkan saya.

Temu Penulis LA pertama membahas kemungkinan dihadirkannya wesbsite, di samping menentukan nama forum. Maka, ketika Temu Penulis LA ke 2 hari Rabu 31 Oktober 2018, melaunching Program Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) di tempat yang sama. Saya tidak hadiri di events tersebut, mungkin ada kegiatan lain yang sulit ditinggalkan, atau kecewa, sebab acara yang telah terjadwal gagal begitu mudah tanpa pekabaran, pun bisa jadi malu, seolah mengambil uang jalan semata. Menurut kabar dari Kanalindonesia.com, jumlah pesertanya 40 penulis. Di jalur whatsapp, Perpusda pernah membuat grup khusus para penulis LA, dan saya menyinggung gagalnya acara saya hingga grup WA sepi, lalu di hari lain Alang membuat grup WA FP2L, tapi tak lama kemudian saya keluar. Jadi, pekabaran temu penulis berlanjut terperolah dari facebook juga website, dikarena rajin memposting tulisan pula kegiatan kesusastraan di Lamongan serta kota-kota lain untuk mengisi blog-blog saya kelola. Temu Penulis Lamongan III (saya tuliskan berangka Romawi sesuai pamfletnya, yang berarti tidak sama dengan sebelumnya, bertulis angka 2), Kamis 25 April 2019. Di bannernya terpampang beberapa wajah penulis LA, rupa saya pun ada, tapi tak bisa datang oleh benturan kegiatan lain. Namun, bagi para penggerak dunia tulis-menulis pastilah tahu bukan sebab itu. Temu Penulis Lamongan IV, hari Kamis 12 Desember 2019, saya tak hendak datang juga, yang diantara kegiatannya memberikan penghargaan pada buku Alur Alun Tanjidor. Ke empat kali acara tersebut dilangsungkan di tempat yang sama, semacam ‘seng nduwe gawe’ Perpusda LA.

Bersambung…
http://sastra-indonesia.com/2020/01/menyangsikan-kesungguhan-dinas-perpustakaan-daerah-lamongan-ii/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *