TERMINAL ROGOJAMPI

Taufiq Wr. Hidayat *

Apa yang dikenang dari sebuah terminal? Di situ ada peristiwa. Juga usia. Ingatan yang tak sempat difoto, dilukis, dicatat, dimonumenkan. Ia tersimpan dalam ingatan yang samar.

Awal 1980-an, terminal Rogojampi cukup ramai. Angkutan dari kota kabupaten datang dan pergi. Bis memasuki terminal, menanti penumpang yang akan memasuki perutnya. Ada angkutan dari pelosok desa Pakel, mobil-mobil kumuh itu pulang-pergi mengantar barang dan orang ke terminal, “mobil pakelan” kata orang.

Bagi Jostein Gaarder—dalam “Sophie’s World” (Phoenix House, London, 1991), dunia ini bagaikan seekor kelinci yang dikeluarkan secara ajaib dari topi seorang pesulap. Begitu mantra “bimsalabim” diucapkan, kelinci muncul dari topi pesulap itu. Dunia seolah diciptakan bagai sulapan. Banyak yang sesungguhnya menipu di dunia ini. Apa yang tampak tak sebagaimana yang dapat dipikirkan. Dan manusia adalah makhluk mikroskopis yang berada dalam belantara bulu-bulu kelinci. Sebagian hanya tinggal di dalam belantara bulu-bulu halus kelinci itu, sebagian lagi berusaha memanjat helai-helai bulu kelinci tersebut untuk menyadari dirinya dan mencari tahu gerangan apa semua ini. Johan Huizinga menahbiskan perihal fenomena utama kebudayaan manusia, bahwa sesungguhnya manusia adalah “homo ludens”, yakni makhluk pemain. Makhluk yang gemar bermain-main dalam suatu permainan atau dalam permainan-permainan yang telah diciptakannya sendiri. Bahkan perang. Kalau tak mau dikatakan perang adalah permainan—barangkali bagi Huizinga, ia adalah permainan yang serius. Hasrat bermain-main itu kiranya, membuat tak banyak orang sadar, sesungguhnya ia bagian dari permainan agung semesta raya. Ada permainan di dalam permainan.

Dan ingatan. Segalanya terjadi lantaran ingatan melekat dalam diri manusia.

Tapi apa yang dikenang dari terminal Rogojampi itu? Apakah nasib buruk dan keterasingan adalah permainan? Bagian dari permainan kekuasaan manusia ataukah permainan semesta? Jika hidup ini memang permainan, tapi manusia tak mau dipermainkan atau dijadikan bahan hiburan, kata Iwan Fals dalam “Manusia Setengah Dewa”nya yang mashur. Dan Tuhan tentu bukan tukang sulap—sebagaimana dalam novel Jostein Gaarder, yang mengeluarkan terminal Rogojampi dari topi sang pesulap. Di situ ada ingatan yang tak selalu penting diabadikan dengan tanda, selalu bercerita dalam desah. Meja-meja pudar, warung kopi yang tak terawat, bangku-bangku tunggu yang kehitaman karena dipoles waktu, perempuan malam yang tubuhnya mulai renta digerus usia. Tahun 1980-an, di situ ada tivi hitam-putih, pohon tua, pom bensin. Bis dari arah selatan Banyuwangi menurun-naikkan penumpang di stasiun kereta api dan terminal Rogojampi. Entah siapa, bersama kopor dan tas yang berat, dari mana dan hendak ke mana. Hidup bagai hanya perjalanan demi perjalanan yang tak pernah selesai. Manusia membayar hidup dengan segalanya, rela atau terpaksa, bahkan nyawa dan harga dirinya. Betapa agungnya hidup.

Ada pasar sapi, tempat penjagalan hewan di timur jalan, toko sepatu, pasar yang ramai meski saat gerimis petang hari, tatkala ribuan burung seriti kedinginan di kabel-kabel listrik. Apa yang sebenarnya tersimpan di lubuk deritamu? Ceritakanlah, ujar seseorang, entah siapa. Butiran gerimis yang terkena lampu jalan berkilau bagai ribuan butir permata yang ditaburkan begitu ringan dari udara. Terminal itu sendiri setelah ditinggalkan para penumpang dan para penghuninya tertidur di bangku-bangku lusuh itu.

Waktu telah bergegas, kini terminal Rogojampi masih saja berdenyut, begitu pelan, peyot, dan renta. Entah cerita perihal apa saja yang tersimpan di lubuknya, perihal kehilangan dan peristiwa-peristiwa kecil yang tak mungkin dicatat dalam buku sejarah di sekolah-sekolah. Sudah tak ada Tivi hitam-putih di situ. Tapi bangku-bangku panjang yang tua, tetap setia ditiduri—entah siapa, yang barangkali tak pernah berpikir perihal rumah dan pulang. Menjilati gelap malam, dan dilena impian.

Tetapi di manakah harapan? Kehidupan di terminal tak pernah bertanya tentang harapan. Bukan tak punya harapan. Karena hidup memang tak pernah berharap dalam segala harap. Menertawakan kekalahan, menertawakan kehidupan. Kalau begitu, apa benar mereka telah kalah?

Penderitaan—konon, tak kenal status. Mereka yang terlantar dan tersisih dengan mereka yang kuat dan melimpah sama-sama menangis jika tetusuk kepedihan, atau tertawa kalau dipeluk kebahagiaan. Tapi, siapa yang paling berat di antara keduanya? Ukuran inilah—saya rasa, yang menjadi alasan siapa sebenarnya yang jatuh dan siapa yang jaya. Orang yang melimpah dapat merasa haus di ruang ber-AC, tapi kehausan itu tak setara rasa haus buruh di panas aspalan yang mematangkan kepala.

Ada keniscayaan perihal ingatan. Ia membentuk rangkaian peristiwa yang berbeda, tapi dari sumber yang sama: waktu.

Seseorang mengenang kegemilangan masa lalu, ia hendak mengulanginya hari ini. Ia pun tertekan oleh kehendaknya pada sebuah nostalgia yang gombal. Seseorang mengalami kehancuran masa lalu, hingga tak berani mengingatnya lagi. Ia pun melupakan kenangan kehancuran itu. Segala kebajikan menjadi tidak utuh lantaran kehendak dan ingatan terhadap masa lalu terbagi antara yang harus diingat dan yang harus dilupakan. Yang diingat akan terus-menerus diabadikan dengan monumen-monumen dingin dan berdebu. Yang dilupakan terus-menerus mengendap dalam ingatan yang kelam, diam-diam membentuk sikap ganjil, tak wajar, dan “mbulet” untuk dijelaskan.

Jika keharusan yang harus diingat dan yang harus dilupakan itu menjadi ingatan kolektif masyarakat, ia menjelma beban-beban sejarah yang tidak gampang diuraikan tanpa kejujuran, kelapangan, keadilan.

Dan di terminal Rogojampi, aku kembali meneguk secangkir kopi. Sembari mengenangkan masa kecil, buah-buah semangka, dan sebatang pohon kelor yang tua.

Rogojampi, 2020

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *