PEROKOK, DERMAWAN YANG TERTAWAN


Awalludin GD Mualif

Ada orang bijak mengatakan, bahwa; “Orang jahat ialah orang yang sangat senang mengambil keuntungan dari orang yang tak pernah dia untungkan sama sekali.” Waduh, boleh juga nasihat ini.

Salah satu penyumbang kas negara terbesar adalah para perokok. Nggak baen-baen perokok bersedekah 153 T di tahun 2018, dan menempatkan para pemiliknya di deretan orang terkaya di negeri ini. Artinya, dengan pemasukan sebesar gajah bengkak tersebut, para perokok memiliki andil penting dalam mensejahterakan orang dan pembangunan negeri, walau pun hidup mereka tertatih-tatih.

Konyolnya, negara terus-menerus menghajar para perokok dengan menaikkan cukai seenak udelnya, seraya dengan deras mengkampanyekan bahaya merokok, yang bisa menyebabkan impotensi, kanker, serangan jantung, dan sampai penempatan visual yang menakutkan di setiap bungkus rokoknya. Belum lagi fatwa-fatwa ruwet para pendukungnya, dari praktisi “kesehatan” juga “agamawan,” yang membuat perokok makin tersudut di ujung malam tak kunjung terang. “Sungguh terlalu;” kata Bang Haji Rhoma, hehe…

Bukankah jika demikian, negeri ini dibangun di atas kesakitan para penduduk negerinya? Lewat tangis seorang yatim/piatu yang ditinggal ke surga oleh ayah/ibunya yang mati, karena serangan jantung atau kanker. Lewat kesedihan para pejantan yang tak lagi jantan di hadapan perempuan pujaan. Lewat keringat petani tembakau dan karyawan pabrik, yang tak kunjung dapat jaminan kesejahteraan, bukan!?? Duh, tegel banget rek-rek.

Membuntung-buntungkan yang memberi untung itu apa ya namanya? Mbok dalam mengelola negeri, yang tongkat dan batu saja bisa jadi tanaman, serta dialiri kolam susu yang melimpah, jangan main-main apalagi kok bercanda, mbok yang serius sedikit, sedikit aja… Bisakan!!??

Negara ingin rakyatnya sehat sejahtera apa pundi emas-(pejabat)-nya bertingkat-tingkat toh? Jika serius ingin rakyatnya sehat, sekalian seluruh industri rokok beserta segala aspek pendukungnya dimatikan, jika sudah haqqul yakin rokok membahayakan, urusan selesai. Meski saya yakin, keberanian itu tak dimiliki negara. Sebab negara sadar betul, dengan mematikan industri rokok, negara akan terserang penyakit jantung, karena difisit kas untuk operasional kenegaraannya. Tiba-tiba terserang kanker akut alias kantong kering, dan tak sanggup menggaji aparaturnya, ditambah lagi terserang impotensi, sehingga tak bisa melakukan penetrasi pembangunan serta ejakulasi dini di hadapan Ibu Pertiwi.

Saya jadi teringat diskusi rutinan Ngaji Dewa Ruci beberapa waktu lalu di Pesantren Kaliopak saat mendatangkan Kang Gugun El-Guyanie, ketika menyoal hubungan “tembakau dan negara.” Di antara poin penting yang pemateri sampaikan pada kesempatan tersebut; negara belum serius terhadap seluruh elemen yang terkait dengan industri tembakau (rokok), kecuali hanya pada cukai/pajaknya. Kedua, belum ada mekanisme hukum yang melindungi apalagi menguntungkan bagi perokok, yang notabene penyumbang kas negara terbesar, kecuali peraturan yang menakut-nakuti.

Ketiga, uang hasil cukai-cukai rokok, banyak digunakan membangun infrastruktur di dunia kesehatan dan pendidikan; rumah sakit, kampus, rumah peribadatan, dll. Maka dari itu, jadi perokok sesungguhnya menjadi dermawan yang tertawan di negeri ini kawan-kawan.

Salam Kopi Hitam, 3/3/2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *