KIAI SEMAR DAN LIMA EKOR ANJING


(Gambar Instagram @_infocegatansolo, dari dream.co.id)
Taufiq Wr. Hidayat *

Menurut orang bijak, kearifan adalah puncaknya pengetahuan. Kebahagiaan bergantung pada siapa orang, lantaran setiap orang punya kebahagiaannya masing-masing. Ia personal. Seperti keimanan. Tak ada jenis kebahagiaan yang permanen, katanya. Entah siapa orang bijak itu. Kata dia, harapan yang sakit adalah sembuh. Sedangkan yang sembuh, tak ingin sakit. Apalah gunanya kekayaan, jika badan berpenyakit. Itu kata dokter. Lain lagi orang, lain lagi pandangannya. Apalah gunanya sebuah buku bagus bagi orang yang buta huruf, atau orang yang tidak mau membaca, yang pikirannya pintas, praktis, dan picik. Apa artinya dokumen-dokumen penting dalam bentuk kertas bagi seorang penjual kertas selain dijual kiloan. Apa yang diduga, tak sepenuhnya benar. Tetapi tanpa dugaan, alangkah cerobohnya hidup ini.

Maka baiknya, kisah dari Republik Karangkadempel di dunia Pewayangan Jawa ini, kita kunyah pelan-pelan.

Sahdan!

Gareng tergopoh-gopoh. Dia langsung nyelonong masuk ke rumah Petruk. Petruk tidak di dalam rumah. Gareng ke belakang. Dia melihat Petruk sibuk dengan pekerjaannya, membuat meja-kursi kayu yang indah. Gareng langsung membentak. “Gawat, Truk! Bapak sakit! Ya. Romo Semar tergolek sakit di pesarehannya. Parah. Kritis. Sekarat. Apa pun namanya. Pokoknya kita harus segera!”

Petruk memandang sebentar ke arah Gareng. Dia tidak berkata apa-apa. Petruk melanjutkan pekerjaannya, menghaluskan meja.

“Truk! Apa kamu tidak dengar? Tidak punya telinga? Bapak sakit!” kata Gareng lagi.

Petruk diam saja, segala persoalan segawat apa pun memang tak pernah menjadi gawat di hadapan Petruk.

“Apa?” jawab Petruk singkat sambil terus bekerja.

“Jebol tenan telingamu, Truk! Bapak sakit! Betul-betul sakit. Tidak main-main. Tidak pura-pura sakit.”

“Paling masuk angin.”

“Ini tidak main-main, Truk. Bapak benar-benar sakit. Dan sakitnya Romo Semar Bodronoyo adalah kejadian yang akan menggemparkan negeri ini. Buka lebar-lebar telingamu! Atau apa perlu aku buka pakai linggis? Punya otak apa tidak? Pakai kepala apa dengkul? Diam saja. Mana perdulimu? Mau jadi anak durhaka?”

Petruk diam saja. Tenang. Dia berjalan ke dapur rumahnya. Gareng duduk di tempat kerja Petruk. Petruk keluar lagi membawa sepiring pisang goreng hangat. Melihat adiknya membawa pisang goreng, Gareng menghaluskan nada suaranya.

“Begini lho, Truk. Maksudku datang ke sini tak lain memberitahumu bahwa Bapak sedang sakit. Kukira parah lho, Truk, sakitnya itu. Kita sebagai putra-putranya, seyogianya menjenguknya segera, mengajak dokter ahli,” kata Gareng sambil mengambil dua potong pisang goreng dan mengunyahnya cepat-cepat.

“Aaah,” Petruk mendesah pelan. Sambil mengunyah, Gareng mengambil tiga potong pisang goreng lagi dari piring, lalu melanjutkan pemaparannya. Petruk sigap, dia segera menjauhkan piring pisang goreng dari hadapan Gareng. Petruk yakin, jika dia sampai terlena pada paparan filosofis kakaknya, maka pisang goreng akan moksa tanpa bekas tanpa disadarinya. Sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, Petruk menjauhkan piring pisang goreng dari jangkauan tangan Gareng. Gareng melirik piring pisang goreng itu, pura-pura memantapkan pandangannya ke wajah Petruk, di mulutnya terkunyah dua potong pisang goreng, di kedua tangannya masih tercengkeram kuat-kuat tiga potong pisang goreng hangat. Sambil menggigit pisang goreng yang pasrah dalam cengkeramannya, Gareng melanjutkan uraiannya.

“Adalah sangat menggemparkan peristiwa sakitnya romo kita, Truk. Kita tahu, kesaktian Bapak tak ada tandingannya. Seluruh dewa dan ksatria di penjuru jagat raya tanpa kecuali takut padanya dan menaruh rasa hormat serta takzim yang mendalam. Semua makhluk hidup di jagat raya ini, gak berani bertingkah di hadapannya. Menggemparkan karena beliau ternyata bisa sakit. Bakteri atau virus apa yang berani-beraninya masuk ke dalam tubuhnya yang luhur dan suci? Kamu tahu, Truk, usia bapak memang sudah tua. Itulah yang mengkhawatirkan. Saya khawatir, kamu juga wajib ikut khawatir sebagai putranya, negeri ini khawatir, seluruh rakyat khawatir, seluruh makhluk khawatir, segala dewa khawatir, segala ksatria khawatir, keculi…” Gareng terhenti, “air, Truk! Keseretan tenggorokanku.”

Petruk menuang segelas air dari kendi, disodorkannya. Dengan terburu, Gareng segera menghabiskan segelas air.

“Lega, Truk. Bagi rokokmu, Truk,” kata Gareng.

Petruk memberi rokok. Gareng menyalakan rokok, mengepulkan asap. “Kembali pada pembahasan tadi. Sampai di mana tadi, Truk?”

“Kecuali,” jawab Petruk.

“Lhaaa.. Iyaaa.. Kecuali para pejabat dan penguasa. Mereka berpura-pura khawatir terhadap sakit yang sekarang diderita Bapak. Bagong sudah menyampaikan kepadaku secara tegas melalui WA tadi malam, bahwa para pejabat, penguasa, dan pemegang modal cuma berpura-pura khawatir pada sakit yang diderita Romo Semar Bodronoyo dengan mengeluarkan statemen-statemen murahan di media massa berisi perhatian-perhatian munafik yang menjijikkan. Mereka sebenarnya berharap agar Bapak lekas masuk kuburan, supaya mereka bebas melakukan kebejatan demi kebejatan terhadap rakyat. Itu terkutuk, Truk! Mereka harus kita hadapi!” Gareng mengepalkan tangan, lalu batuk-batuk.

“Air, Truk! Air!” ujarnya.

Dengan tenang, Petruk menyodorkan segelas air lagi. Petruk sempat melihat kedua mata Gareng melirik pisang goreng. Gawat, pikir Petruk. Pelan-pelan Petruk menyembunyikan pisang goreng di belakang tempat duduknya. Gareng makin berkobar.

“Bagong sudah menghubungi dokter ahli. Dan siang ini kita segera menjenguk Bapak. Bapak harus sembuh, tidak boleh sakit, apalagi mati seperti harapan para penjahat negara itu. Negeri ini akan menjadi jahiliyah, gelap, dan celaka jika Bapak sampai pergi meninggalkan kita menghadap Sang Hyang Maha Tunggal, ayahanda yang selalu dia rindu-rindukan itu. Itu tidak boleh terjadi! Kamu harus paham, Truk!”

“Jika masih kau lanjutkan pidato filsafatmu itu, Bapak akan cepat wafat walaupun sebenarnya belum waktunya wafat. Ayo kita hubungi Bagong, kita jenguk romo bersama dokter ahli,” ujar Petruk.

“Mulut sumur! Ayo lekas kita ke padepokan. Bapak sakit, beliau sendirian, beliau butuh teman untuk ini-itu,” kata Gareng.

“Tenang, Reng! Tidak perlu ribut seperti monyet. Kita tunggu dulu dokter di sini,” jawab Bagong.

“Tapi di padepokan bapak sendirian,” ujar Petruk.

“Siapa bilang? Di pedepokan telah berkumpul para pejabat, penguasa, pengusaha, orang kaya, para dewa dan ksatria. Mereka diam-diam berharap agar Semar tua bangka itu cepat masuk liang lahat. Alias modar bin mampus,” ujar Bagong.

“Ingat, Gong! Tak satu pun makhluk, semulia apa pun di alam semesta ini, yang bisa masuk ke ruang pesarehan bapak. Seekor semut pun tak berani masuk karena pancaran kewibawaan Romo Semar Bodronoyo, dewa segala dewa, begawan segala begawan. Ruang kamar pribadi Romo Semar hanya bisa dimasuki oleh kita bertiga,” bantah Gareng.

“Sudah, Reng! Jangan ribut, mulutmu bau! Tua bangka itu sudah ada yang mendampingi di kamar pribadinya. Tadi malam aku disuruh pulang oleh si wudel bodhong itu,” timpal Bagong.

“Siapa, Gong?” Gareng dan Petruk hampir bersamaan.

“Lima ekor anjing selokan,” jawab Bagong.

“Edan kamu, Gong! Anjing kau biarkan menjaga bapak yang sakit?” ujar Gareng.

“Memang tahu apa kamu soal anjing, Gong?”

“Dari dulu, anjing ya anjing, siapa bilang monyet. Binatang yang bernama anjing selokan tidak pantas mendampingi Bapak yang bersih dan suci, Gong!”

“Anjing ya anjing, siapa bilang kamu anjing! Apa kamu anjing, Reng? Biar saja, itu mau-mau Semar kok. Aku tidak tahu dari mana datangnya anjing selokan kudisan itu. Tapi, anjing itu diizinkan Semar. Ah! Semar-semar, tua bangka pakai acara sakit segala, pelihara anjing lagi. Anjing sinting!” Bagong menghempaskan puntung rokoknya.

“Tapi, sudahlah. Ayo kita ke padepokan Bapak, kita tunggu dokter di situ,” kata Petruk.

“Petruk! Apa kupingmu kesumpal batu? Sudah aku bilang, dokter ditunggu di sini. Kalau gak mau, kalian berdua saja ke padepokan. Kalau Semar sekarat, baru kalian kabari aku,” jawab Bagong.

“Bagong! Mulutmu memang mulut monyet! Bicara yang sopan!” timpal Gareng.

“Mulutmu mulut kakus!”

“Apa, Gong? Aku robek mulutmu?”

“Ayo kalau berani! Mau aku mutilasi tanganmu yang bengkok?”

“Kurang ajar!”

“Dengkulmu!”

“Sudah-sudah. Kalau kalian perang tanding, romo malah makin parah, dan dunia bisa kiamat!” lerai Petruk.
***

Sementara di padepokan Kiai Semar Bodronoyo dipenuhi para petinggi, ksatria, dewa, dan konglomerat. Mereka memasang wajah cemas atas sakit Kiai Semar. Namun tak seorang pun yang bisa masuk ke kamar pribadi Kiai Semar, kecuali lima ekor anjing selokan. Para politisi sibuk berspekulasi. Beberapa petinggi berkali-kali menghubungi WA Bagong karena Kiai Semar berpesan bahwa urusan kesehatannya diurus Bagong dibantu Petruk dan Gareng. Tapi Hp Bagong tidak aktif. Media massa berjubel di halaman padepokan.

Tak lama, ketiga putra Kiai Semar tiba di padepokan bersama dokter ahli. Atas izin Kiai Semar, dokter bisa memasuki ruang kamar Kiai Semar. Tampak Kiai Semar terbaring, matanya menyala. Lima ekor anjing selokan di lantai. Gareng kurang nyaman dengan lima ekor anjing itu. Petruk berdiri. Bagong mengepulkan rokok.

“Bagaimana, Dokter?” tanya Gareng.

“Gawat! Kita segera merujuk beliau ke rumah sakit,” jawab Dokter.

“Segera, Truk!” ujar Gareng.

Dokter diizinkan keluar dari kamar Kiai Semar. Di luar, dokter dicegat kerumunan media massa untuk wawancara. Para petinggi sibuk pula bertanya. Semua pertanyaan kecemasan tentang sakit Kiai Semar. Tapi di hati para petinggi diam-diam berharap Kiai Semar lekas mati.

Petruk, Gareng, dan Bagong bersiap membawa Kiai Semar ke Rumah Sakit. Tapi tiba-tiba Kiai Semar bangkit dan duduk.

“Tidak usah ke mana-mana,” dawuh Kiai Semar.

“Ya sudah, Mar! Kumpul anjing sana!” sergah Bagong.

“Mulutmu, Gong!” kata Gareng.

Siapa berani membantah jika Kiai Semar tidak berkenan, maka tak satu pun makhluk berani.

Kiai Semar pun dawuh.

“Saya tidak sakit. Tidak perlu repot memahamiku. Tubuhku yang begini, ini bukan Semar. Tubuh ini hanya pantulan dan perlambang hakikatku. Kamu Bagong, Petruk, Gareng, aku adalah kalian, orang semua. Aku ini wujud nurani kalian semua. Kalau aku sakit, sebenarnya yang sakit adalah kesadaran dan daya hidupmu. Bukan aku. Aku ada di dalam gerakmu. Bagaimana aku merasa sembuh jika kalian semua tidak pernah bersungguh-sungguh mengobati sakit kesadaran dan daya hidup kalian sendiri? Kalian tidak pernah menjadikanku sebagai teladan hidup dan budaya. Sehingga kalian hanya mencemaskan aku sebagai wadag yang kalian anggap sakit dan tua ini. Kamu semua butuh pemimpin dan teladan, perintis sejati. Tapi tidak ada! Nol puthul. Sehingga tiap gerak rintisan kau hina, gejala kepemimpinan kau musuhi, gairah kecil adanya keinginan untuk baik justru kalian tertawakan. Kalian bersikap sakit. Kalian telah sakit sebelum sakit benar-benar kalian alami. Sejatinya yang kalian tertawakan adalah gelora suci di lubuk hati kalian sendiri. Aku tidak sakit! Kalianlah yang sakit! Lebih baik anjing berhati manusia daripada manusia berhati anjing! Ayo keluar! Obati diri kalian sendiri!” Kiai Semar melemparkan sandalnya ke muka ketiga anaknya itu.

Jagat pun gempar!

Tembokrejo, 2020

_______________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *